Author: Irena Tjiunata Editor: Aan Wulandari Illustrator: Jack Son Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Riau

Hari masih pagi benar, matahari belum terbit. Dari tengah laut, tampak sebuah perahu berlayar menepi. Baitusen melompat ke luar dari perahu. Mai Lamah, istrinya yang tengah hamil, menyambut kepulangan suaminya.

“Banyak tangkapan Abang hari ini?” sapa Mai Lamah dengan ceria. Dia berjalan perlahan menghampiri suaminya.

“Lumayan, Dik,” Baitusen tersenyum gembira. Mereka berdua menurunkan berkarung-karung siput lolak 1), kelekuk-kulai 2), dan beragam jenis kerang-lokan dari perahu.

Mai Lamah membantu suaminya mengangkut hasil tangkapan itu.

“Selamat pagi Baitusen, Mai Lamah,” sapa Mak Semah, bidan kampung yang baik hati.

“Selamat pagi, Mak Semah.”

“Wah, kandunganmu sudah besar, Mai Lamah. Kalau nanti tiba waktunya melahirkan, jangan sungkan untuk memanggilku, ya. Tengah malam pun tidak apa-apa, aku pasti akan membantumu.”

Begitulah kehidupan Baitusen dan Mai Lamah. Mereka adalah perantau di Pulau Bunguran. Walau hidup merantau, mereka merasa betah karena warga pulau tersebut sangat ramah dan ringan tangan. Setiap malam, Baitusen berangkat melaut, pagi harinya Mai Lamah akan membersihkan semua hasil tangkapan Baitusen, kemudian menjualnya ke pasar. Kulit-kulit kerang dibuat perhiasan. Penghasilan mereka memang tidak banyak, tapi mereka bahagia.

Suatu pagi, Baitusen pulang dengan wajah berseri-seri.

“Dik, aku menemukan lubuk yang penuh dengan teripang 3). Mulai besok, aku akan mencari teripang saja.”

Mai Lamah sangat senang. Harga teripang kering yang dijual ke Negeri Singapura dan Cina sangatlah mahal.

Sejak saat itu, Baitusen dan Mai Lamah terkenal sebagai penjual teripang. Tak lama, mereka menjadi saudagar yang kaya raya. Setiap enam bulan sekali, segala jenis tongkang dan wangkang 4) milik para tauke berlabuh di pelabuhan Bunguran sebelah timur.

Perubahan tingkat ekonomi membuat Mai Lamah berubah juga. Sekarang dia selalu bergincu, berbedak, dan memakai wangi-wangian. Sayangnya, sikap dan perilakunya juga berubah. Dia kini tidak mau lagi bergaul dengan tetangga-tetangganya, serta jijik dengan bau anyir dan amis para tetangganya. Dia lupa kalau dia sendiri dulunya istri nelayan miskin.

Suatu pagi, Mak Semah datang ke rumah mereka ingin meminjam beras. Bukannya meminjamkan, Mai Lamah malah marah-marah.

“Memangnya kau bisa membayar pinjamanmu?!” Mai Lamah memaki.

Mak Semah hanya menunduk.

“Sudahlah, Dik.” Bujuk Baitusen, “pinjamkan saja beras kita. Bukankah Mak Semah dulu sering membantu kita?”

“Dulu, ya, dulu. Sekarang, ya, sekarang! Pokoknya aku tidak mau membantu nenek miskin ini!” Mai Lamah bahkan mengusir Mak Semah.

Para warga jadi enggan bergaul dengan suami-istri itu. Mereka tidak suka dengan sikap Mai Lamah yang bagai kacang lupa dengan kulitnya.

Suatu hari, Mai Lamah akan melahirkan. Bidan yang dipanggil dari pulau seberang belum juga datang. Melihat istrinya sudah kesakitan, Baitusen meminta pertolongan Mak Semah dan tetangga lainnya, tapi tidak ada yang mau menolong. Mereka terlanjur sakit hati dengan perkataan dan perilaku Mai Lamah.

Karena tidak tega melihat istrinya yang kesakitan, Baitusen pun mengajak Mai Lamah ke pulau seberang untuk mencari bidan. Mai Lamah meminta suaminya membawa serta peti emas dan perak mereka.

Arus gelombang laut yang deras membuat Baitusen kepayahan mendayung perahunya. Semakin ke tengah, semakin besar gelombangnya, dan semakin banyak air laut yang masuk ke perahu. Lama-kelamaan, perahu mereka tenggelam bersama dengan seluruh muatannya. Baitusen dan Mai Lamah berhasil berenang ke pantai Bunguran timur. Mai Lamah kesulitan berenang, karena tubuhnya berat oleh kandungannya, juga perhiasan yang bergantungan di tubuhnya. Karena Mai Lamah berpegangan pada tali pinggang suaminya yang kuat, mereka berdua kemudian berhasil mendekat ke pantai Bunguran Timur. Namun, tiba-tiba angin bertiup kencang disertai hujan deras. Petir sambar-menyambar disusul dengan gelegar suara guntur.

Sepertinya pantai Bunguran Timur tidak menerima kehadiran Mai Lamah. Tubuhnya berubah menjadi batu besar yang terlihat seperti seorang perempuan yang sedang berbadan dua. Lama-kelamaan, batu besar itu berubah menjadi pulau. Masyarakat sekitar menamakan pulau itu ‘Sanua’ yang berarti berbadan dua. Segala perhiasan emas dan perak yang terdapat di tubuh Mai Lamah kemudian berubah menjadi burung layang-layang putih atau yang dikenal dengan burung walet.

***

1) Siput lolak: kerang yang kulitnya dapat dibuat perhiasan
2) Kelekuk-kulai: siput mutiara
3) Sejenis hewan laut invertebrata yang dapat dimakan, bisa dimasak segar atau dikeringkan lebih dulu.
4) Tongkang adalah sejenis kapal yang dengan lambung datar, yang digunakan untuk mengangkut barang berat melalui sungai dan kanal. Beberapa tongkang harus ditarik atau didorong dengan kapal tunda.
5) Wangkang adalah kapal layar Cina kuno yang digunakan untuk berlayar di laut.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply