Author: Zahra Qomara Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Erna Fitrini Proofreader: Ratih Soe Origin: Gayo

Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes.

“Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang.

Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka.

“Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan menemani Ayah ketika bersedih?” tanya Puteri Pukes dengan tatapan sayu. Matanya sudah lama sembab sebab beberapa hari setelah pesta pernikahannya usai, dia malah banyak menangis.

“Dan siapa yang akan mengajakku bercerita tentang alam, gunung-gunung, dan hutan?” ujar Puteri Pukes lagi dengan wajah merengut.

“Anakku, engkau sudah dewasa dan menjadi istri orang. Tidak seharusnya engkau mengucapkan kata-kata itu. Kata-katamu sangat tidak enak didengar, apalagi kalau suamimu yang mendengarnya.”

“Bu, bagaimana kalau aku merindukan Ibu? Bagaimana kalau aku ingin bertemu Ayah? Jarak Samar Kilang ke Nosar ini sangat jauh. Kita harus melintasi pegunungan, sungai, danau, bahkan hutan dan semak-belukar!” Air mata Puteri Pukes mulai meleleh. Sedih rasanya harus meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya, hanya karena menikah.

Namun, tak dapat ditolak, hari perpisahan antara Puteri Pukes dengan kedua orangtuanya pun terjadi.

”Kalau engkau sudah meninggalkan kampung ini, jangan pernah menoleh ke belakang, anakku. Supaya engkau tidak terbayang-bayang wajah ibu dan ayahmu. Kami sudah ikhlas melepasmu. Berbahagialah engkau bersama suamimu,” kata ibu Puteri Pukes sambil memeluk dan mencium pipi puterinya itu.

“Pergilah, Nak. Ikutilah kehendak dan nasihat suamimu,” kata ayah Puteri Pukes sambil memeluk Puteri Pukes yang mulai menangis lagi.

Menurut adat Gayo, seorang istri memang wajib mengabdi kepada suami dan keluarganya, serta membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

Puteri Pukes akhirnya meninggalkan rumah dan kedua orangtuanya dengan perasaan hancur. Suaminya sudah berusaha menuntun tangannya, tetapi Puteri Pukes menolak. Dia masih ingin menikmati pemandangan kampung halamannya untuk terakhir kali.

Puteri Pukes berjalan amat pelan. Setelah agak jauh dari rumah, dia berharap masih bisa melihat wajah ibu dan ayahnya untuk terakhir kali. Puteri Pukes lupa akan nasihat ibunya. Dia pun menoleh ke belakang. Sungguh dia tak pernah membayangkan akibat perbuatannya.

Serta merta langit menjadi gelap gulita. Awan bergulung-gulung seperti hendak runtuh. Petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kuat. Hujan turun dengan lebat. Rombongan Puteri Pukes, suaminya, dan para pengawal pun berlindung di dalam sebuah gua.

Beberapa waktu kemudian, hujan mulai reda. Pengawal hendak memanggil puteri Pukes untuk bersiap-siap meneruskan perjalanan. Namun, pengawal itu terkejut bukan kepalang. Dia segera tergopoh-gopoh mendekati suami Puteri Pukes.

“Tuan! Tuan! Puteri Pukes tidak dapat bergerak, Tuan! Puteri Pukes menjadi batu!” seru pengawal itu.

“Apa?” Suami Puteri Pukes terkejut. Dia mendatangi istrinya yang berteduh agak jauh di dalam gua.

Benar saja. Di hadapannya tidak ada lagi Puteri Pukes. Yang ada hanyalah seonggok batu yang menyerupai tubuh Puteri Pukes yang sedang menangis. Kedua mata patung itu benar-benar mengeluarkan air. Lama kelamaan air itu membentuk sebuah danau yang sangat luas, yang kemudian disebut Danau Laut Tawar.

Hingga kini patung Puteri Pukes masih ada di sebuah gua yang disebut juga sebagai Gua Pukes. Sesekali patung itu akan menangis, mengeluarkan air seperti air mata. Mungkinkah Puteri Pukes dikutuk menjadi patung karena tidak mendengar kata-kata ibunya? Ah, seandainya patung Puteri Pukes itu bisa bicara dan bukan hanya menangis, mungkin kita akan tahu jawabannya.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply