Author: Rudhini Waringin Editor: Illustrator: Rahman A.Nur Translator: Proofreader: Origin: Jawa Timur

Konon, hiduplah seorang putri raja yang sangat cantik jelita bernama Surati. Ia tinggal di Kerajaan Klungkung. Suatu hari Kerajaan Klungkung dikepung oleh musuh. Raja Klungkung, ayahanda Putri Surati, gugur dalam peristiwa tersebut. Putri Surati pun harus meninggalkan istana untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya, sampailah Putri Surati di tepi sungai yang berada di dalam hutan.

Tiba-tiba datanglah seorang raja yang sedang berlari mengejar seekor kijang. Raja tersebut bernama Banterang. Raja Banterang sedang berburu, tapi ia terpisah dari para pengawalnya saat mengejar buruannya.

“Hei, siapakah kamu? Mengapa kamu ada di dalam hutan ini? Apakah kamu penunggu hutan ini?” Tanya Raja Banterang kepada Putri Surati.

Putri Surati pun menceritakan kejadian yang menimpanya. Raja Banterang pun merasa iba. Ia lalu membawa Putri Surati ke istananya dan menjadikannya istrinya.

Suatu hari Raja Banterang kembali pergi berburu. Dengan ditemani beberapa pengawal setianya ia menuju ke dalam hutan. Sementara Raja pergi berburu Putri Surati tinggal di istananya yang megah.

Saat ia sedang bersantai di halaman istana tiba-tiba datanglah seorang pria berpakaian compang-camping menemuinya. Pria tersebut tidak lain adalah kakak kandungnya, Rupaksa. Ia datang untuk meminta Surati kembali ke istana mereka, Kerajaan Klungkung.

“Surati, ketahuilah bahwa suamimu adalah musuh kerjaan Klungkung. Dialah yang membunuh ayahanda kita.”

“Apa? Benarkah itu?”

“Benar, adikku. Sekarang, maukah Adinda bekerjasama denganku? Kita harus membalas dendam atas apa yang telah diperbuat oleh suamimu. Dia harus dibunuh!”

“Ah, Kanda, aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin aku berbuat hal yang jahat pada orang yang telah menyelamatkanku?”

“Jadi, Adinda tidak bersedia bersepakat denganku?”

“Maafkan saya, Kanda.”

Pangeran Rupaksa berusaha untuk membujuk adiknya tetapi Surati bergeming. Penolakan Surati membuat Pangeran Rupaksa sangat marah. Sebelum pergi meninggalkan adiknya, Pangeran Rupaksa memberikan sesuatu pada adiknya.

“Ini ikat kepalaku. Simpanlah ini sebagai kenang-kenangan dariku. Simpanlah ini di bawah tempat tidurmu,” pesan Pangeran Rupaksa. Ia pun pergi meninggalkan adiknya yang sangat bersedih hati.

Sementara itu, Raja Banterang yang sedang di hutan tidak mengetahui apa yang terjadi di istananya. Saat di dalam hutan ia bertemu dengan seorang pria berpakaian compang-camping.

“Tuanku Raja, perkenankanlah hambamu ini menyampaikan sesuatu. Sudilah kiranya Tuanku Raja berhenti sejenak,” Pria itu memberi hormat.

“Oh, baiklah.” Raja Banterang mempersilahkan.

“Mohon maaf sebelumnya, ya tuanku Raja. Sebetulnya, saat ini Paduka Raja sedang dalam bahaya. Seseorang telah merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Paduka. Ia bermaksud untuk membunuh Paduka Raja.”

Mendengar apa yang disampaikan pria tersebut, Raja Banterang sangat terkejut.

“Siapakah yang memiliki niatan jahat seperti yang kamu katakan?” Raja bertanya dengan marah.

“Maaf seribu maaf Paduka. Orang tersebut adalah istri Paduka beserta orang suruhannya.”

“Apa?!! Apa buktinya istriku berani berkhianat padaku?” Raja semakin marah.

“Jika Paduka kembali ke istana, kiranya Paduka berkenan memeriksa seluruh isi kamar Paduka. Laki-laki suruhan istri Paduka telah meninggalkan ikat kepalanya pada istri Paduka.”

Meskipun awalnya Raja Banterang tidak mempercayai kabar yang ia terima tapi ia tetap melakukan apa yang diminta pria tersebut. Sesampainya di istana ia meminta para pegawai istana untuk memeriksa seluruh bagian kamarnya. Akhirnya ikat kepala yang dicari pun ditemukan di bawah tempat tidur Putri Surati. Raja Banterang pun marah bukan kepalang.

“Ternyata benar apa yang aku dengar. Kamu telah merencanakan hal yang jahat padaku. Tak ku sangka kamu berencana membunuhku,” kata Raja Banterang pada Putri Surati.

“Apa maksud Paduka?”

Raja pun menceritakan pertemuannya dengan pria berbaju compang-camping di tengah hutan.

Putri Surati pun menyadari niat jahat kakaknya. Ia menceritakan pertemuannya dengan Pangeran Rupaksa kepada Baginda Raja. Namun Baginda Raja sudah terlalu marah sehingga tidak mempercayainya.

“Kanda, percayalah padaku. Aku tidak ada maksud jahat sama sekali. Aku rela berkorban dan melakukan apa pun untuk keselamatan Kanda.” Putri Surati berusaha meyakinkan Raja Banterang.

Raja Banterang sudah tersulut emosi. Ia tidak bisa mempercayai istrinya. Tahu bahwa suaminya tidak lagi bisa mempercayainya, hati Putri Surati pun sangat sedih. Ia berlari meninggalkan istana. Raja Banterang sebetulnya masih mengasihi istrinya. Ia mengejar istrinya ke dalam hutan. Sampailah mereka di tepi sebuah air terjun.

“Kanda, memang tidaklah mudah membuat Kanda kembali percaya kepadaku. Untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, aku akan menceburkan diri ke dalam air terjun ini. Di bawah air terjun ini ada sungai yang mengalir. Jika air sungai menjadi jernih dan berbau wangi, itu tandanya aku tidak bersalah. Tetapi jika sebaliknya, air menjadi keruh dan berbau busuk, berarti aku bersalah.”

Putri Surati pun menceburkan diri ke dalam air terjun. Tak lama kemudian air sungai di bawah air terjun itu berubah menjadi sangat jernih dan bau wangi menyebar ke segala arah. Raja Banterang pun menyadari bahwa istrinya tidak bersalah.

“Maafkan aku, istriku. Ternyata kaulah yang benar. Aku yang salah telah percaya pada orang yang tidak aku kenal. Aku sangat menyesal.”

Meskipun ia telah memerintahkan para pengawalnya untuk mencari Putri Surati kesana-kemari namun usahanya tak membawa hasil. Putri Surati menghilang entah kemana. Meskipun Raja Banterang sangat menyesal namun sia-sialah penyesalannya karena istri yang dikasihinya tak pernah ditemukan lagi.

Sejak saat itu tempat tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi. “Banyu” artinya air dan “Wangi” berarti harum.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply