Author: Lim Merry Editor: Aan Wulandari Illustrator: Aryani Translator: Krismariana Widyaningsih Proofreader: Ratih Soe Origin: Kalimantan Barat

“Bura’, ayo kita pergi menangkap ikan!” seru Uhit Miou.

Bura’ kaget. Dia sedang melamun di dekat jendela rumahnya.“Eh? Apa, Uhit Miou?”

“Ayo kita pergi tangkap ikan! Ke Lluting sungai Sulling,” ulang Uhit Miou.

Mereka berdua pun berangkat. Sejak kecil, mereka sering mengunjungi tempat ini. Mereka tahu tempat ikan dan udang berkumpul. Sebentar saja Bura’ sudah menangkap banyak ikan. Sedangkan Uhit Miou belum mendapat seekor pun.

Ah, kasihan Uhit Miou. Nanti akan kubagi saja hasil tangkapan ini dengannya, batin Bura’.

Namun, rupanya Uhit Miou merasa kesal. Timbul rasa iri di hatinya.

Tiba-tiba, Bura’ berhenti.

“Ada apa?” tanya Uhit Miou.

“Lihat, tak terasa kita sudah jalan sejauh ini. Sekarang kita ada di dekat air terjun,” jelas Bura’ sambil berjalan menjauhi air terjun.

Uhit Miou mencoba melongok dari dekat. “Wah, tinggi sekali!!” batinnya.

“Bura’,” serunya. “Cobalah kamu lihat sini. Di bawah itu bagus sekali!” bujuknya sambil menunjuk ke arah bawah.

“Tidak, ah! Aku takut Uhit Miou. Ngeri!”

“Buat apa takut? Lihat! Air yang jatuh itu sangat indah. Ada kabut yang muncul setiap air itu jatuh. Dan lihat, ada pelangi kecil. Percikan air yang terkena sinar matahari itu membuat pelangi yang sangat indah. Ayo, sini, kamu lihat sendiri jika tidak percaya!” bujuk Uhit Miou dengan semangat.

Bura’ pun terpengaruh ajakan Uhit Miou. Benar yang dikatakan Uhit Miou. Indah sekali pemandangannya. Air terjun itu mengalir ke bawah dan membuat gelombang, lalu menyembur tanpa lelah. Daun-daun kayu di sekitar sini juga melambai-lambai tertiup angin sepoi. Sesaat Bura’ lupa akan ketakutannya.Namun, itu membuatnya kurang hati-hati.

“CEBYUURR!!”

Bura’ jatuh ke dasar air terjun.

Bukannya menolong, Uhit Mio malah mengambil hasil tangkapan ikan dan udang Bura’ dengan gembira.

Badan Bura’ hanyut dibawa arus sungai, dan melewati anak ayam dan induknya yang sedang mematuk biji-bijian. Anak ayam melihat tubuh Bura’ dan berkata, “Ibu! Bura’ terbawa arus sungai, ayo kita tolong!”.

Induk ayam menggelengkan kepalanya, “Untuk apa kita tolong manusia? Mereka sering menangkap kita untuk dimakan.”

Anak-anak ayam tidak berani membantah induknya.

Tubuh Bura’ kembali terbawa arus sungai, dan melewati anak anjing dan induknya.

“Ibu!” teriak anak-anak anjing itu. “Lihat, tubuh Bura’ hanyut terbawa arus sungai. Mari kita tolong dia!”

Induk anjing menggelengkan kepala, “Manusia makhluk yang serakah. Kita sering membantu mereka berburu. Namun, apakah mereka membagi hasilnya dengan adil? Tidak! Kita hanya diberi tulangnya saja. Jadi, untuk apa kita menolong manusia,” jelas induk anjing kepada anaknya.

Sama seperti anak-anak ayam, para anak anjing ini juga tidak berani membantah ibunya.

Tubuh Bura’ terbawa arus sungai melewati tempat sapi dan induknya yang sedang merumput.

“Bu, lihat! Itu Bura’. Kasihan sekali tubuh Bura’ penuh luka. Kita tolong, yuk!” bujuk anak sapi.

“Anakku yang baik, untuk apa kamu capek-capek menolong manusia? Saat anak-anak mereka menikah, tubuh kita jadi sasaran tombak, kemudian dihidangkan untuk makanan pesta,” kata induk sapi sambil mengeluarkan suara lenguhan keras. Anak sapi diam.

Tubuh Bura’ melewati tempat anak kerbau dan induknya yang sedang berkubang. “Eh, Ibu! Lihat! Tubuh Bura’ hanyut terbawaarus. Kita tolong dia, ya?” kata anak kerbau.

“Buat apa kamu tolong manusia yang suka menyembelih kita. Biarkan saja!” seru induk kerbau.

Anak kerbau pun diam dan tidak berani menatap induknya.

“Ibu, sini, sini, lihat! Di sana!” seru anak-anak kucing.

“Ada apa?” tanya induknya.

“Bukankah itu Bura’? Dia hanyut terbawa arus. Kita tolong, yuk!”

“Ayo, anakku. Mari kita tolong Bura’. Memang banyak manusia yang jahat. Tetapi Bura’ sangat baik. Dia tidak pernah memukul kita,” ujar induk kucing.

Mereka pun segera menarik tubuh Bura’ dan berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa. Berkat doa tulus induk kucing dan anaknya, maka Tuhan pun berkenan dan meniupkan roh kehidupan kepada Bura’.

Bura’ sangat berterima kasih kepada induk kucing dan anak-anaknya. Mereka diajak tinggal bersama Bura’. Setelah dewasa dan menikah, Bura’ selalu berpesan kepada anak cucunya untuk bersikap baik kepada semua binatang, khususnya kucing.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply