Author: Retno Kusumo Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Gilang Permadi Translator: Maharani Aulia Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Jawa Timur

Tidak ada yang lebih ditakuti rakyat Kadiri selain sang raja. Meski hidup makmur, dengan hasil panen melimpah dan ternak yang beranak-pinak, mereka tidak bahagia.

Raja mereka adalah pemimpin sombong yang kejam. Begitu sombongnya, dia bahkan memerintahkan rakyat untuk menyembahnya sebagai dewa.

“Akulah yang paling pantas untuk disembah. Akulah dewa kalian!” serunya lantang.

Dan seperti biasa, seiring dengan diterapkannya suatu aturan, raja juga menetapkan hukuman yang berat bagi siapa saja yang melanggar. Rakyat Kadiri yang malang. Mereka terpaksa menaati perintah itu meskipun dalam hati menentangnya.

Sejak saat itu, segala macam persembahan hanya ditujukan bagi raja. Rakyat tak lagi berdoa, mengadakan upacara, ataupun memasang sesaji untuk para dewa. Arca-arca dewa di kuil maupun candi diruntuhkan. Sebagai gantinya, patung-patung sang raja dibangun dengan megah.

Para dewa akhirnya murka.

“Mengapa manusia di Kadiri tidak lagi menyembah kita?” geram Dewa Siwa.

“Mereka sudah punya dewa baru. Raja mengangkat dirinya sendiri sebagai dewa dan memerintahkan rakyat untuk menyembahnya,” kata Dewa Brahma.

“Lancang sekali!” seru Dewa Siwa, “apa hebatnya raja itu? Apakah dia bisa meniup angin yang mengantarkan kapal-kapalnya ke lautan? Apa dia juga bisa menerbitkan dan menenggelamkan matahari?”

Begitu marahnya dewa-dewa itu, hingga mereka memutuskan untuk memberi pelajaran pada raja dan rakyat Kadiri. Matahari dibiarkan bersinar lebih lama dan terik di atas wilayah Kadiri. Awan mendung ditiup jauh-jauh sehingga hujan urung turun. Kemarau bertahan sepanjang tahun. Tanaman dan ternak mati kekeringan. Rakyat bertahan hidup dengan persediaan makanan dalam lumbung mereka saja. Pada akhirnya persediaan itu pun menipis. Keadaan semakin parah karena paceklik itu diikuti dengan munculnya berbagai jenis penyakit. Korban berjatuhan begitu cepat.

Kepala desa Purwokerto1 sangat prihatin dengan keadaan warganya. Dia menduga rentetan kejadian itu adalah bentuk kemarahan para dewa karena ditinggalkan oleh pemujanya. Lelaki bijak itu kemudian melakukan tapa pepe2 untuk memohon ampun pada para dewa.

Berhari-hari dia menjemur diri di bawah terik matahari. Peluhnya bercucuran dan badannya memerah disengat panas. Tapi lelaki tua itu dikuatkan oleh tekad. Tidak sekali pun dia berhenti dari semedinya. Beberapa laki-laki dewasa yang melihat keteguhannya merasa iba. Mereka pun mengikuti jejak kepala desa untuk bertapa pepe.

Suatu hari kepala desa mendengar sebuah suara samar berbisik di atas kepalanya, “Manusia telah berbuat dosa karena sombong, merasa paling kuat dan kaya. Manusia juga berbuat dosa karena menyembah sesamanya. Tebuslah dosa dengan cambukan lidi aren, maka dosamu akan diampuni.”

Kepala desa bangun dari tapa dan menceritakan petuah gaib itu pada pengikut-pengikutnya.

“Semua harus mengumpulkan lidi aren. Kita berkumpul lagi di sini untuk mencambuk tubuh dengan lidi itu,” kata kepala desa.

Mereka pun bergegas pergi ke kebun masing-masing, mengambil lidi dari tulang daun aren, dan merangkai lidi-lidi itu menjadi cambuk. Setelah masing-masing memegang sebuah cambuk, mereka berkumpul kembali di halaman rumah kepala desa.

Bersama-sama mereka memohon pengampunan dan dibebaskan dari penderitaan, kemudian mencambuki tubuh masing-masing. Setelah beberapa lama, punggung dan dada mereka penuh dengan bekas cambukan. Mereka berusaha menahan perih. Namun, tidak ada tanda-tanda pengampunan dalam bentuk apa pun.

“Mungkin kita tidak mencambuk dengan sungguh-sungguh karena dalam hati kita tidak mau merasa sakit. Sebaiknya kita saling mencambuk saja. Dengan begitu kita tidak akan mencambuk dengan setengah hati,” usul seorang lelaki.

Akhirnya orang-orang itu mencambuk satu sama lain. Kali ini mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dan benar saja, tidak lama kemudian mendung hitam berarak mendekat. Udara menjadi sejuk. Kemudian, seperti dicurahkan, hujan deras turun dari langit. Warga bersorak kegirangan, “Udane tiba! Udane tiba!”3

Upacara melecut diri dengan cambuk lidi aren itu kemudian dinamakan dengan Tiban. Sejak saat itu juga, tiap kali kemarau panjang tidak kunjung usai, masyarakat di daerah itu melakukan upacara Tiban untuk mendatangkan hujan.

Warga kembali memeluk kepercayaan lamanya. Raja marah sekali karena rakyat berani membangkang perintahnya. Dia memerintahkan prajurit kerajaan untuk menghukum siapa pun yang dianggapnya melanggar perintah. Akan tetapi rakyat tidak lagi takut pada sang raja. Mereka sadar bahwa raja bukan dewa. Dan murka raja tidak ada apa-apanya dibandingkan kemarahan para dewa.

Beberapa orang bahkan berani melakukan pemberontakan dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan sang raja. Pemberontakan ini meluas ke berbagai daerah di Kadiri sehingga sulit bagi raja untuk menghentikannya. Pada akhirnya raja yang kejam ini melarikan diri dan rakyat Kadiri pun hidup bebas, makmur, dan damai.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

4 Responses so far.

  1. Ety Abdoel mengatakan:

    Kangen baca cerita rakyat. Terimakasih sharingnya mba.

  2. bertha saragi mengatakan:

    kereen Retno Kusumo…keep on writing sist…aku sukaa dongeng

Leave a Reply