Author: Purwandi Editor: Triani Retno A Illustrator: Wafiq Sehat Translator: Diah Dwi Arti Proofreader: Ratih Soe Origin: Jawa Tengah

Gendu anak laki-laki yang tampan. Kulit tubuhnya kuning langsat, bersih, dan bercahaya. Mirip pangeran dari kerajaan meskipun ia hanyalah anak sepasang pencari kayu bakar yang miskin.

Sayangnya, Gendu tak pernah mau pergi bersama kedua orangtuanya ke hutan mencari kayu bakar. Ia pun tak mau bertandang ke desa tetangga. Ia malu mempunyai orangtua yang hitam, dekil, dan miskin.

Setiap pagi, saat Gendu masih tidur mendengkur, Bapak dan Emak sudah berangkat ke hutan. Menjelang siang, Gendu baru bangun. Yang dibuka pertama kali adalah tudung saji di atas meja kayu yang telah kusam dan lapuk. Semua yang terhidang itu dimakannya. Setelah itu, ia pergi dan bermain dengan anak-anak orang kaya.

Selama ini Gendu mengaku pada mereka bahwa dirinya anak bangsawan. Ia tak pernah mengakui Bapak dan Emak sebagai orangtua kandungnya.

Suatu hari, ia kepergok tiga orang pemburu yang mampir ke rumah. Saat itu ia sedang makan bersama kedua orangtuanya.

“Lho, kok, Raden Gendu berada di sini?” tanya salah seorang di antara mereka. Orang-orang selalu memanggil Gendu dengan sebutan Raden karena mengira Gendu benar-benar anak bangsawan.

“Aku bermain terlalu jauh sehingga tersesat. Untunglah aku bertemu dengan bekas pelayan orangtuaku,” jawab Gendu berdusta.

Tiga pemburu itu percaya.

“Kalau Raden Gendu takut pulang sendirian, mari kita pulang bersama-sama,” ajak pemburu kedua.

Mendengar kata-kata Gendu, betapa remuk-redam hati Bapak dan Emak. Putra kesayangan mereka itu sudah terang-terangan tak mau mengakui mereka sebagai orangtuanya. Mereka berdoa pada Tuhan agar sang anak sadar dari keangkuhannya.

Setelah tiga pemburu itu pergi, Gendu langsung meninggalkan meja makan sambil mendengus kasar,

“Huuuhhh…! Bapak dan Emak telah mempermalukan Gendu!”

“Mempermalukan bagaimana, Nak?” tanya Emak tak mengerti.

“Emak tidak bilang akan ada orang datang kemari!” kata Gendu.

“Kenapa harus bilang sama kamu, Nak, kalau ada orang datang?” tanya Bapak yang sejak tadi diam.

“Gendu malu! Orang-orang akhirnya tahu Gendu bukan anak bangsawan. Gendu hanya anak pencari kayu bakar yang miskin. Gendu malu…, malu… malu sekali!” seru Gendu berkali-kali.

Mendengar kata-kata Gendu yang sudah keterlaluan itu, Bapak dan Emak hilang kesabaran.

“Bapak dan Emak sudah sekian lama bersabar hati dan berkorban perasaan demi menyenangkanmu, Nak! Tapi tenyata kamu semakin tak tahu diri!” seru Bapak.

“Kalian yang tak tahu diri!” tukas Gendu. “Mungkin Gendu memang anak bangsawan tapi kalian telah menculik Gendu. Gara-gara perbuatan kalian, Gendu jadi menderita, miskin, dan terhina!”

“Gendu, sadarlah kamu, Nak. Kamu memang anak kandung Emak dan Bapak. Emak yang melahirkanmu. Maafkan Emak dan Bapak bila tidak bisa membahagiakanmu,” ujar Emak dengan berurai air mata.

“Tidak! Gendu tidak percaya! Kalian bukan orangtua kandung Gendu. Buktinya, kita tidak mirip. Gendu tampan dan bersih,sedangkan kalian hitam dan jelek!” bantah Gendu.

“Baiklah, Nak,” lanjut Emak, “kalau kamu menyesal menjadi anak Emak dan Bapak, dan malah menuduh kami telah menculikmu dari orangtuamu yang bangsawan, silakan cari orangtuamu itu! Emak dan Bapak ikhlas melepas kamu pergi!”

Kemudian, Gendu meninggalkan rumah. Ia berniat mencari orangtua yang diyakininya sebagai orangtua kandungnya. Namun, yang ia cari tak pernah ditemui.

Seiring waktu, Gendu menjadi olok-olok. Wajahnya yang tampan dan bersih berubah menjadi kotor. Pikirannya sibuk mencari orangtua bangsawan khayalannya sehingga ia tak sempat mandi. Tubuhnya kurus kering dan terbalut pakaian compang-camping seperti gelandangan.

Dalam kondisi yang menyedihkan itu, Gendu akhirnya sadar dan menyesal telah meninggalkan kedua orangtua kandungnya. Ia pulang ke desa, ingin memohon ampun kepada Emak dan Bapak.

Tetapi, ternyata gubuk mereka telah lenyap disapu angin puyuh yang menyerang desa beberapa bulan lalu. Emak dan Bapak telah pergi tak tentu rimbanya.

Dalam kesedihan dan penyesalan, Gendu terus mencari Emak dan Bapak sambil menangis pilu. Lambat laun, tanpa ia sadari, tubuhnya berubah menjadi sesosok makhluk sejenis serangga. Bila bersuara, seperti anak yang menangis sedih.

Penduduk setempat menamakan binatang kecil mirip lalat besar itu Kinjeng Tangis, yaitu semacam capung yang bersuara melengking, seperti suara anak kecil yang menangis pilu. Konon, itu tangisan Gendu yang menyesali perbuatannya sambil memanggil-manggil kedua orangtuanya.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply