Author: Aira Arsitha Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Maman Mantox Translator: Maharani Aulia Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Kalimantan Timur

Dahulu Kala, di daerah Muara Kaman, Kalimantan Timur, tersebutlah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang putri yang cantik jelita.Putri itu bernama Putri Aji Bedarah Putih.

Nama Putri Aji Bedarah Putih dikarenakan warna kulitnya yang sangat putih. Saking putihnya kulit sang Putri, ketika ia makan sirih dan menelan airnya, tampaklah warna merah air sirih itu mengalir di tenggorokannya.

Di kerajaan tersebut, Putri Aji Bedarah Putih dikenal sebagai seorang pemimpin yang cerdas dan bijaksana. Kerajaan yang dipimpinnya pun sangatlah makmur. Tak heran jika masyarakat di daerah Muara Kaman pada waktu itu, hidup dengan rukun dan damai.

Suatu hari, tersiar kabar bahwa seorang raja dari Cina akan datang berkunjung ke kerajaan Putri Aji Bedarah Putih. Raja Cina tertarik dengan kecantikan sang putri yang terkenal hingga ke berbagai negeri. Raja Cina tersebut berniat melamar Putri Aji Bedarah Putih.

Kedatangan Raja Cina bersama bala tentaranya dengan menggunakan jung-jung (perahu-perahu) besar, disambut dengan ramah oleh sang Putri. Kemudian digelar acara jamuan makan yang menyajikan berbagai macam hidangan yang sangat lezat.

Namun, tanpa sepengetahuan sang Raja, rupanya acara jamuan makan yang diberikan oleh Putri Aji Bedarah Putih adalah sebuah cara yang digunakan Putri untuk menguji sang Raja. Putri ingin mengetahui bagaimana adab dan kesopanan Raja saat acara jamuan makan bersama itu.

Di tengah acara, Putri pun mulai memperhatikancara makan Raja Cina. Dan betapa terkejutnya sang Putri ketika ia melihatcara makan Raja Cina itu. Sang Raja ternyata tidak makan dengan menggunakan tangan, melainkan langsung dengan mulut seperti cara makan seekor hewan. Putri pun merasa tersinggung karena dirinya tidak dihormati oleh sang Raja yang makan dengan cara yang tidak sopan.

Sang Putri yang sudah merasa jijik dan tersinggung akhirnya langsung menolak lamaran Raja Cina tersebut.

“Maafkan hamba Raja Cina. Betapa hinanya seorang Putri berjodoh dengan manusia yang makannya menyesap seperti seekor hewan,” kata Putri Aji Bedarah Putih.

Rupanya, ucapan penolakan dari Putri itu membuat Raja Cina marah. Ia merasa ditolak sekaligus dihina oleh sang Putri. Karena itu, Raja Cina pun bergegas kembali ke Jung-jung nya dan mengerahkan pasukan untuk menyerang kerajaan Putri Aji Bedarah Putih.

Pasukan yang dimiliki Raja Cina ternyata sangat kuat dan hebat. Tentara Putri Aji Bedarah Putih tidak dapat menahan serangan tersebut. Akibatnya, banyak anggota pasukan Putri yanggugur dan terluka. Mengetahui hal itu, Putri Aji Bedarah Putih merasa sedih dan kebingungan. Putri pun berusaha mencari cara untuk dapat mengalahkan Raja Cina dan pasukannya itu.

Di tengah rasa putus asanya, sang Putri pun teringat bahwa tidak ada kekuatan yang lebih hebat dari kekuatan Tuhan, Sang Pencipta seluruh umat manusia. Sang Putri pun berdoa memohon perlindungan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kerajaannya tidak dihancurkan oleh Raja Cina dan bala tentaranya.

Setelah berdoa, Putri memakan sirih sambil berkata, “kalau benar aku ini keturunan Raja sakti, maka jadikanlah sepah-sepah sirihku ini menjadi lipan-lipan yang dapat mengalahkan Raja Cina dan pasukannya.”

Selesai berkata demikian, sang Putri pun menyemburkan sepah-sepah sirih itu dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah terjadi. Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, dalam sekejap mata, sepah-sepah sirih itu pun berubah menjadi beribu-ribu lipan yang besar-besar. Lipan-lipan itu kemudian menyerang Raja Cina dan pasukannya. Secara perlahan, pasukan-pasukan Raja Cina pun mulai dapat dikalahkan.

Melihat hal itu, Raja Cina akhirnya memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Jung-jung dan menyelamatkan diri. Setelah kejadian itu, Putri Aji Bedarah Putih menghilang secara misterius. Laut tempat jung-jung Raja Cina pun mendangkal dan berubah menjadi daratan dengan padang yang luas. Daratan itulah yang akhirnya diberi nama Danau Lipan. Hingga kini, daerah itu masih ada di wilayah Muara Kaman, Kalimantan Timur.

Catatan :
*Lipan, sering juga disebut kelabang adalah hewan berbisa yang bertubuh panjang seperti cacing dan memiliki kaki yang banyak.

***

This post is also available in English

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply