Author: Esti Asmalia Editor: Bambang Irwanto Illustrator: Dhamas Iki Translator: Proofreader: Origin: Bengkulu

Seorang kakek berjalan di depan istana Kerajaan Keramat Riak. Karena kelelahan, lelaki tua itu memutuskan untuk duduk di depan istana. Ia meletakkan jalanya di sebelahnya. Jala itu memakai pemberat yang berkilauan.

Dua orang penjaga istana merasa penasaran dengan benda berkilauan yang dibawa kakek itu. Terlebih lagi, sinar matahari membuatnya makin menyilaukan.

“Pemberat jala kakek bagus sekali. Apakah terbuat dari emas?” kata seorang prajurit.

“Benar. Benda ini adalah warisan leluhur. Kakek menggunakannya untuk mencari ikan setiap hari,” sahut sang kakek.

Kedua prajurit itu mengangguk-angguk. “Oh iya, bolehkah Kakek menumpang shalat dhuhur?”

“Tentu saja, Kek. Kakek bisa shalat di pendopo,” jawab keduanya nyaris berbarengan.

Saat sang kakek melaksanakan shalat, kedua prajurit itu mendekati jala tersebut. Penasaran, mereka mencoba mengangkatnya. Ternyata jala itu berat sekali. Tak ada yang mampu mengangkatnya. Mereka kemudian melaporkan kejadian itu kepada Raja Riak Bakau. Mendengar penuturan para prajuritnya, raja bergegas ke luar untuk melihat jala itu sekaligus menemui sang kakek.

“Wahai, Kakek. Apa benar jala emas ini milikmu?” tanya raja pada sang kakek.

“Benar, Baginda. Jala ini adalah milik hamba. Sebelumnya, terima kasih sudah mengijinkan hamba shalat di pendopo istana. Sekarang saya mohon pamit,” kata kakek itu seraya membungkuk hormat.

“Jangan pergi dulu, Kek. Aku ingin bicara!” sergah Raja Riak Bakau. “Aku ingin memiliki jala berantai emasmu.”

“Beribu maaf, Baginda. Jala ini adalah peninggalan leluhur dan harta hamba satu-satunya. Hamba tidak bisa memberikannya pada Baginda.”

“Berani sekali kau menolak permintaanku. Siapa pun yang berada di negeri ini harus mematuhi perintahku!” Ancaman raja tidak menggoyahkan pendirian sang kakek. “Cepat serahkan, atau aku sendiri yang akan mengambilnya!”

“Jika Baginda mampu, silakan saja..”

“Kau meremehkanku rupanya.”

Raja Riak Bakau mengangkat jala rantai emas itu. Jala itu tidak bergerak sedikit pun. Raja mengerahkan segenap kekuatannya. Tapi hasilnya sama saja. Kesal, raja kemudian memerintahkan prajuritnya untuk mengangkat jala itu. Lagi-lagi mereka gagal.

“Kalau begitu, kita adu ayam saja. Jika aku menang, jala itu menjadi milikku. Tapi jika aku kalah, kau boleh memiliki semua harta dan kekuasannku. Bagaimana?” tantang raja.

“Mohon maaf Baginda, hamba tidak bisa mengadu ayam,” elak sang kakek. Raja terus memaksa hingga akhirnya sang kakek menerima tantangan tersebut. Adu ayam akan diadakan tiga hari lagi di depan istana.

Berita adu ayam itu menyebar ke seluruh negeri. Seluruh rakyat ikut menonton. Ayam sang raja berbadan tegap dan gagah. Sementara milik sang kakek sebaliknya, kurus dan terlihat lemah. Melihatnya, raja tertawa mengejek. Ia yakin ayamnya akan menang.

Gong dipukul. Adu ayam dimulai. Ayam milik raja langsung menyerang ayam milik kakek. Sementara ayam kakek menghindar terus. Sesekali ayam kurus itu terjatuh, karena terkena serangan ayam raja. Meskipun begitu, ayam itu mampu bangkit lagi dan terus menghindari serangan ayam raja. Akhirnya ayam raja kehabisan tenaga. Saat itulah ayam kakek menyerang balik. Karena kelalahan, ayam raja tak bisa menghindar dan akhirnya kalah.

Meskipun demikian, raja enggan menepati janji untuk menyerahkan harta dan kekuasaannya. Malahan, ia menantang kakek itu untuk kembali bertarung.

“Ampun Baginda. Saya tidak menginginkan apa pun dari Baginda. Hamba hanya ingin pergi membawa jala milik hamba ini,” kata sang kakek.

Akhirnya, raja mengijinkan kakek itu pergi. Sebelum pergi, kakek itu melaksanakan shalat di pendopo. Sementara jala berantai emasnya ia tinggalkan di depan pendopo.

Saat kakek itu shalat, raja menyerangnya dari belakang. Rupanya ia masih ingin memiliki jala itu. Kakek itu terluka, tapi ia tetap melanjutkan shalatnya.

Selesai shalat, kakek itu mengambil empat buah lidi. Lidi-lidi itu kemudian ia tancapkan di empat sudut pendopo. Setelah itu, ia pergi begitu saja.

Para prajurit berusaha mencabutnya. Aneh, lidi yang rapuh itu tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya, Raja Riak Bakau terpaksa turun tangan.

Saat semua lidi tercabut, tiba-tiba air menyembur deras dari bekas tancapannya. Semburan itu terus membesar sampai akhirnya menenggelamkan seluruh negeri Keramat Riak. Rakyat di seluruh penjuru negeri berusaha menyelamatkan diri. Sementara raja dan pengikutnya memanjat pohon-pohon tinggi.

Tiba-tiba saja langit menjadi gelap, hujan deras turun disertai angin kencang. Raja dan para pengawalnya terombang-ambing sambil bergelantungan. Saat itulah terdengar sebuah suara misterius.

“Raja Riak Bakau, kau memerintah negerimu dengan kejam. Kau dan rakyatmu akan menjadi kera dan bergelantungan selamanya.”

Setelah suara itu menghilang, cuaca kembali cerah. Tapi seluruh penduduk negeri Keramat Riak telah menjadi kera. Lama-kelamaan negeri itu menjadi belantara yang dihuni oleh kawanan kera.

Tahun berlalu, para pedagang dari China mendatangi hutan Keramat Riak. Mereka datang dengan kapal untuk membalas budi seorang kakek misterius yang pernah menolong mereka. Sang kakek berpesan agar dibuatkan makam di tempat itu. Pada nisan makam tersebut tertulis nama Syekh Abdullatif. Konon itu adalah nama sang kakek misterius tersebut. Hingga kini, masyarakat setempat menyebut makam Syekh Abdullatif dengan nama makam Keramat Riak

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply