Author: Durroh F Kurniati Editor: Aan Wulandari Illustrator: Gilang Permadi Translator: Dameria Damayanti Proofreader: Ratih Soe Origin: Riau

Suatu hari, dapur istana sangat berantakan. Isi panci tumpah, tempat sampah di atas meja, tepung berserakan, dan cipratan saus rata memenuhi tembok.

“Ya Tuhaaan,” seru seorang pelayan.

Beberapa pelayan perempuan dan lelaki datang. Wajah mereka melongo melihat keadaan dapur istana. Sembilan orang putri tampak coreng-moreng dengan kecap, dan taburan tepung di rambutnya. Mereka tertawa cekikikan, lalu kabur dari dapur, dan berkubang di danau dekat istana.

Selalu begitu setiap hari. Ada saja ulah sembilan putri yang membuat seluruh pelayan istana kelabakan. Mulai mencorat-coret dinding istana, mencabuti bunga di taman, hingga membasahi lantai aula untuk main perosotan.

“Bandel sekali mereka!” gerutu salah satu pelayan sambil menggosok dinding dapur.

“Seandainya mereka bukan putri raja, pasti sudah kujewer satu-satu telinganya!” sungut pelayan lain sambil menyapu tepung dan sampah yang berserakan.

“Seandainya mereka bersembilan itu punya sifat yang baik seperti adik bungsunya, pasti kita bisa bekerja dengan tenang,” kata seorang pelayan lelaki yang sibuk mengepel lantai.

Ya. Sembilan putri raja yang nakal itu memiliki seorang adik bungsu yang baik hati. Putri Kuning namanya. Sang Ayah memberinya nama dengan warna, agar mudah mengenali anaknya. Putri-putrinya yang lain bernama Putri Jambon, Putri Hijau, Putri Biru, Putri Nila, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, dan Putri Ungu.

Putri Jambon adalah si sulung. Nakalnya minta ampun. Dialah yang selalu memimpin adik-adiknya menjahili semua warga istana.

Mereka menjadi sangat nakal, karena tidak memiliki seorang ibu. Permaisuri Werana telah meninggal dunia saat melahirkan Putri Kuning. Sementara, Raja sering pergi ke luar kerajaan dengan berbagai urusan. Putri-putri dirawat oleh inang istana. Namun, inang-inang yang merawat tidak mampu mengendalikan kenakalan mereka. Mereka hanya patuh bila sang Ayah sedang di istana.

Waktu itu, Putri Kuning sedang membantu membersihkan taman istana. Dia menyapu daun kering yang berguguran. Tiba-tiba, sembilan kakaknya melintas dan menendang daun kering yang sudah susah-payah dikumpulkan. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil mengejek adiknya.

“Lihatlah, kita punya pelayan baru!”

Putri Kuning diam. Ia tahu, tidak ada gunanya melawan kakak-kakaknya.

Di hari yang lain, Raja pamit hendak pergi jauh. Ia menanyai anaknya satu per satu, benda yang mereka inginkan sebagai oleh-oleh.

“Aku mau baju sutera,” kata Putri Jambon.

“Aku mau gelang emas,” sahut putri Merah Merona.

Sembilan putri saling berebut menyebutkan keinginannya.

“Kalau kamu, Kuning?” tanya Raja melihat Putri Kuning yang diam saja.

“Aku hanya ingin Ayah kembali dengan sehat dan selamat,” jawabnya.

Raja bahagia mendengar kata-kata anak bungsunya itu. Ia mengelus rambut putri Kuning sebelum berangkat. Saudara-saudaranya makin membencinya.

Beberapa hari kemudian, Raja pulang membawa oleh-oleh untuk sepuluh putrinya.

“Kuning, maafkan Ayah. Sulit sekali mencari kalung permata berwarna kuning. Ini kalung bermata hijau untukmu,” kata Raja.

“Terima kasih, Ayah. Tidak mengapa. Ayah kembali dalam keadaan sehat saja aku sudah bahagia,” jawab Putri Kuning lalu mengenakan kalungnya.

Suatu hari ketika Putri Hijau melihat kalung Putri Kuning yang indah, ia iri dan ingin memilikinya. Ia menghasut kakak-kakaknya agar membantu merebut kalung itu.

“Hei, kembalikan kalungku. Kamu merebutnya dariku,” seru Putri Hijau ketika Raja sedang tidak berada di istana.

“Ini kalungku. Ayah memberikannya padaku,” jawab Putri Kuning.

“Kamu pasti mencuri dari kamarnya,” bentak Putri Kelabu.

Terjadilah perebutan kalung di antara mereka. Putri Kuning terus berusaha mempertahankan kalung pemberian ayahnya. Putri Jambon mendorong Putri Kuning sekuat tenaga hingga terjatuh dan kepalanya terantuk batu. Kepalanya berdarah.

“Oh, tidak!” seru Putri Nila panik melihat adiknya tidak bergerak lagi.

“Bagaimana ini?” kata Putri Biru ketakutan.

Semua putri sangat ketakutan. Mereka pun mengubur jasad adiknya di dekat danau dan berjanji merahasiakannya dari Sang Ayah.

Suatu hari ketika Raja pulang, ia mencari-cari ke mana gerangan putri kesayangannya. Ia memerintah pengawal istana mencari ke seluruh pelosok negeri. Namun setelah berbulan-bulan, hasilnya nihil. Putri Kuning tidak ditemukan. Raja sangat sedih.

Untuk menghilangkan kesedihannya, Raja berjalan-jalan ke danau istana. Di sana ia menemukan bunga baru yang tumbuh di atas kuburan sang Putri. Warnanya putih kekuningan dengan batang laksana jubah dan daun membulat seperti kalung permata. Baunya harum sekali. Bunga itu mengingatkan Raja pada putrinya.

“Akan kunamai bunga ini Kemuning,” gumam Raja.

Bunga itu ternyata banyak manfaatnya. Batangnya bisa dijadikan wadah yang indah, bunganya untuk mengharumkan rambut, dan kulit kayunya bisa digunakan bedak. Ternyata, walau sudah mati, Putri Kuning masih memberikan kebaikan.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply