Author: Lina Lina Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Rizky Adeliasari Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Sulawesi Tengah

Di sebuah kerajaan, ada seorang Raja yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sang Raja sering bersedih dan melamun.  “Siapa yang akan menjadi pewaris mahkota kerajaan ini?” gumamnya.
Raja mempunyai tiga orang anak dari Ibu Selir. Siapa di antara mereka yang akan menggantikannya? Melihat perangai ketiga anaknya, Raja bersedih, karena ketiga anaknya tidak akan rela bila salah seorang di antara mereka dipilih. Bila salah seorang dipilih, yang dua orang lagi pasti akan protes, bahkan memberontak.
Maka, Raja berbicara kepada ketiga orang anaknya, “Anak-anakku, Ayahanda sudah tua, sudah waktunya melepaskan mahkota raja. Untuk memilih pengganti Ayah, kalian harus becermin di cermin ajaib. Ini adalah cermin warisan nenek moyang kita. Cermin ini mampu memantulkan isi hati seseorang. Siapa yang di cermin itu terlihat indah dan tampan, dialah yang berhak menggantikan Ayah. Bersiaplah kalian untuk becermin di depan cermin ajaib.”
Ketiga anak raja itu pun mempersiapkan diri. Anak pertama mendadak membuat pakaian yang indah dan mahal, serta mempelajari ilmu sihir. Anak kedua langsung mencari perhiasan yang indah dan mahal. Anak ketiga membeli kosmetik termahal yang bisa membuat seseorang menjadi tampan.
“Bagaimana, kalian sudah siap?” tanya sang Raja.
“Kami siap, Ayahanda,” jawab ketiga anak raja bersamaan.
Anak pertama maju, melangkah dengan penuh percaya diri. Dia segera berdiri di depan cermin. Hiiiy! Raja bergidik melihat wajah sulungnya di cermin. Wajah tampannya terlihat keriput dan jelek. Si sulung mundur perlahan dengan kesal. “Kenapa bisa begini? Aku sudah membaca mantra berulang,” gumamnya.
Kini giliran anak kedua. Tak kalah dengan kakaknya, dia pun melangkah dengan percaya diri. Sampai di depan cermin, Raja kembali bergidik. “Kenapa wajahmu menjadi kecil dan rusak?” gumam Raja. Anak kedua pun mundur sambil menunduk menahan malu.
Anak ketiga yang merasa paling tampan maju dengan percaya diri. Sampai di cermin, awalnya  Raja melihat sesuatu yang indah. Wajah si bungsu begitu tampan. Namun, tiba-tiba saja wajah itu berubah menjadi hitam pekat.
Raja sangat sedih. “Kalau anakku begini semua, siapa yang akan menggantikanku menjadi Raja? Aku sudah terlalu tua,” keluh Raja.
Raja pun mengadakan sayembara. Siapa pun boleh berkaca di cermin ajaib. Barangsiapa yang pantulan dirinya indah dan tampan, dialah yang berhak menjadi raja. Utusan kerajaan lalu mengumumkan sayembara ini sampai pelosok negeri.
Tidak lama, di istana banyak sekali orang berkumpul. Mereka semua akan mencoba mengikuti sayembara.
Satu per satu mereka becermin, namun tak ada satu pun yang berhasil. Semua wajah yang terpantul dari cermin ajaib tidak seindah wajah aslinya.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Raja masih setia menanti peserta sayembara. Sampai suatu hari, terjadi keributan kecil di gerbang istana.
“Pergi sana!” seru seorang pengawal.
“Anak saya mau ikut sayembara, tolong izinkan saya masuk,” pinta seorang ibu dengan baju lusuh seperti pengemis.
“Ha ha ha.  Wajah buruk begitu mau mencoba sayembara?” sindir pengawal yang lain.
Si ibu tidak perduli dengan perkataan para pengawal itu. Dia terus memaksa sambil mendorong gerbang kerjaan. Tiba-tiba, pintu terbuka dari dalam.
“Ada apa gerangan? Kenapa dari tadi ribut terus?” tanya Raja yang kebetulan sedang berkeliling istana.
“Ampun Paduka Raja, maaf, wanita ini memaksa masuk. Anaknya yang buruk rupa dengan pakaian seperti pengemis itu ingin mengikuti sayembara,” kata pengawal.
“Suruh masuk!” perintah Raja.
Di hadapan Raja, anak yang buruk rupa itu becermin. Awalnya, di cermin ajaib muncul wajah tampan bercahaya.
”Jangan-jangan, sama seperti anakku yang ketiga, setelah ini berubah menjadi hitam,” pikir Raja.
Namun, setelah beberapa saat anak buruk rupa itu berdiri, terjadi peristiwa aneh.
Waaah! Mulut Raja menganga. Cermin itu menunjukkan pantulan wajah yang semakin bercahaya. Itu adalah cahaya indah dari wajah si buruk rupa.
Raja sangat senang. Dia sudah memiliki calon penggantinya.
“Paduka Raja, sebenarnya dia adalah anakmu. Sedangkan aku adalah permaisuri yang dulu kau usir dari kerajaan. Ini semua karena ulah Ibu Selir. Dia telah memfutnahku,” ungkap ibu anak itu.
Raja terkejut. Ibu Selir dan ketiga anaknya ketakutan. Mereka perlahan menggerakkan kaki, siap melangkah kabur dari kerajaan.
“Jadi, Permaisuri tidak bersekongkol dengan musuh kerajaan?”
“Kalau bersekongkol, kami tidak akan semerana ini. Kami mungkin sudah diajak ke negara musuh.”
“Kalau begitu, Ibu Selir dan anaknya harus dihukum!” titah Sang Raja. ”Pengawal …,”
“Maaf Ayahanda, tidak perlu menghukum mereka. Kami sudah memaafkan mereka. Sekarang kita bangun kerajaan ini dengan kerukunan dan kebersamaan,” kata si buruk rupa.
Semua sangat terharu dengan perkataan si buruk rupa. Tahta kerajaan akhirnya turun kepada orang pilihan.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply