Author: Kiki Lie Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Rizky Adeliasari Translator: Erna Fitrini Proofreader: Ratih Soe Origin: Kalimantan Tengah

“Hi hi hi!” Suara tawa nenek sihir terdengar menyeramkan. Nenek buruk rupa itu baru saja turun seorang diri dari bukit batu tempatnya balampah. Bukit batu itu berbentuk aneh, batu-batunya seperti disusun dengan rapi.

Mendengar suara tawa yang menyeramkan itu, Puteri Intan ketakutan. Jantungnya berdetak kencang. Sambil berjalan mundur, ia mengelus dada. Tak berani ia mengarahkan pandangan ke arah nenek sihir.

“Gadis cantik, siapa namamu? Kenapa kamu ada di tengah hutan ini?” tanya si nenek sihir. Dengan ujung tongkat, ia mengangkat dagu Puteri Intan agar dapat melihat wajahnya.

“Aku Puteri Intan. Ayahandaku, Raja Kalang, telah mengusirku dari istana,” jawab Puteri Intan dengan suara bergetar.

“Emmm, kebetulan sekali aku bertemu dengan gadis yang terbuang. Aku akan menyihirmu menjadi seekor binatang dengan ilmu yang baru kuperoleh, hi hi hi!” tawa nenek sihir.

“Ampun, Nek! Jangan sihir aku!” pinta Puteri Intan mengiba.

Berkali-kali Puteri Intan mengiba, namun nenek sihir itu tidak menghiraukannya. Nenek itu kemudian membaca mantra sambil mengacung-acungkan tongkat. Tak pelak lagi, Puteri Intan terkena sihir. Pusaran asap hijau mengangkat tubuh Puteri Intan, lalu merubahnya menjadi seekor burung tingang.

Wkwkwk! Burung tingang berkicau merdu. Tingang jelmaan Puteri Intan memiliki warna bulu biru. Paruhnya berwarna merah, sangat besar dan melengkung bercula.

“Menurut wangsit saat aku balampah, sihir di tubuhmu akan hilang jika kamu bertemu dengan pemuda yang bisa membawamu kembali ke istana,” ucap nenek sihir.

Usai menyihir Puteri Intan, nenek itu tiba-tiba menghilang. Burung tingang terbang ke sana kemari sambil berkicau. Sejak itu, burung tingang hidup di tengah hutan tersebut. Ia terbang dari satu pohon ke pohon lainnya mencari makanan.

Pada suatu hari dari kejauhan nampak burung tingang jantan mengeluarkan suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar itu berusaha menarik perhatian burung tingang jelmaan Puteri Intan.

“Ya, Hatalla. Apakah dosaku? Belum cukupkah cobaan yang Kau izinkan terjadi?” batin Puteri Intan. Dalam wujud burung tingang, Puteri Intan selalu berharap kepada Tuhan agar dapat kembali menjadi manusia dan berkumpul kembali dengan orangtuanya.

Agar dapat menghindari burung tingang jantan itu, Puteri Intan terbang mencari makanan di  sebuah pohon beringin yang berbuah lebat. Selesai makan, betapa terkejutnya ketika ia akan meninggalkan pohon itu. Kakinya terikat oleh perangkap sehingga tidak dapat bergerak. Segala cara ia coba. Ia mematuki perangkap itu dengan paruh merahnya yang sangat besar. Meskipun sudah meronta-ronta dengan sekuat tenaga, Puteri Intan tetap tidak dapat melepaskan diri dari perangkap.

Tak lama kemudian, Puteri Intan mendengar langkah seseorang yang mendekat. Ia pun berkicau merdu sambil meronta-ronta untuk menarik perhatian.

Langkah itu ternyata milik seorang pemuda tampan bernama Dohong. Ia bermaksud memeriksa perangkap yang dipasangnya kemarin.

Pemuda itu sangat gembira saat melihat seekor burung tingang meronta-ronta terkena perangkapnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera naik pohon untuk mengambil burung tangkapannya. Lalu, ia memasang kembali perangkapnya.

“Wah, cantik sekali burung ini! Kicauannya pun sangat merdu. Baru kali ini aku memperoleh burung secantik ini,” ucap Dohong dengan kagum.

Dengan perasaan senang, Dohong membawa pulang burung itu untuk dipelihara. Ia pun memasukkannya ke dalam sangkar rotan. Ia merawat burung tingang itu dengan sangat teliti.

Keesokan harinya Dohong kembali ke tengah hutan. Namun, tak seekor pun burung yang diperolehnya. Menjelang siang ia memutuskan untuk pulang.

Betapa terkejutnya ketika Dohong sampai di pondoknya. Ia melihat makanan lezat telah tersaji dan siap untuk disantap. Ia segera makan dengan lahap, tanpa memikirkan siapa yang telah menyiapkan makanan tersebut.

Kejadian aneh tersebut terulang hingga tiga hari berturut-turut. Dohong mulai penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan semua itu.

Pada hari berikutnya, pemuda tampan itu berpura-pura hendak memeriksa perangkapnya. Sebelum hari menjelang siang, ia masuk pondok dengan langkah hati-hati. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat pusaran asap hijau keluar dari sangkar burungnya. Seorang gadis cantik keluar dari asap itu. Ia terpana melihat kecantikan gadis itu. Ia pun menghampirinya.

“Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Dohong.

“Ampun, Tuan! Aku adalah Puteri Intan dari Kerajaan Kalang. Nasib buruk telah menimpaku. Ayahandaku mengusirku dari istana. Setelah itu, seorang nenek menyihirku menjadi burung tingang saat aku berada di tengah hutan,” jelas Puteri Intan.

“Maaf, Tuan Puteri! Mengapa Tuan Puteri diusir dari istana?” tanya Dohong sambil menunduk memberi hormat.

Puteri Intan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Setelah itu, ia meminta kepada Dohong agar mengantarnya kembali ke istana. Jika Dohong memenuhi permintaannya, maka sihir nenek itu akan hilang dengan sendirinya.

“Baiklah, Tuan Puteri! Saya bersedia mengantar Tuan Puteri ke istana,” ujar Dohong.

Keesokan harinya, mereka berangkat ke istana. Selama dalam perjalanan, Puteri Intan tidak pernah lagi berubah wujud menjadi burung tingang. Pengaruh sihir nenek itu telah hilang.

Sesampainya di istana, Dohong dan Puteri Intan menghadap Raja Kalang. Dohong menceritakan semua yang dialami Puteri Intan kepada Raja Kalang dan permaisuri. Akhirnya, Raja Kalang pun mengerti bahwa puterinya difitnah oleh seorang dayang istana.

“Maafkan Ayahanda, Puteriku! Ayah telah membuatmu menderita,” ucap Raja Kalang.

Raja Kalang pun menghukum dayang yang telah memfitnah puterinya. Dayang itu dipenjara. Sedangkan Dohong dan Puteri Intan akhirnya menikah dan dinobatkan menjadi pewaris tahta Kerajaan Kalang. Mereka pun hidup berbahagia.

Balampah : semedi, bertapa.
Hatalla : Tuhan.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply