Author: Edoh Lukman Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Gilang Permadi Translator: Rini Lasman Proofreader: Origin: Jawa Timur

Dahulu kala, di pesisir pantai selatan Jawa Timur terdapat sebuah kampung yang damai dan tenteram. Kampung itu terkenal dengan nama Kampung Nelayan karena hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai nelayan. Kampung Nelayan dipimpin seorang yang adil dan bijaksana. Semua yang dia lakukan untuk kesejahteraan penduduknya.

Kesejahteraan dan kemakmuran Kampung Nelayan mengundang decak kagum dari kampung di sekitarnya. Tetapi juga menjadi incaran orang-orang jahat yang iri dan serakah.

Suatu hari kampung tersebut diserang oleh kawanan perompak.

“Jangan biarkan perompak menghancurkan kampung ini. Kita harus berjuang demi Kampung Nelayan! Majuuu!” dengan gagah berani, Kepala Kampung memimpin melawan perompak.

Dalam perlawanan itu, Kepala Kampung terbunuh. Begitu juga sebagian besar para lelakinya.

Beberapa lelaki yang tersisa, membawa putri Kepala Kampung yang bernama Dewi Jembarsari dan para wanita meningggalkan Kampung Nelayan.

Mereka mengungsi di hutan perbukitan, dekat Sungai Bedadung yang jernih. Bahu-membahu mereka membuka hutan untuk dijadikan perkampungan baru dan belajar bercocok tanam. Pelan namun pasti, hasil kerja keras mereka bisa dinikmati. Hasil panen dari sawah dan kebun yang berlimpah. Daerah baru itu pun berkembang pesat dan besar dikenal dengan nama Kampung Baru.

Dewi Jembarsari tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pandai. Dia juga bijaksana seperti almarhum ayahnya. Penduduk sangat hormat dan segan pada Dewi Jembarsari. Mereka meminta dia untuk memimpin Kampung Baru.

“Apakah kalian sudah memikirkan baik-baik untuk memilihku menjadi pemimpin kampung ini?”

“Kami percaya dan yakin, Dewi bisa memimpin kampung ini dengan adil dan bijaksana seperti ayah Dewi dahulu.”

Dewi Jembarsari berpikir dan menimbang permintaan penduduk.

“Baiklah, aku terima kepercayaan kalian padaku. Tetapi aku meminta bantuan kalian untuk berjuang bersama memajukan kampung baru kita ini.”

“Terima kasih, Dewi Jembarsari!”

Penduduk sangat gembira. Mereka menerima permintaan Dewi Jembarsari dengan sukarela. Sejak dipimpin Dewi Jembarsari, Kampung Baru berkembang sangat pesat. Jalan pemukiman diperbaiki, begitu juga jalan yang menghubungkan dengan kampung di sekitarnya. Membangun saluran irigasi yang berpusat di Sungai Bedadung. Pertanian berhasil melimpah. Penduduk selalu bergotong-royong untuk melakukan pembangunan rumah warga, gardu kampung, balairung pertemuan dan menggarap sawah. Mereka juga selalu bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah bersama.

Dewi Jembarsari dan penduduk sangat ramah dan terbuka menerima kedatangan orang-orang dari luar kampung mereka. Kedatangan mereka sebagian besar adalah untuk berdagang. Pendatang dan pendagang banyak yang akhirnya memilih menetap di Kampung Baru.

Wilayah Kampung Baru semakin luas. Banyak kampung kecil disekitarnya yang bergabung di bawah kepemimpinan Dewi Jembarsari. Termasuk Kampung Nelayan. Penduduk di sana tidak suka dengan kepemimpinan perompak yang kejam dan semena-mena.

Kecantikan dan kepandaian Dewi Jembarsari membuat banyak pemuda yang jatuh cinta. Banyak yang melamarnya untuk dijadikan istri. Tapi Dewi Jembarsari selalu menolak dengan halus. Dia hanya ingin mengabdikan hidupnya untuk kesejahteraan Kampung Baru.

Suatu hari kawanan perampok yang terkenal kejam mencegat rombongan Dewi Jembarsari yang sedang dalam perjalanan kunjungan. Pimimpin mereka ingin memperistri Dewi Jembarsari.

“Hai Dewi Jembarsari! Kamu harus mau jadi istriku.”

“Maafkan saya! Saya tidak bisa memenuhi permintaan itu,” jawab Dewi Jembarsari tetap dengan nada lemah lembut.

“Kenapa kamu tidak mau menjadi istriku? Aku pemimpin yang kuat dan ditakuti, berdua kita akan menguasai seluruh wilayah,” kata pemimpin itu lagi.

“Saya masih mengemban tugas melindungi dan mensejahterakan penduduk Kampung Baru. Tidak sepatutnya jika saya mendahulukan kepentingan pribadi. Lagipula saya tidak tertarik dengan kekuasaan.”

Pemimpin perampok tidak terima atas tolakan Dewi Jembarsari. Dia marah besar dan merasa disepelekan. Dia memerintah anak buahnya untuk  menyerang rombongan Dewi Jembarsari. Pertempuran tidak bisa dielakkan. Dengan sekuat tenaga, Dewi Jembarsari dan pengawalnya membela diri. Apalah daya, kekuatan tak seimbang. Mereka kalah. Dewi Jembarsari gugur dalam pertempuran.

Penduduk Kampung Baru berduka. Pemimpin yang mereka cintai dan sayangi telah pergi untuk selamanya.

Untuk mengenang jasa Dewi Jembarsari, penduduk sepakat mengganti nama Kampung Baru menjadi Jembarsari. Setiap ada pertanyaan asal daerah, dengan bangga mereka akan menjawab, “Kami dari Jembarsari.”

“O … dari Jembar.”

Lama-kelamaan Jembarsari terkenal dengan nama Jembar. Yang kemudian berubah menjadi Jember.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply