Author: Laksmi P Manohara Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Ratih Soe Proofreader: Sari Nursita Origin: Sulawesi Utara

Di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, terdapat sebuah Desa bernama To Un Rano. Di Desa To Un Rano ini, tinggal seorang gadis bernama Lintang. Kecantikan Lintang begitu terkenal di seluruh pelosok desa. Suara Lintang sangat merdu. Banyak pemuda yang jatuh hati padanya. Tak sedikit yang bermaksud meminangnya untuk dijadikan sebagai istri. Tetapi, Lintang selalu menolak. Bahkan putra mahkota Raja Mongondow pun harus melupakan keinginannya memperistri Lintang. Padahal, putra mahkota itu telah menghadiahi Lintang sebuah seruling emas yang indah.

Suatu hari, di acara pesta muda-mudi, seorang pemuda tampan dan gagah mencoba mendekati Lintang.

“Wahai, Putri Lintang. Namaku Makasiga dari Desa Kelabat Atas,” ujar Makasiga memperkenalkan diri.

Perkenalan itu sangat berkesan di hati keduanya. Hingga suatu hari, Makasiga memberanikan diri  meminang Lintang. Gadis cantik itu pun menerima pinangan Makasiga dengan satu syarat.

“Makasiga, tolong buatkan aku alat musik yang suaranya lebih merdu dari seruling emas milikku,” perintah Putri Lintang.

Makasiga segera mengangguk menyanggupinya. Dia yakin bisa segera menemukan alat musik yang dimaksud. Sayang, kenyataan tak terjadi semudah yang Makasiga bayangkan. Beberapa alat musik yang dia berikan ternyata tak dapat memuaskan hati Lintang.

Makasiga terpaksa berkelana keluar masuk hutan untuk menemukan alat musik yang tepat. Udara di hutan sangatlah dingin. Demi menjaga agar tubuhnya tetap hangat, Makasiga membelah kayu dan menjemurnya. Potongan-potongan kayu yang telah kering dia kumpulkan, lalu dilempar ke suatu tempat. Bunyi kayu yang beradu dengan tanah terdengar nyaring dan merdu.

Tong… Ting… Tang….

“Hei, kayu ini agaknya bisa kujadikan sebuah alat musik. Putri Lintang pasti menyukainya,” seru Makasiga bersemangat.

Makasiga lalu meletakkan kayu-kayu tersebut berjejer di kakinya. Ketika kayu-kayu itu dipukul, terdengar suara bernada rendah, tinggi, dan sedang. Tong… Ting… Tang.… Terdengar bergantian.

Siang dan malam, Makasiga memotong kayu dengan panjang yang berbeda-beda untuk  mencari suara yang pas.

“Putri Lintang pasti senang dengan alat musik ciptaanku,” gumam Makasiga sambil terus membunyikan alat musik barunya. Suara musik itu terdengar sangat nyaring memecah kesunyian hutan.

Dua orang pemburu mendengar suara itu dari kejauhan.

“Itu pasti suara makhluk halus penunggu hutan ini!” ujar salah seorang pemburu sambil gemetar ketakutan.

“Ah, tidak ada makhluk halus membuat suara senyaring dan semerdu itu,” kata pemburu lainnya tak percaya.

Akhirnya kedua pemburu itu mendekati asal suara untuk mencari tahu. Alangkah terkejutnya mereka. Ternyata si pembuat suara adalah seorang pemuda yang terlihat sangat lusuh. Mereka mengenalnya sebagai Makasiga, sang ahli ukiran dari Desa Kelabat Atas.

Ya. Makasiga telah menjadi kurus dan lemah karena berusaha begitu keras menciptakan alat musik bersuara merdu. Demi mengabulkan keinginan gadis pujaannya, Makasiga sering melupakan makan, minum, dan waktu istirahatnya.

“Mangemo kumolintang,” ucap Makasiga lirih. Dia limbung, lalu terjatuh.

Kedua pemburu itu segera menolong Makasiga dan membawanya ke Desa Kelabat Atas. Makasiga terlalu lemah. Dia tidak bisa disembuhkan dan akhirnya meninggal dunia.

Berita kematian Makasiga terdengar hingga ke telinga Lintang. Dia sangat sedih hingga jatuh sakit dan menyusul Makasiga ke alam baka.

Alat musik ciptaan Makasiga tetap dimainkan di Desa To un Rano, atau kini dikenal sebagai Tondano. Ucapan “mangemo kumolintang” berarti ajakan “mari kita ber tong, ting, dan tang”. Lambat laun, istilah ini berubah menjadi ajakan bermain kolintang.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply