Author: Nur Baidha Editor: Triani Retno Illustrator: Art Lus Translator: Dameria Damayanti Proofreader: Ratih Soe Origin: Sumbawa

Alkisah, dahulu kala di Pulau Sumbawa, hiduplah seorang petani yang sangat rajin. Ia mengerjakan sawahnya seorang diri. Namun, ia selalu bersyukur dan tak pernah mengeluh.

Suatu hari, ia meminjam bajak pada temannya untuk mengerjakan sawahnya.

“Musim hujan telah datang. Aku ingin segera menggarap sawah. Bolehkah aku meminjam bajakmu?” pintanya.

“Tentu saja boleh. Namun, ada syaratnya.”

“Syaratnya apa?”

“Kau harus mengembalikan bajakku tanpa cacat, patah, dan rusak,” sahut temannya.

“Baiklah. Aku terima syaratmu,” ujar si petani, bahagia.

Si petani mulai menggarap sawah dengan bajak itu. Namun sayang, kerbau yang dipakai untuk membajak tidak bisa dikendalikan. Kerbau menabrak pematang sawah dan membuat bajak menjadi patah. Melihat bajak yang patah, si petani merasa sedih.

“Malang benar nasibku,” bisiknya dalam hati.

Si petani berusaha mengganti bajak itu dengan bajak yang lebih bagus. Dibelinya sebuah bajak baru. Ia berharap si teman mau memaafkan. Namun, ternyata bajak baru itu ditolak mentah-mentah.

“Aku tidak mau menerima bajak itu! Kembalikan bajakku seperti sediakala!” amuk si teman.

Si petani tidak putus asa. Iaberusaha memperbaiki bajak yang rusak. Menempelnya dengan berbagai ramuan dan memakunya dengan pasak paling kuat. Namun, temannya tetap tidak mau menerima bajak itu.

“Kan, sudah kubilang, aku tidak mau bajakku terlihat cacat! Lihat tempelan dan pasakmu itu! Jelek sekali,” gerutunya.

Si petani merasa bingung. Apa yang harus dilakukan? Sesuatu yang patah tidak mungkin disambung lagi. Kalaupun, bisa disambung, tidak mungkin dapat menyerupai bentuk semula.

Si petani memutuskan untuk pergi menghibur diri ke gunung, mencoba melupakan bajak yang patah. Ia merasa senang hidup di gunung. Memakan buah-buahan yang tumbuh liar dan berburu rusa. Daging rusa panggang sangat enak. Namun, nikmatnya kehidupan di gunung tidak mampu membuatnya melupakan bajak yang patah.

Suatu hari, si petani merasa lapar. Tak seekor rusa pun berhasil diburunya. Ia malah bertemu dengan seekor ular. Karena merasa takut, ia berusaha membunuh ular itu. Usahanya berhasil.

Karena lapar, ia memotong-motong tubuh ular itu. Bagian kepala dan ekor dibiarkannya tergeletak begitu saja di atas tanah. Bagian tubuh lainnya, dipotong kecil-kecil dan dijepit pada bambu untuk dipanggang.

Tiba-tiba, dari arah belakang tubuhnya, terdengar suara berdesis. Ia menoleh dan terbelalak kaget. Ada banyak ular merayap ke arahnya. Ia segera berlari dan memanjat pohon tinggi-tinggi.

Diamatinya ular-ular itu dari atas pohon. Ular-ular itu mengumpulkan tubuh ular yang telah mati, lalu mengatur tubuhnya dari kepala hingga ekor. Kemudian, satu per satu ular-ular itu menghampiri sebatang pohon. Ular-ular itu menyobek batang pohon, lalu mengunyahnya sampai halus. Kunyahan itu disemburkan pada tubuh ular yang telah mati.

Setelah seluruh tubuh ular yang mati itu tertutup semburan, keajaiban terjadi. Ular yang mati itu bergerak dan hidup kembali tanpa bekas luka. Kemudian, ular-ular itu pergi.

Si petani termangu di atas pohon. Ia takjub melihat ular yang hidup kembali. Seketika itu ia teringat bajak yang patah. Apakah mungkin bajak yang patah dapat disambung dengan semburan batang pohon itu?

Bergegas ia turun dari pohon. Ia memotong batang pohon yang telah disobek oleh ular-ular tadi.

“Aku harus segera kembali ke desa. Mudah-mudahan Tuhan memberiku keajaiban yang sama,” gumamnya.

Sampai di rumah, ia mengunyah kayu dari batang pohon itu, kemudian menyemburkannya pada bajak yang telah patah. Keajaiban serupa terjadi. Bajaktersambung seperti sediakala. Tak ada bekas patah sedikit pun. Dengan wajah ceria, si petani membawa bajak itu kepada temannya.

“Sungguh aku tidak percaya. Bagaimana bisa kau menyambung bajak itu tanpa ada bekas sedikit pun? Jangan-jangan ini bukan bajakku,” sahut temannya penuh curiga.

Si petani menceritakan pengalamannya selama di gunung. Sang teman merasa takjub. Walau cerita si petani terkesan mustahil, namun bajak yang diterimanya persis seperti bajak miliknya.

Setelah kejadian itu, si petani menjadi terkenal. Banyak orang datang padanya untuk menyambung benda yang patah, bahkan menyembuhkan patah tulang. Kayu yang dipakai si petani itu dikenal dengan sebutan kayu ular. Hingga kini, beberapa sandro (dukun) di Sumbawa masih menyakini semburan kayu ular mampu mengobati patah tulang.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply