Author: Anisa Wijayanti Editor: Aan Wulandari Illustrator: Dameria Damayanti Translator: Dameria Damayanti Proofreader: Ratih Soe Origin: Sumatera Utara

Siang ini sangat terik, matahari sepertinya sedang ingin menampakkan kekuatannya. Di tengah sawah, Pak Toba mengelap keringatnya yang bercucuran. Namun, badannya tetap basah oleh keringat.

“Kruuuk … kruuuuk,” perut Pak Toba mengeluarkan bunyi yang nyaring, tanda dia sudah sangat lapar.

“Ah, seandainya saja aku punya seorang istri, tentu dia yang mengantar bekal makan siang setiap kali aku berladang,” Pak Toba bergumam seorang diri.

Lapar dan lelah yang dirasakannya tak tertahan lagi. Pak Toba segera menghentikan kegiatan berladangnya. Dia bergegas pergi ke sungai untuk memancing ikan, berharap mendapatkan ikan untuk dibakar sebagai menu makan siang.

Lama sekali Pak Toba menunggu, akhirnya mata pancingnya disambar ikan yang sangat besar. Pak Toba kegirangan. Lapar yang dirasakannya akan segera hilang. Tanpa menunggu lama, Pak Toba segera membawa ikan besar itu pulang ke gubuknya di pinggiran desa.

Sesampainya di rumah, Pak Toba berniat cepat-cepat menyalakan api untuk membakar ikan. Namun, kaya bakarnya habis. “Aku akan mengambilnya dulu di kebun,” gumamnya.

Sepulang dari mengambil kayu, alangkah terkejutnya Pak Toba ketika melihat makanan sudah tersaji lengkap di dapurnya.

Tak lama, keluarlah seorang gadis cantik jelita, “Selamat menikmati makan siangmu, Pak Toba,” ucapnya ramah.

Tanpa pikir panjang, Pak Toba langsung melahap semua masakan yang disediakan gadis cantik jelita itu.
Saat Pak Toba makan, si gadis cantik memperhatikannya dengan gembira. “Kau terlihat sangat lapar,” ucapnya.

Pak Toba kini telah kenyang, dia pun  bertanya asal-usul si gadis cantik jelita.

Gadis itu bercerita bahwa dia adalah ikan yang ditangkap Pak Toba, alangkah terkejutnya Pak Toba.

Melihat parasnya yang cantik dan kepandaiannya memasak, Pak Toba langsung meminta gadis cantik untuk menjadi istrinya. Sang Putri Ikan setuju, tapi dia mengajukan syarat agar Pak Toba tak lagi memanggilnya Putri Ikan, dan tak boleh menceritakan asal-usulnya. Pak Toba pun menyetujuinya.

Pak Toba pun menikah. Mereka dikarunia seorang anak yang diberi nama Samosir.

Suatu hari, istri Pak Toba meminta Samosir mengantar makanan untuk Pak Toba yang sedang bekerja di ladang. Di tengah jalan, Samosir merasa lapar. Dia pun memakan sebagian besar makanan-makanan itu. Tersisalah sedikit nasi dan lalapan untuk Pak Toba.

Pak Toba yang kelaparan sungguh sangat marah mendapati anaknya telah memakan sebagian besar lauk untuknya. “Dasar anak ikan!” ucap Pak Toba dengan kasar.

Samosir menangis, dia tak terima dikatakan sebagai anak ikan. Dia segera berlari pulang dan mengadu pada ibunya.

“Huuu, Ayah mengatai aku anak ikan, Bu,” ucapnya pada sang ibu setibanya di rumah.

“Apa? Dia mengatakan itu?” Putri Ikan sangat terkejut. “Pergilah kau ke bukit tertinggi di desa ini anakku, selamatkan dirimu!” ucap Putri Ikan kemudian.

Samosir segera mengikuti perintah ibunya, dia berlari ke bukit tertinggi di desa itu. Sebelumnya, dia mengajak temannya, Lamtiur.

Putri Ikan sangat kecewa, Pak Toba tak bisa memegang janjinya. Segera dia meloncat ke sungai dan berubah wujud kembali menjadi ikan yang sangat besar. Tak lama banjir bandang terjadi di desa itu, Pak Toba yang sedang bekerja di ladang tak bisa menyelamatkan dirinya.

Pak Toba pun tenggelam, lama kelamaan air semakin memenuhi desa. Yang tersisa hanyalah Samosir dan Lamtiur. Akhirnya,Samosir dan Lamtiur hidup bersama di pulau itu dan memiliki keturunan di pulau itu. Desa yang terendam pun kini diberi nama Danau Toba sedangkan pulau yang tersisa dinamakan Pulau Samosir.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply