Author: Dyah Umi Purnama Editor: Triani Retno A Illustrator: Gilang Permadi Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Jawa Tengah

Sembada terkejut ketika siang itu Dora, temannya, tiba-tiba berkata, “Tuanku Ajisaka menyuruhku untuk mengambil keris.”

“Keris yang mana?” tanya Sembada heran.

“Keris pusaka yang kita jaga,” kata Dora mantap. “Tadi aku bertemu dengan utusan Tuanku Ajisaka dari Medang Kamulan. Beliau menginginkan keris itu dibawa ke sana,” lanjut Dora. “Kunci kotak penyimpanannya kamu yang bawa, kan? Serahkan padaku supaya aku bisa membuka kotak itu dan mengambil kerisnya.”

“Tidak mungkin!” bantah Sembada keras. “Tuanku Ajisaka sudah berpesan, keris itu tidak boleh diberikan pada siapa pun sampai beliau sendiri yang mengambilnya.” Sembada memandang Dora dengan curiga. Jangan-jangan Dora sendiri yang menginginkan keris itu. Keris yang mereka jaga merupakan keris yang sangat sakti. Konon, tidak ada apa pun di muka bumi ini yang tidak dapat ditembus oleh keris itu. Bahkan ada yang mengatakan keris itu dapat membelah gunung.

Ajisaka menitipkan keris pusakanya pada dua orang pengawal kepercayaannya yaitu Sembada dan Dora. Sembada diberi tugas membawa kunci kotak penyimpanan. Dora diberi tugas membersihkan keris tersebut seminggu sekali.

Ajisaka berangkat ke Kerajaan Medang Kamulan untuk menaklukkan raksasa bernama Dewata Cengkar. Raksasa itu sangat jahat karena punya kebiasaan memakan manusia. Banyak orang yang mengadu kepada Ajisaka. Raksasa itu bahkan sudah mulai memakan rakyat kerajaan yang dipimpin oleh Ajisaka yaitu Bumi Mijeti.

Ajisaka bertekad mengalahkan raksasa itu. Sebelum berangkat dia berpesan kepada Sembada dan Dora agar menjaga keris pusakanya baik-baik. Keris itu tidak boleh diberikan pada siapa pun sampai dia sendiri yang mengambilnya. Itulah sebabnya Sembada bersikukuh menjaga kunci yang diamanatkan padanya.

“Aku tidak akan menyerahkan kunci kotak itu pada siapa pun, kecuali pada Tuanku Ajisaka sendiri!” kata Sembada tegas. “Kamu ingin mengambil keris itu untuk kamu miliki sendiri, ya?” tuduh Sembada.

“Jangan sembarangan!” Dora berteriak marah. “Aku ini sangat setia pada Tuanku Ajisaka. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk memilikinya. Tuanku Ajisaka sendiri yang mengirim pesan, menyuruhku membawa keris itu ke Medang Kamulan.”

“Tidak percaya!” Sembada semakin curiga. “Akan kulawan siapa pun yang berusaha mengambil keris itu!” katanya geram.

“Aku juga menjunjung tinggi pesan dari Tuanku Ajisaka!” Dora tidak mau kalah. “Siapa pun yang menghalangiku mengambil keris itu, akan kuhabisi!”

Dora segera melancarkan serangan kepada Sembada. Sembada berkelit, lalu balik menyerang Dora. Perkelahian seru tidak terelakkan. Kedua orang itu adalah pengawal senior yang dimiliki oleh Ajisaka. Keduanya sama-sama tangguh.

Setelah beberapa saat bertarung, keduanya mengeluarkan keris masing-masing. Dora menghunuskan kerisnya kepada Sembada. Tepat saat itu Sembada juga menghunuskan kerisnya kepada Dora. Mereka akhirnya tewas bersamaan terhunus keris lawan.

Sementara itu, Ajisaka mondar-mandir di Istana Medang Kamulan. Dia sedang gelisah menunggu seseorang. Raksasa Dewata Cengkar sudah dikalahkannya. Namun, raksasa itu melarikan diri ke Laut Selatan. Raksasa itu berubah menjadi buaya putih yang meresahkan masyarakat karena sering menenggelamkan perahu yang berlayar di Laut Selatan.

Raksasa itu hanya bisa dibunuh dengan keris pusaka milik Ajisaka. Ajisaka sudah menyuruh kurir untuk menyampaikan pesan kepada Dora. Ajisaka ingin Dora membawa keris pusakanya ke Kerajaan Medang Kamulan.

Akhirnya, Ajisaka memutuskan untuk pulang ke Bumi Mijeti dan mengambil sendiri keris pusakanya. Sampai di istana, dia terkejut bukan kepalang melihat dua pengawal setianya sudah terkapar bersimbah darah di ruang penyimpanan senjata.

“Aduh, aku lupa!” Ajisaka menepuk kening. Dia baru ingat kesetiaan kedua pengawalnya itu. Pasti masing-masing mempertahankan amanat yang diembankan kepada mereka. Ajisaka menyesal. Harusnya sejak awal dia sendiri yang mengambil keris itu, bukan menyuruh Dora untuk membawanya ke Medang Kamulan. Kalau saja dia tidak menyuruh Dora, tragedi memilukan seperti ini tidak akan terjadi.

Tapi semua sudah terjadi. Tidak bisa disesali lagi. Untuk mengenang kesetiaan kedua pengawalnya itu, Ajisaka lalu membuat sebuah puisi yang menjadi dasar pembentukan aksara Jawa, Hanacaraka.

Hana Caraka (Ada dua pengawal)
Data Sawala (Saling berkelahi)
Padha Jayanya (Mereka sama tangguhnya)
Maga Bathanga (Akhirnya keduanya sama-sama menjadi mayat)

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply