Author: Dewi Rieka Editor: Aan Wulandari Illustrator: Jack Son Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Sulawesi

Alkisah, ada sebuah kerajaan besar di Pulau Simbai, Sulawesi. Rajanya bernama Datu Simbau, seorang raja yang bijaksana. Datu memiliki seorang putri cantik bernama Sangiang Mapaele.

Ketika Sangiang sudah dewasa, Datu Simbau ingin mencari suami untuk Putri Sangiang. Datu Simbau ingin Sangiang mendapatkan suami yang mencintai putrinya dengan tulus. Ia pun membuat sayembara. Barangsiapa yang membawakan putrinya barang berharga sebagai bukti cinta, dialah yang akan menjadi suami Sangiang Mapaele.

Di sebuah dusun, Takatuliang, mendengar kabar gembira itu. Ia sudah lama mencintai Sangiang Mapaele. Takatuliang pernah melihat sang putri saat acara festival di Kerajaan. Putri Sangiang adalah putri yang cantik dan baik hati, ia tak segan berbincang dengan rakyatnya.

Apa yang akan kuberikan pada sang putri sebagai bukti cintaku? pikir Takatuliang.

Ia hanya seorang tukang kayu miskin. Dibandingkan dengan sang putri, bagaikan langit dan bumi. Namun, Takatuliang tak mau menyerah. Ia ingin ikut sayembara!

Setelah berpikir lama, akhirnya ia memutuskan membuat boneka kayu. Takatuling pergi ke hutan untuk mencari pohon. Setelah menemukan pohon yang paling bagus, ia lalu menebangnya, dan bekerja semalam suntuk.

“Takatuliang, apa yang kau lakukan malam-malam begini? Ayo istirahat,” kata sang Ibu.

“Iya, Bu. Saya sedang membuat hadiah untuk sang Putri,”

“Kau akan ikut sayembara? Itu hanya untuk para pangeran. Sadarlah, Nak. Buang mimpimu. Kita hanya rakyat biasa.” Ibu Takatuliang mengusap kepala putranya sedih.

“Saya ingin ikut, Bu. Ibu istirahat, ya.” Takatuliang pun meneruskan pekerjaannya.

Keesokan harinya,  jadilah boneka kayu itu. Takatuliang menatap hasil kerjanya dengan tak puas.

“Bagaimana mungkin aku memberi putri boneka kayu telanjang dan botak?”

Ia duduk termenung di depan pondoknya. Lalu, tiba–tiba, mendapat ide.

“Ibu, aku akan memakai kain ayah untuk pakaian bonekaku.”

“Nak, itu satu-satunya kain peninggalan almarhum ayahmu, untuk kau pakai nanti di acara pernikahanmu.”

“Izinkan aku, Bu, agar boneka ini tampak indah,” kata Takatuliang sambil mencium pipi ibunya.

Ibunya mengangguk.

Takatuliang mengambil kain indah itu dari lemari dan memotongnya. Ia kenakan di badan boneka. Masih kurang cantik. Ia lalu memotong rambutnya yang panjang dan lebat lalu dipasangnya satu per satu dengan teliti di kepala boneka.

Keesokan harinya, Takatuliang berangkat ke istana.

Ibu memeluknya. “Hati-hati, Nak. Semoga sukses,”

Takatuliang mengangguk.

Di istana, banyak sekali pangeran dari berbagai penjuru negeri. Semuanya membawa banyak pengawal yang mengangkut berpeti-peti hadiah untuk sang putri.

Takatuliang dipersilakan masuk istana bersama tiga pangeran lain yang berpakaian mewah. Ketiga pangeran itu meliriknya dengan tampang meremehkan.

“Selamat datang di istanaku. Silakan tunjukkan hadiah yang akan kau berikan untuk Putri Sangiang,” kata Raja tersenyum.

Pangeran pertama dari dari Pulau Tetelu.

“Putri, kupersembahkan bukti cintaku untuk sang putri. Sisir gading bertatahkan intan baiduri!”

Sang putri tersenyum menerima hadiah dari pangeran. Indah sekali.

“Berapa sisir seperti ini yang kau miliki?” tanya Putri Sangiang.

“Banyak sekali. Berpeti-peti!”

Sang putri menoleh pada pangeran lain. “Apa yang kau bawa, Pangeran?”

Pangeran dari Pulau Darua lalu mengulurkan sebuah kotak indah bertatahkan permata.

“Selembar kain sutera terindah untuk sang putri cantik,” katanya bangga.

“Indah sekali! Berapa kain seperti ini yang kau miliki?” tanya Putri mengelus kain.

“Aku punya banyak sekali kain sutera indah, Putri. Berlemari-lemari.” kata Pangeran Darua.

Pangeran ketiga, dari Pulau Epa, lalu mengulurkan hadiah kalung emas mutiara.

“Cantiknya! Berapa kalung seperti ini yang Anda punya?” tanya Putri lagi.

“Aku punya banyak sekali kalung mutiara cantik, Putri. Berkotak-kotak.”

Sang putri meletakkan kalung dengan kecewa. Ia menoleh pada Takatuliang, yang duduk menunduk. Si tukang kayu malu dengan hadiah yang dibawanya.

“Apa yang kau bawa?”

“Ini bukti cintaku. Boneka kayu yang kubuat sendiri dengan tanganku.”

“Berapa yang kau miliki?”

“Hanya satu, Putri. Aku buat sendiri. Bajunya dari kain satu-satunya peninggalan ayahku. Rambutnya dari rambutku. Andaikan kain ayahku ada dua, rambutku lebih tebal, akan kubuat banyak boneka untukmu.”

Putri Sangiang berbinar. “Ayah, aku memilih Takatuliang untuk menjadi suamiku.”

Ketiga pangeran marah-marah. “Kenapa boneka jelek itu mengalahkan hadiah berharga kami?”

“Takatuliang mengerahkan jiwa raganya untuk mempersembahkan bukti cinta untuk sang putri. Sedangkan kalian punya banyak, tapi yang kalian bawa cuma satu. Takatuliang bekerja keras, memberikan kain dari ayahnya, bahkan rambutnya, untuk Putri,” jawab Datu Simbau.

Para pangeran tercenung. Menyesali kesombongan mereka. Takatuliang dan Putri Sangiang menikah dan hidup bahagia.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply