Author: Kalya Innovie Editor: Aan Wulandari Illustrator: Maman Mantox Translator: Maharani Aulia Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Jawa Timur
K

ayangan geger. Sesuatu telah menyebabkan guncangan. Seperti gempa. Petir menyambar, halilintar menggelegar. Saling bergantian.

Bila dilihat dari kayangan, ada benda besar dari bumi yang terus naik ke atas. Puncaknya nyaris menyentuh batas kerajaan kayangan.

“Astaga, apa gerangan yang terjadi?” Bidadari Biru bertanya-tanya sendiri sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Bidadari Biru, lekaslah. Batara Guru memanggil kita!” seru Bidadari Kuning memanggilnya.

Bidadari Biru buru-buru menuju aula kerajaan kayangan. Di sana berkumpul para dewa. Batara Guru, sang pimpinan dewa, tampak berpikir keras. Bidadari Biru bergabung bersama enam bidadari lainnya.

“Telah terjadi kekacauan di kayangan karena ulah Pangeran Arjuna,” jelas Batara Guru.

Rupanya Pangeran Arjuna sedang bertapa di lereng sebuah gunung, untuk menambah kesaktian. Kekhusyukannya dalam bersemadi, menyebabkan munculnya sinar menyilaukan dari tubuhnya. Kesaktian Pangeran Arjuna juga menyebabkan gunung tempatnya bertapa terangkat naik hingga mendekati batas kayangan.

“Aku sudah menyuruhnya berhenti bertapa, tapi ia tak mau mendengarku!” Batara Guru gusar.

“Apa yang harus kami lakukan, Batara Guru?”

“Kita harus menghentikan semadi Pangeran Arjuna. Kalian tujuh bidadari, turunlah ke bumi. Menarilah di depan Pangeran Arjuna, untuk membuyarkan konsentrasinya!”

Tujuh bidadari bergegas melaksanakan tugas. Turun ke bumi dan mulai menari di depan Pangeran Arjuna yang sedang bertapa. Tarian bidadari sangat indah. Tidak seperti tarian orang biasa. Andai ada manusia yang melihat, pasti kagum. Namun yang terjadi, Pangeran Arjuna bergeming. Tak terpengaruh sedikitpun. Tekadnya kuat untuk menambah kesaktian. Bahkan teguran Batara Guru diabaikannya.

“Bagaimana ini? Kita sudah lama menari tapi ia tetap diam tak bergerak,” gerutu Bidadari Merah kesal.

“Sebaiknya kita pulang saja,” ucap Bidadari Biru.

Tujuh bidadari kembali ke kayangan sambil tertunduk malu karena gagal dalam tugas.

Batara Guru tak habis akal. Ia mengirim makhluk halus berwujud menyeramkan, untuk menakut-nakuti Pangeran Arjuna. Namun, upaya itu juga tak berhasil menggoyahkan sang pangeran.

Upaya terakhir Batara Guru, adalah meminta bantuan dari Batara Semar. Batara Semar adalah seorang dewa yang menjelma menjadi manusia dan tinggal di bumi. Ia mengasuh Pangeran Arjuna dan empat saudara Pangeran Arjuna yang lain sejak kecil. Tentunya Batara Semar punya kiat khusus untuk membangunkan Pangeran Arjuna.

“Semoga, Batara Semar dapat menunaikan tugasnya dengan baik,” doa Bidadari Biru, yang sangat prihatin dengan adanya masalah ini.

Batara Semar meminta bantuan Batara Togog. Batara Togog juga seorang dewa yang tinggal di bumi. Mereka segera menuju gunung tempat Pangeran Arjuna bersemadi. Setelah berembug, mereka berdua lalu ikut bersemadi tak jauh dari Pangeran Arjuna.

Karena kedua dewa tersebut juga sakti mandraguna, tak lama mereka berdua membesar, hingga sebesar gunung. Mereka berdiri di sisi gunung tempat Pangeran Arjuna bertapa. Dengan kekuatan penuh, mereka mencoba memotong puncak gunung yang sudah hampir menyentuh kayangan.

“Ayo, Gog. Iki diuncalke wae, jalaran mbebayani. Ayo, Gog. Ini dilemparkan saja karena membahayakan,” begitu kata Batara Semar dalam bahasa Jawa. Potongan puncak gunung itu mereka lemparkan hingga menimbulkan suara berdebam keras, gemuruh, memekakkan telinga.

Penghuni kayangan yang melihat semua peristiwa dari langit, berseru kagum dan juga lega. Untuk sementara mereka terhindar dari bahaya diseruduk puncak gunung. Bidadari Biru bersyukur, lalu kembali mengamati apa yang terjadi selanjutnya.

“Suara apa itu?” seru Pangeran Arjuna yang terbangun dari semadinya. Batara Semar dan Batara Togog yang sudah kembali ke ukuran normal, mendekati Pangeran Arjuna.

“Maaf, Pangeran Arjuna,” ujar Batara Semar.

“Pertapaan Ananda, apabila diteruskan, akan menyebabkan malapetaka. Lebih baik Ananda berhenti.”

Pangeran Arjuna memandang di kejauhan, tampak puncak gunung telah berdiri sendiri menjadi sebuah gunung yang utuh. Seketika Pangeran Arjuna menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf pada Batara Semar dan Batara Togog. Ia juga minta maaf pada Batara Guru dan semua penghuni kayangan.

Bertahun-tahun kemudian, Bidadari Biru yang turun ke bumi tiap habis hujan bersama-sama keenam bidadari lainnya, masih mengingat kisah itu. Setelah menunaikan tugasnya mewarnai langit sebagai pelangi, Bidadari Biru akan tersenyum memandangi Gunung Arjuna. Ya, demikianlah kemudian gunung itu dinamakan. Di sisi yang lain ada gunung yang lebih kecil, yaitu Gunung Wukir, yang asalnya dari potongan puncak Gunung Arjuna. Kedua gunung tersebut terletak di Kota Malang, sebelah timur Pulau Jawa.

***

 

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply