Author: S. Rahmah Saadi Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Gilang Permadi Translator: Selviya Hanna Proofreader: Ratih Soe Origin: North Maluku

Raja Binaut baru saja naik naik tahta menggantikan ayahandanya yang wafat. Namun Raja Binaut memerintah kerajaannya dengan kejam.

Suatu hari Raja Binaut ingin membangun istana yang megah.

“Wahai rakyatku, mari kita membangun istana yang megah agar kerajaan kita dikenal ke seluruh dunia,” seru Raja Binaut dengan lantang dihadapan rakyatnya.

“Ayo bekerja keraslah. Jika malas, kalian akan di penjara seumur hidup,” ancam sang Patih. Ia terpaksa mengikuti kehendak Raja Binaut karena takut dipecat dari jabatannya.

Mendengar hal itu, rakyat menjadi ketakutan. Mereka terpaksa mematuhi titah sang Raja agar tidak dipenjara. Siang dan malam mereka bekerja. Ada yang mengangkut pasir dari sungai, ada yang menggotong kayu jati pilihan dan ada yang membuat ukiran emas untuk hiasan istana. Mereka bekerja tanpa upah. Rakyat pun hidup sengsara bahkan ada yang kelaparan dan meninggal dunia.

Tak ada yang bisa melawan kekejaman Raja Binaut. Ratu dan dua saudara kandung Raja Binaut dikabarkan tenggelam di lautan. Putra Baginda Arif adalah kakak sulung Raja Binaut dan Putri Baginda Nuri adalah adik Raja Binaut.

Seorang pengawal istana bernama Bijak tidak percaya dengan kabar itu. Ia menyelidiki penjara bawah tanah. Betapa terkejutnya Bijak, ketika mendapati Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri di sana. Mereka terlihat kurus dan pucat.

“Kakak Binaut telah menjebloskan kami di penjara ini,” kata Putri Baginda Nuri dengan suara lirih.

“Tolonglah kami keluar dari sini,” kata Sang Ratu mengiba.

“Baiklah, Yang Mulia. Saya akan berusaha,” janji Bijak.

Bijak segera memberitahu teman-temannya.

“Huh! Raja Binaut telah membohongi kita semua. Dia telah merebut tahta Baginda Arif,” kata seorang teman Bijak dengan geram.

“Tega sekali dia memenjarakan ibu, kakak dan adiknya sendiri,” sahut temannya yang lain.

Bijak dan teman-temannya mengundurkan diri dari pekerjaannya di istana. Mereka pergi ke hutan untuk menyusun rencana pembebasan Ratu.

Pada malam yang telah ditentukan, mereka pergi ke istana. Seragam kerajaan semasa bekerja dulu dikenakannya kembali. Bijak membawa serta sebuah buntalan kain di punggungnya.

Malam telah larut, Raja Binaut telah tertidur pulas. Mereka menyusuri lorong-lorong ruang bawah tanah istana. Bijak segera membuka buntalan kain yang berisi seragam istana. Sang Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri segera mengenakan seragam itu. Mereka berhasil keluar dari penjara. Tak ada yang mencurigai penyamaran mereka.

Mereka lalu bersembunyi di hutan, Ratu mengucapkan terima kasih pada Bijak dan teman-temannya.

“Sri Baginda Ratu, mohon restunya , kami akan mengadakan penyerangan ke istana,” Kata Bijak. Ia dan pasukannya telah lama bersiap untuk menyerang Raja Binaut.

“Aku sangat menghargai kalian. Tapi Aku keberatan. Lihatlah rakyat yang sudah menjadi korban,” kata Sang Ratu.

Setelah Ratu berkata demikian, tiba-tiba sebuah gunung api meletus. Suara menggelegar terdengar sampai jauh. Abu dan api membumbung tinggi ke angkasa. Semua menjadi panik. Lahar panas mengalir ke penjuru negeri.

Raja Binaut terkejut dari tidurnya. Istananya yang megah dialiri lahar. Istana itu baru selesai dibangun oleh keringat rakyatnya yang menderita.

“Patih! Tolonglah Aku! “ teriak Raja Binaut dengan panik.

Raja Binaut dan Patihnya lari ketakutan mencari perlindungan. Sungguh aneh, lahar panas itu seolah-olah mengejar kemanapun Raja Binaut lari.

Barulah Raja Binaut menyadari telah dihukum Tuhan.

“Tuhanku, ampuni hambamu yang malang ini. Maafkan aku,” kata Raja Binaut sambil menangis.

Raja Binaut lalu teringat ibundanya yang telah mengasihinya sejak kecil.

“Ampunilah anakmu,Ibunda! “ seru raja Binaut sambil berusaha naik ka atap istana.

“Aku sudah tidak kuat menanggung penderitaan ini! Aku tidak akan lagi mengkhianati Ibunda, kakak Arif dan adik Nuri!” Raja Binaut terus menangis penuh sesal.

Namun penyesalannya tiada arti. Istana Raja Binaut mulai tenggelam oleh lahar panas.

“Aku janji tidak akan mengulangi lagi!” teriak Raja Binaut. Air matanya terus berlinang. Lama-lama suara teriakan itu mulai menghilang. Akhirnya Raja Binaut meninggal dunia.

Kala hujan turun keesokan harinya, jasad Raja terbawa air ke pantai. Akibat dari penumpukan lahar dingin terbentuklah sebuah daratan baru yang menjorok ke laut. Konon di tempat itu sering terdengar suara orang menangis. Akhirnya tempat itu dinamakan Tanjung Menangis. Letaknya di Halmahera, Maluku Utara.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

One Response so far.

  1. Dinu Chan mengatakan:

    Dear, kakak semua ikut baca ya, mulai dari urutan akhir nih.
    Baru tahu kisah tanjung menangis ini.

    Itu di paragraf awal ada dua kata ‘naik’ lho, Kak. :)

Leave a Reply