Author: Dian Onasis Editor: Triani Retno Illustrator: Ratna Kusuma Halim Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Sumatera Utara

Pagi telah pergi. Matahari semakin meninggi. Siangpun datang menjelang.

Tare Iluh, anak laki-laki dari Tanah Karo, Sumatera Utara, bersiap-siap hendak pergi merantau. Adik perempuannya, Beru Sibou, menahan tangis, melepas kepergian si Abang.

“Haruskah Abang pergi?” suara Beru Sibou terdengar serak, menahan air mata.

“Adikku Beru Sibou, sejak ayah dan ibu meninggal dunia, kita sudah terlalu lama merepotkan Bibi. Abang rasa, sudah waktunya Abang merantau mencari uang. Abang harus membantu biaya hidup Bibi dan engkau,” jawab Tare Iluh dengan tegas. Meski tidak tahu akan bekerja sebagai apa, Tare Iluh telah bertekad akan mencari uang dengan segenap cara, apa pun itu.

Akhirnya, dengan berat hati Beru Sibou melepas saudara kandungnya pergi merantau.

Bulan berganti bulan. Hitungan tahun pun berlalu. Abang satu-satunya itu tak kunjung mengirim berita.

Suatu hari, Beru Sibou bermimpi buruk. Dalam mimpi itu ia melihat abangnya dipasung oleh penduduk negeri asing. Karena khawatir, berbekal izin dari bibinya, berangkatlah Beru Sibou mencari saudaranya itu.

Telah jauh Beru Sibou menelusuri perjalanan. Belum satu orang pun yang mengetahui keberadaan abangnya. Suatu hari, ia berjumpa seorang kakek tua di sebuah negeri tak bernama.

“Salam, Kakek. Apakah Kakek dapat membantuku?” tanya Beru Sibou penuh harap.

“Salam, Cucu. Bantuan apakah yang bisa Kakek berikan?” jawab kakek tua.

“Apakah Kakek pernah berjumpa saudaraku yang bernama Tare Iluh?”

“Hmmm, Kakek pernah mendengar nama itu meski belum pernah berjumpa. Ia seorang pemuda yang memiliki begitu banyak utang pada orang di negeri ini. Akibatnya, ia dihukum dan disembunyikan oleh penduduk di suatu tempat. Tak banyak orang yang tahu lokasinya,” jawab kakek tua.

“Betulkah, Kek?” Beru Sibou sangat sedih mendengar kabar tersebut. “Apakah Kakek tahu di mana tempat itu?”

Beru Sibou begitu ingin menemukan tempat tersembunyi itu. Sayangnya, kakek tua itu tidak tahu lokasi abangnya tersebut.

Melihat Beru Sibou yang berurai air mata, kakek tua merasa kasihan. Ia lalu memberikan sebuah saran. “Wahai Cucu, dengarlah saranku ini. Panjatlah sebuah pohon yang paling tinggi. Sesampainya di puncak pohon, nyanyikanlah sebuah lagu sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia akan mendengar dan membalas lagumu.” Setelah menyampaikan saran tersebut, kakek tua itu pun pergi.

Karena merasa putus asa, Beru Sibou mengikuti saran si Kakek. Ia segera memanjat sebuah pohon yang tinggi di dekatnya. Di atas pohon, ia bernyanyi dan memanggil abangnya sambil menangis. Ia berharap penduduk yang menyembunyikan abangnya, bersedia melepaskan.

Berjam-jam Beru Sibou bernyanyi, namun tak jua ada balasan dari si Abang. Akhirnya, Beru Sibou pasrah. Ia berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

“Tuhanku, mohon tunjukkanlah padaku, di mana keberadaan abangku. Jika sulit bagiku menemukannya karena besarnya utang yang ia miliki, berilah aku kesempatan untuk melunasi semua utang itu. Kurelakan air mata, rambut, dan seluruh anggota tubuhku agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan penduduk yang telah menghukum dia.”

Tiba-tiba seluruh langit menjadi hitam pekat. Hujan turun dengan lebat. Suara guntur terdengar menggelegar. Cahaya petir berkilat mencekam. Angin bertiup begitu kencang dan udara terasa begitu dingin.

“Gerangan apa yang sedang terjadi?” tanya Beru Sibou. Belum lagi Beru Sibou mendapatkan jawaban, tiba-tiba dirinya mengalami kejadian aneh. Tubuhnya semakin meninggi dan berubah bentuk. Ia menjelma menjadi sebatang pohon enau yang begitu memukau. Air mata Beru Sibou menjelma menjadi nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya yang indah menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan sebagai atap rumah. Tubuhnya yang tinggi menghasilkan buah kolang-kaling yang dapat dijadikan makanan dan minuman.

Menurut orang-orang Tanah Karo, itulah asal-usul pohon enau.

Meski si Abang tak juga ditemukan, pengorbanan Beru Sibou itu memberikan manfaat bagi penduduk di Tanah Karo, sebagaimana doanya. Berkat Beru Sibou, penduduk Tanah Karo dapat menikmati manfaat enau nan memukau.

Sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan Beru Sibou, sejak zaman dahulu, setiap menyadap nira penduduk setempat akan menyanyikan lagu Enau. Sambil bernyanyi mereka berharap Tare Iluh mendengar dan menjawab lagu mereka.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply