Author: Kayla Mubara Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Dameria Damayanti Proofreader: Ratih Soe Origin: Belitung

Ada sebuah rumah kecil  beratap daun palem duri.  Di sekitarnya terdapat beberapa bangunan serupa. Dalam rumah itu tinggallah sepasang suami istri yang sudah lama berumah tangga, tapi belum memiliki anak. Mereka adalah Apa Inda dan Ama Tumina.

Mereka hidup dengan hasil panen padi di ladang, dan menangkap ikan di laut. Apa Inda biasa memasang sero. Bila air laut surut, ikan-ikan akan terperangkap penangkap ikan tradisional yang menyerupai pagar di laut itu.

Hari itu, musim panen bertepatan dengan surutnya air laut. Apa Inda dan istrinya berbagi tugas.

“Bagaimana kalau Apa ke laut dan  Ama ke ladang?” usul Apa Inda.

“Baiklah. Hati-hati di jalan,” sahut Ama Tumina.

Dengan wajah riang Apa Inda keluar rumah. Dia menggendong ambong di pundak.  Alat itu biasa digunakan untuk membawa ikan-ikannya. Burung-burung berkicau mengiringi langkah. Semilir angin menyapa tetes-tetes keringat.

Di tengah jalan Apa Inda dikejutkan oleh sebatang bambu yang melintang. Kakinya hampir tersandung olehnya.

“Ini bisa mencelakakan orang,” pikirnya.Dengan cekatan dia mengambil, lalu melemparkan bambu itu ke tepi jalan.

Setelah berjalan beberapa meter, sampailah Apa Inda di tepi laut. Ketika  mengambil sero, ada bambu lagi di dekatnya. Sungguh aneh. Bambu itu pun memiliki ruas sama dengan bambu sebelumnya. Apa Inda kembali mengambil bambu itu, lalu melemparnya ke laut.

Ikan yang terperangkap sangat banyak. Ambong tidak muat. Apa Inda memakai tali rotan untuk mengikat ikan-ikan lain. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Awan di langit seolah ikut tersenyum mengucapkan selamat. Wajah Apa Inda terlihat lebih ceria dibanding saat berangkat.

Apa Inda mengatur napas. Langkahnya mulai pelan. Di tengah jalan menuju pulang, sebatang bambu kembali melintang.

“Ah, kebetulan sekali!” seru Apa Inda. “Aku bisa menggunakannya untuk memikul ikan-ikan ini. Sepertinya ini bambu yang sama?”

Apa Inda sampai di rumah. Dia menceritakan kejadian yang dialaminya pada Ama Tumina.  Wanita berambut legam digelung itu menyimak dengan  serius. Dia pun tidak membuang bambu, tetapi meletakkannya di atas pakaian yang dijemur. Dengan begitu, jemurannya tidak terbang saat angin bertiup kencang.

Ama Tumina memijit kaki suaminya di depan rumah. Mereka terkantuk-kantuk karena belaian angin yang berembus. Beberapa kali mereka menguap.

“Andai saja ada seorang anak.” Demikian batin Ama Tumina sering berucap.

Duar! Apa Inda dan istrinya melonjak. Seketika, hilanglah kantuk mereka.

“Ada apa ini?” Apa Inda menatap bambu di tengah jemuran. Ama Tumina mendekati bambu itu perlahan. Bambu terbelah diiringi cahaya berkilauan.

Oee … Oee!

“Bayi?” Ragu-ragu Ama Tumina mengambil sesosok bayi yang terbaring di dekat bambu itu. Lalu dia memandikannya dengan penuh kasih sayang. Bayi mungil itu menangis. Ama Tumina menimangnya sambil berdendang.Bayi itu pun mulai diam lalu tertidur dengan tenang. Apa Inda dan Ama Tumina memberinya nama Puteri Pinang Gading.

Dua puluh satu tahun berlalu. Puteri Pinang Gading sedang memanah binatang buruan di hutan. Tiba-tiba para penduduk berlarian tak tentu arah. Tampak seekor burung raksasa menyambar-nyambarkan sayap. Pohon-pohon yang terkena kepaknya tumbang. Beberapa atap rumah terbang. Jerit dan tangis yang bersahutan terdengar memilukan.

“Puteriii!” Ama Tumina berlari ke arah puterinya. Apa Inda menyusul di belakang.

“Pulanglah, Nak. Ini sangat berbahaya. Kami tidak mau kehilangan kamu!” Ama menangis.

“Apa … Ama … Izinkan saya melawan burung itu,” pinta Puteri Pinang Gading.

Kedua orang tuanya diam. Mereka tahu bahwa Puteri Pinang Gading sangat lihai memanah. Bahkan, para laki-laki di kampung ini pun kalah.

“Hati-hatilah, Sayang,” ucap Ama Tumina. Apa Inda hanya mengangguk. Mereka lalu pulang.

Di kampung, orang-orang menutup pintu rumah mereka rapat. Wajah-wajah tampak pucat. Anak kecil menggigil ketakutan.

Puteri Pinang Gading bersembunyi di balik pohon besar. Dia menunggu burung itu lengah. Pada hitungan ketiga, gadis cantik yang pemberani itu melepaskan anak panahnya. Terlambat! Puteri melihat burung menyambar seorang penduduk yang belum masuk rumah. Alangkah sedih hati sang puteri.

Kali ini Puteri Pinang Gading melihat lebih jeli posisi burung raksasa. Dia menarik busurnya lalu membidikkan panah beracun ke dada burung itu. Tepat! Burung itu terjatuh, menggelepar, lalu tidak bergerak lagi. Burung itu sudah mati.

Seorang penduduk mulai berani keluar mendekati Puteri Pinang Gading. Pintu-pintu rumah mulai dibuka. Orang-orang yang tadinya hanya mengintip dari balik lubang kecil dinding rumah, sekarang berwajah cerah. Mereka berterima kasih kepada Puteri Pinang Gading.

Apa Inda dan Ama Tumina menatap anak gadis mereka. Rambutnya yang legam sepinggang tertiup angin. Sorot mata bening, dua pipi merekah, dan senyum terkembang seolah  menyihir siapa pun yang melihatnya.

Konon, tempat terjatuhnya burung berubah menjadi tujuh anak sungai. Anak panah yang menancap di dada burung itu tumbuh menjadi serumpun bambu. Dulu ada seorang nelayan yang menebang sebatang bambu untuk dijadikan batang pancing. Sungguh malang, dia tersayat, lalu langsung meninggal karena bambu itu ternyata beracun.

Masyarakat menamakan bambu itu Bulo Berantu atau bambu beracun. Bila disatukan menjadi menjadi Bulantu. Sekarang telah berkembang menjadi Membalong, nama sebuah kecamatan di Belitung.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

One Response so far.

  1. kaylamubara mengatakan:

    Terima kasih untuk editor : Kak Veronica Widyastuti. Tanpa kakak naskah bisa kaku-kaku.

    Terima kasih untuk Ilustrator : Kak Maman Mantox & Purwira Gustira. Dengan ilustrasi cerita bertambah hidup.

    Terima kasih juga untuk Proofreader, Kak Ratih Soe. Semoga dibalas kebaikan.

    Terima kasih untuk translator, Kak Damarian Damayanti. Tanpa Kakak, saya akan kesulitan mengalihbahasakan cerita ini.

    terima kasih untuk seluruh tim yang luar biasa dan teman-teman Pabers tercinta.

Leave a Reply