Author: Salma Azka Taqiya Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: North Sulawesi

Pada zaman dahulu di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, hiduplah seorang kakek dan cucunya yang pincang bernama Nondo. Setiap hari sang kakek pergi ke hutan berburu binatang dan mencari kayu bakar. Hasilnya dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Kedua orangtua Nondo sudah lama meninggal dunia.

Setiap kali kakeknya pergi ke hutan, Nondo selalu bersedih karena tidak diizinkan ikut. Kakeknya khawatir Nondo tidak akan kuat berjalan jauh. Kakek juga selalu berpesan pada Nondo agar dia mengunci pintu rumah sehingga tidak bisa dimasuki binatang buas.

Nondo akan menyambut kakek dengan gembira tiap kali kakek kembali ke rumah.

“Hore! kakek pulang,” kata Nondo.

“Lihat, Nak, Kakek membawa dua ekor burung puyuh dan ikan sepat dari sungai,” kata Kakek sambil menurunkan karung bawaannya.

“Ayo, kita bikin ikan bakar, Kek!” seru Nondo.

Sambil membakar ikan, Kakek bercerita tentang isi hutan kepada Nondo.

“Nondo, apakah kamu tahu apa yang kakek temukan di hutan hari ini?” tanya kakek.

Nondo menggeleng.

“Kakek melihat burung kakaktua yang sedang bertengger di pohon. Burung itu berbulu putih dan jambulnya berwarna kuning. Kakek juga melihat tupai-tupai yang sedang memakan biji-bijian dan tiba-tiba seekor ular besar mengganggu mereka,” kakek bercerita sambil mengeluarkan suara aneka binatang tersebut.

Nondo mendengarkan cerita kakek dengan gembira. Bahkan, sebelum tidur Nondo selalu berkhayal bertemu hewan-hewan tersebut dan ikut menirukan suara hewan-hewan persis seperti yang kakeknya ceritakan.

Suatu pagi, seperti biasa kakek akan pergi ke hutan. Nondo bertekad mengikuti kakeknya.

“Kek, izinkan Nondo ikut pergi ke hutan….” kata Nondo.

“Tidak, Nak! Kakek khawatir kamu  susah berjalan,” ujar kakek.

“Huhuhu…. Aku ingin melihat binatang-binatang di hutan,” Nondo mulai menangis.

Kakek sangat menyayangi Nondo, mendengar cucunya menangis hatinya luluh.

“Baiklah, Nondo boleh ikut. Tapi, Kamu harus selalu berjalan di belakangku!” Tegas kakek.

Nondo mengangguk bahagia. Akhirnya, dia akan melihat aneka binatang yang selalu diceritakan oleh kakeknya.

Setibanya di hutan, Nondo berjalan mengikuti kakeknya. Sesekali kakek menengok ke belakang untuk melihat keadaan Nondo. Kakek khawatir Nondo terjatuh karena tersandung ranting kayu atau terpeleset karena tanah basah.

Binatang-binatang di hutan sangat menakjubkan. Kelinci, kupu-kupu, tupai, belalang, dan lain-lain. Nondo baru pertama kali melihat binatang-binatang tersebut, dia pun menghentikan langkahnya ketika melihat burung-burung yang sedang bertengger di pohon mahoni. Nando asyik bermain bersama burung-burung itu.

Setelah puas bermain dengan burung-burung dan binatang lainnya, Nondo baru menyadari bahwa dia telah kehilangan jejak kakeknya.

“Kakek! Kakek, di mana?” teriak Nondo panik.

Hari semakin sore dan hutan semakin gelap. Nondo menangis keras.

“Huhuhu….” isak Nondo.

Nondo menangis ketakutan ketika melihat binatang buas. Dia juga takut dengan suara burung hantu dan burung Kuow yang menyeramkan. Nondo menyesal karena dia tidak patuh mendengarkan perintah kakek untuk selalu berjalan di belakangnya.

Sementara itu, Kakek juga kebingungan mencari cucu kesayangannya.

“Nondo!” teriak kakek.

Kakek terus memanggil nama Nondo. Beliau bahkan kembali menyusuri jalan yang telah dilaluinya bersama Nondo. Namun, Nondo tak nampak batang hidungnya.

Kakek memutuskan untuk menunggu Nondo di rumah. Hingga beberapa hari lamanya, Nondo tidak juga pulang ke rumah. Kakek bersedih kehilangan cucunya.

Suatu hari, terdengar suara aneh di pohon dekat rumah kakek.

Moopoo… moopoo….

Kakek merasa akrab dengan nada suara itu. Dia pun keluar dari rumah dan melihat ke atas pohon.

Moopoo… moopoo….

Suara itu berasal dari seekor burung yang sedang bertengger.

“Aku belum pernah melihat burung aneh itu,” ucap kakek penuh rasa heran.

Burung itu terbang ke cabang pohon yang lebih dekat dengan kakek.

Moopoo… moopoo… moopoo….

Kakek terkejut karena menyadari bahwa burung itu memanggil namanya, yaitu “opoku” atau kakekku.
Kakek memerhatikan burung itu, matanya memancarkan kesedihan. Kakinya terlihat pincang. Sang Kakek pun berurai air mata. Beliau mengetahui burung itu adalah jelmaan dari cucu yang dicintainya, Nondo.

Burung Moopoo banyak dijumpai di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply