Author: Fitri Kurniasari Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox Translator: Ratih Soe Proofreader: Sari Nursita Origin: Papua

Penduduk Mimika, Papua sedang sibuk menyiapkan peralatan untuk mencari sagu. Perahu juga sudah disiapkan di tepi sungai. Mereka membawa kapak dan pangkur, juga bekal makanan dan minuman yang cukup. Perjalanan yang akan mereka tempuh bisa memakan waktu tiga hari. Setelah siap, penduduk berangkat menggunakan perahu melewati sungai yang besar.

“Kita berhenti di sini saja. Di sini banyak pohon sagu!” teriak seorang bapak tua.

Semua mengiyakan. Setelah menurunkan semua peralatan yang dibawa, penduduk laki-laki  mulai menebang pohon sagu dengan kapak, sementara yang wanita mempersiapkan wadah. Setelah pohon sagu roboh, kulit kayunya diambil dan dikerok agar hati sagu bisa diambil untuk diperas dan diambil sari patinya. Kemudian sagu dibentuk seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong. Sagu yang sudah dibentuk itu ditempatkan di keranjang rotan yang disebut tumang. Setelah selesai, penduduk kembali ke perahu untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba muncul seekor naga yang menyerang mereka. Hanya dengan sekali kibas, ekor naga itu mampu menghancurkan perahu menjadi berkeping-keping. Semua penumpang jatuh dan tenggelam. Namun, ada seorang perempuan hamil bernama Oku yang berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan pada potongan papan perahu. Oku pun selamat karena bisa mencapai tepi sungai. Oku lari masuk ke hutan karena takut naga akan mengejarnya. Selama di hutan, ia hanya makan daun-daun muda dan umbi-umbian.

Setelah tiga bulan di hutan, Oku melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia berjuang melahirkan sendiri di dalam hutan. Bayi laki-laki itu diberi nama Biwar.

Biwar tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan kuat. Oku mengajari anaknya memanah, menangkap ikan, membuat api, dan bermain tifa. Di pagi yang cerah, Biwar berlari kecil mendekati gubuk kecil rumahnya.

“Mama, Biwar membawa ikan banyak dan besar-besar,” teriak Biwar.

Oku keluar tergopoh-gopoh. “Wah, besar-besar sekali ikannya, Biwar. Kamu memancing di mana?”

“Tadi Biwar memancing ikan di sungai yang dalam, lebih jauh dari biasanya. Di sana pemandangannya juga bagus, Mama,” jawab Biwar.

“Mama, kan, melarang kamu memancing di sungai yang dalam. Itu sangat berbahaya, Biwar,” kata Mama.

“Kenapa?” tanya Biwar tak mengerti.

Lalu Oku menceritakan kejadian yang membuatnya terdampar di hutan akibat serangan sang naga.

“Biwar akan melawan naga itu, Mama, agar ia tidak mengganggu lagi,” seru Biwar.

“Jangan, Nak. Itu sangat berbahaya!” kata Oku.

Namun, Biwar tak mendengarkan kata-kata mamanya. Ia bertekad untuk menemui naga itu.

Di tepi sungai Biwar melihat gua. Ia yakin naga itu ada di dalamnya. Sampai di dekat gua, Biwar memainkan tifa yang bentuknya seperti gendang.

Bunyi tifa menarik perhatian naga. Ia pun keluar dari dari gua.

“Siapa kamu, anak muda?” tanya Naga.

“Aku Biwar, anak seorang penduduk yang pernah kau hancurkan perahunya,” jawab Biwar lantang.

“Ha ha ha! Aku memang tidak suka ada perahu melintas di wilayahku. Ini adalah daerah kekuasaanku. Apa kamu tidak takut denganku, Biwar?” ledek Naga.

“Untuk apa takut? Kamu yang salah karena menyerang penduduk Mimika tanpa alasan. Aku menantangmu untuk berlomba lari. Jika kalah, maka kamu harus berjanji untuk tidak mengganggu perahu yang lewat sini lagi!” seru Biwar.

Sang naga diam sejenak. Ia menatap Biwar. Naga itu tak percaya seorang pemuda ingusan bisa mengalahkannya.

“Baik,” jawab sang naga. Ia yakin, Biwar pasti kalah.

Mereka pun berlomba lari. Biwar yang sangat gesit dan lincah bisa mendahului naga. Hutan yang begitu luas seolah bisa dijelajahi dengan sangat singkat. Sedangkan naga dengan tubuhnya yang besar tidak mampu mengejar Biwar. Ia jauh tertinggal.

“Hu hu hu, aku kalah. Kamu memang cerdik dan berani, Biwar. Baiklah. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan mengganggu perahu yang lewat di sini,” kata sang naga.

Sejak saat itu, sang naga berteman dengan Biwar. Dia tidak pernah lagi mengganggu perahu yang lewat.

Biwar pun pulang, lalu menceritakan semuanya kepada mamanya. Mama Biwar gembira karena anaknya selamat dan bisa mengalahkan naga itu. Akhirnya mereka berdua kembali ke kampung halaman menggunakan perahu buatan Biwar. Mereka melewati sungai dengan aman karena naga tidak lagi mengganggu kapal yang lewat.

Setibanya di perkampungan, Biwar dan Oku disambut gembira. Penduduk Mimika mengadakan pesta atas keberhasilan Biwar menyadarkan naga yang selama ini mengganggu mereka. Sekarang mereka bebas melewati sungai. Ya, Biwar memang pemberani!

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply