Author: Wrini Harlindi Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Agnes Bemoe Proofreader: Ratih Soe Origin: Bali

PPulau Bali dikenal orang di berbagai negara, di seluruh belahan dunia. Tetapi tahukah kamu dari mana asal namanya?

Dahulu kala seorang petapa sakti yang arif bijaksana tinggal di Gunung Semeru di Pulau Jawa. Dengan kesaktiannya, ia bisa membuat tanaman yang ia tanam tumbuh dengan subur dan lebat. Sedangkan hewan yang ia pelihara menjadi tambun dan sehat, serta beranak-pinak dengan cepat. Karena kesaktian dan kearifannya ini, rakyat di Pulau Jawa menghormatinya.

Sang Petapa Sakti bersahabat dengan seekor naga sakti yang tinggal di Gunung Mesehe, di sebuah pulau yang tidak jauh dari Pulau Jawa. Sang Naga terkenal karena kesaktian dan kehebatannya dalam berkesenian. Menari, bermain musik, mengukir kayu, dan membuat berbagai kerajinan tangan, mampu ia lakukan dengan sangat memesona dan tanpa cacat cela. Tidak ada orang atau naga lain yang mampu menandingi kesaktiannya. Selain sakti, di seluruh tubuh naga ini bertaburan berbagai permata berharga yang berwarna-warni. Cahaya dari permata di tubuh naga ini berkilauan, apalagi bila tertimpa cahaya matahari.

Suatu hari Petapa Sakti menyuruh seorang utusan untuk mengantarkan hasil tanaman dan susu sapi untuk Naga Sakti. Karena kesaktian sang Petapa, si utusan hanya perlu mengendarai kuda satu hari satu malam lamanya untuk sampai ke Gunung Mesehe. Bagi orang lain, perjalanan ini ditempuh selama satu minggu penuh.

“Saya berangkat, Guru.” Utusan segera berangkat dengan patuh.

Secara teratur, Petapa mengirimkan hasil bumi dan susu sapi kepada Naga sahabatnya. Namun, lama kelamaan kejadian aneh mulai muncul. Sang utusan baru kembali setelah sebulan pergi. Kejadian itu berulang hingga beberapa kali.

Sang Petapa bertanya kepada utusannya, “Mengapa kamu baru pulang?”

“Sang Naga tidak mengizinkan saya cepat-cepat pulang, Guru,” jawab utusan sambil menunduk.

Di lain waktu, utusan itu memberikan alasan yang berbeda. “Ombak sedang besar sehingga kami harus menunggu, Guru.”

Di saat lainnya, si utusan kembali memberikan jawaban yang berbeda. “Kuda saya sakit, Guru, sehingga saya harus menunggu dia sembuh.”

Petapa itu mulai tidak sabar. Diam-diam, dia mengikuti utusannya hingga menyeberang pulau menuju Gunung Mesehe.

Ternyata, setelah memberikan hasil bumi dan susu kepada Naga, si utusan tidak langsung pulang. Ia bersembunyi di balik semak, di dekat gua tempat Naga tinggal. Ketika Naga Sakti menari, batu permata berjatuhan dari tubuhnya. Diam-diam si utusan mengambil batu-batu permata itu, lalu menyimpannya di lipatan kain yang ia kenakan. Bukannya mengembalikan batu itu kepada naga sakti, utusan itu membawa permata-permata itu turun dari Gunung Mesehe. Ia mengajak rakyat yang tinggal di pulau untuk berjudi sabung ayam, dengan permata itu sebagai taruhannya. Dengan senang hati, ajakan itu ditanggapi oleh rakyat sekitar. Apalagi, permata yang dibawa si utusan adalah permata yang sangat indah dan berharga, serta sangat jarang dijumpai.

Melihat hal itu, sang Petapa sangat marah. Ia berkata dengan suara menggelegar dalam bahasa Jawa kepada utusannya, “Bali!”, yang artinya ‘pulang’.

Sebelum mereka semua kembali ke Pulau Jawa, sang Petapa menasihati rakyat di pulau itu untuk belajar kesenian dari sang Naga dan tidak tergiur oleh keindahan permata di tubuhnya. Rakyat mematuhi nasihat petapa itu. Mereka belajar menari, memahat kayu, bermain musik, dan mengerjakan berbagai kerajinan tangan. Sampai saat ini, seluruh masyarakat yang tinggal di pulau itu pandai menari, bermain musik, mengukir kayu, dan mengerjakan berbagai kerajinan tangan. Gunung Mesehe kemudian diberi nama Gunung Agung. Sedangkan pulau itu sekarang bernama Pulau Bali.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply