Author: Ratih Soe Editor: Triani Retno Illustrator: Dameria Damayanti Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Papua

Siang itu matahari bersinar terang di Pegunungan Bumberi di Fakfak, Papua Barat. Seorang perempuan dan anjing betinanya lelah berjalan karena tak kunjung menemukan makanan.

“Hei, lihat! Ada buah pandan segar,” kata perempuan itu. “Makanlah dulu, Anjingku. Kau kelihatan sangat kelaparan.”

“Guk, guk!” Si Anjing menggoyang-goyangkan ekornya dengan gembira. Ia makan dengan lahap. Tubuhnya terasa segar. Perutnya kenyang.

Beberapa saat kemudian perempuan itu tampak cemas. “Oh, Anjingku, kenapa perutmu tiba-tiba membesar? Kau sakit?”

Tak disangka, anjing itu melahirkan seekor anak anjing yang lucu.

“Aku juga ingin punya anak.” Perempuan itu memungut sebutir buah pandan, lalu memakannya. Lalu perempuan itu melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinamainya Kweiya.

Setelah Kweiya besar, dia membantu ibunya merambah hutan dan bercocok tanam. Dengan sebilah kapak batu, Kweiya menebang satu pohon per hari.

Suatu hari, ketika Kweiya sedang menebang pohon, seorang pria tua menghampirinya. “Lama sekali kalau kau bekerja dengan kapak itu. Ini, kupinjamkan kapakku,” ujarnya. Ia menyorongkan kapak besi miliknya kepada Kweiya.

Dengan kapak besi itu, Kweiya berhasil menebang beberapa pohon dalam sehari.

“Kweiya, bagaimana mungkin kau menebang banyak pohon hari ini?” ibunya terheran-heran.

“Hari ini tanganku terasa sangat ringan.” Kweiya tidak ingin terburu-buru mengenalkan pria itu kepada ibunya. “Bu, aku lanjutkan pekerjaanku dulu, ya.”

Kweiya kembali bekerja, sedangkan ibunya menyiapkan makan siang yang lezat.

“Kweiya, tinggalkan dulu pekerjaanmu!” panggil ibunya. “Masuklah. Waktunya makan.”

Kweiya menyandarkan seikat besar batang tebu di dinding luar rumahnya. Ternyata, ia menyembunyikan pria tua itu di balik batang-batang itu.

“Bu, tadi aku membawa tebu. Kuletakkan di luar.”

“Minum air tebu setelah makan pasti nikmat sekali,” seru Ibu sambil berjalan ke luar untuk mengambil sebatang tebu. Namun, tiba-tiba muncul seorang pria dari balik ikatan tebu. Ibu terkejut dan berteriak, “Aaa! Siapa kau?! Apa maumu?”

Kweiya datang menghambur dan menenangkan ibunya. “Maaf, Bu, aku tak bermaksud mengagetkan Ibu. Pria inilah, Bu, yang telah membantuku menebang begitu banyak pohon dengan kapak besinya. Aku harap Ibu sudi menerimanya sebagai teman hidup Ibu. Bukankah ia telah berbuat baik kepada kita?”

Tanpa ragu, Ibu menerima usul Kweiya. Mereka bertiga hidup bahagia. Beberapa tahun kemudian, Ibu melahirkan dua orang anak laki-laki. Sayangnya, hubungan Kweiya dan kedua adik laki-lakinya tidak pernah akrab. Di setiap kesempatan, adik-adik tiri Kweiya selalu membicarakan hal buruk tentang kakak mereka.

“Kenapa, sih, Ayah dan Ibu lebih sayang pada Kakak Kweiya? Kakak tidak pernah dimarahi. Tiap hari selalu dipuji.”

“Ayah dan Ibu hanya sayang Kakak Kweiya. Mereka tidak sayang kita. Mari kita singkirkan Kakak!”

Suatu hari, ketika orangtua mereka sedang pergi mencari ikan, Kweiya dikeroyok oleh adik-adiknya hingga terluka parah. Luka di hatinya lebih parah tapi ia tak ingin orangtuanya sedih melihat perseteruan anak-anak mereka. Jadi, ia mengambil dua utas tali dari kulit pohon. Seutas tali diselipkannya di koba-koba*) di sudut rumah. Kweiya lalu pergi dengan seutas tali yang lain terikat di jari kakinya.

Tak lama kemudian, orangtua mereka pulang.

“Di mana kakakmu Kweiya?” tanya Ibu.

Hening.

Kedua pemuda itu saling menyikut.

Ibu tak sabar melihat aksi diam kedua anaknya. “Kweiya! Kweiya!!!” teriaknya.

“Cuiiit… Cuiiit…!” seekor burung yang berbulu sangat indah menyahut nyaring. Burung itu meloncat-loncat di atas bubungan rumah, lalu pindah ke dahan pohon di dekat rumah mereka. Di kakinya ada seutas tali dari kulit pohon.

Ibu Kweiya mengenali tali itu. Ia lalu menangis tersedu-sedu. “Kweiya… Kweiya…  Pulanglah, Anakku…”

“Cuiiit… Cuiiit… Ibu…”

“Kweiya Anakku, adakah kau sisakan seutas tali untuk ibumu?”

Kweiya yang telah berubah menjadi burung itu menyahut, “Aku sisipkan seutas di koba-koba, Bu.”

Setelah menemukan tali itu, Ibu mengepitnya. Ia pun berubah menjadi burung cendrawasih yang berbulu indah seperti anaknya. Ia lalu menyusul Kweiya ke atas dahan.

Hati Ayah remuk redam. Begitu sedihnya hingga ia jatuh sakit. Semakin hari, sakitnya semakin parah hingga akhirnya meninggal dunia. Kedua adik laki-laki Kweiya saling menyalahkan, lalu saling melemparkan abu tungku sehingga wajah mereka menjadi kelabu hitam. Mereka pun berubah menjadi burung yang berbulu kusam, tak seindah burung cendrawasih.

Hari berganti, waktu berlalu. Di dalam hutan, Kweiya kembali bertemu dengan kedua adik laki-lakinya.

“Kakak Kweiya, maafkan aku.”

“Iya, Kak, aku juga minta maaf. Karena perbuatanku, keluarga kita tercerai-berai.”

“Sudah, jangan bersedih. Kakak sudah maafkan kalian. Percayalah.”

“Bagaimana nasib Ibu, Kak?”

“Kakak akan jaga Ibu. Tenang saja. Ibu juga sudah memaafkan kalian. Hiduplah yang rukun. Jangan berkelahi lagi, ya.”

Kedua adik Kweiya mengangguk. Mereka sungguh-sungguh menyesali perbuatan mereka. Sekarang, mereka bertekad akan saling menjaga, sesuai pesan terakhir ayah mereka.

***

*) koba-koba = payung tikar

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply