Author: Iis Soekandar Editor: Bambang Irwanto Illustrator: Catz Link Tristan Translator: Proofreader: Origin: Jawa Tengah

Cerita ini berawal dari dua kerajaan beraliran Hindu, yaitu Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko di daerah Prambanan. Kerajaan Pengging dipimpin seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Moyo. Tanahnya subur dan makmur. Beliau memiliki putra laki-laki bernama Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso putra raja yang sakti. Sedangkan Kerajaan Boko berada di bawah pemerintahan Kerajaan Pengging. Raja Boko, nama sang Raja, memiliki seorang putri yang cantik jelita, yaitu Roro Jonggrang.

Raja Boko adalah seorang yang murka. Beliau ingin menguasai Kerajaan Pengging. Bersama Patih Gupolo, Raja Boko menyerang Kerajaan Pengging. Namun malang, Raja Boko tewas karena kesaktian Bandung Bondowoso.

“Ada apa Patih Gupolo? Kamu tampak sedih. Dan di mana Ayahandaku?” tanya Roro Jonggrang gusar begitu melihat Patihnya tiba di istana.

“Maaf, Putri Roro Jonggrang. Hamba sudah berusaha melindungi, tapi… beliau terbunuh oleh kesaktian Bandung Bondowoso.”

“Jadi, Ayahanda meninggal dunia, hu… hu…hu…” Roro Jonggrang menangis sedih. Para dayang pun menghibur.

Di sisi lain, Perjuangan Bandung Bondowoso tidak berhenti sampai di situ. Bandung mengejar Patih Gupolo ke Kerajaan Boko.

“Kamu siapa?” tanya Roro Jonggrang begitu melihat ada tamu di istana.

“Aku Bandung Bondowoso.”

Semula Bandung Bondowoso datang ke Kerajaan Boko untuk membunuh Patih Gupolo. Tetapi melihat kacantikan Roro Jonggrang, beliau terpana dan mengurungkan niatnya.

Kemudian Bandung Bondowoso meminang Roro Jonggrang. Tentu saja dalam hati Roro Jonggrang menolak, karena Bandung Bondowoso telah membunuh ayahnya. Maka pada kesempatan ini, Roro Jonggrang ingin membalas sakit hati dan melampiaskan amarahnya. Dia memberikan dua syarat yang mustahil.

“Baik, aku menerima pinanganmu. Asal kau dapat memenuhi dua syarat yang kuinginkan,” pinta Roro Jonggrang.

“Apapun yang kau minta pasti akan aku penuhi, Roro Jonggrang.”

“Baiklah. Pertama buatkan aku sumur Jalatunda. Syarat kedua buatkan aku candi berjumlah seribu dalam waktu satu malam.”

Bandung Bondowoso memenuhi syarat pertama. Setelah sumur Jalatunda jadi, Bandung diperdaya supaya masuk ke dalamnya untuk memeriksa. Tidak lama kemudian, Roro Jonggrang meminta Patih Gupolo menutup dan menimbun sumur dengan bebatuan. Roro Jonggrang menyangka Bandung Bondowoso meninggal.

Dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil menghalau semua bebatuan dan keluar dari sumur. Beliau marah. Tetapi Bandung Bondowoso kembali terkesima kecantikan Roro Joggrang dan memenuhi janjinyà membuat 1000 candi.

Dengan berdiri di altar batu, Bandung Bondowoso memanggil para makhluk halus.

“Ada apa gerangan Paduka mengumpulkan kami?” tanya sang Ketua.

“Aku ingin dalam waktu semalam kamu kerahkan pasukanmu membuat candi berjumlah seribu buah.”

“Baik, Paduka,” jawab sang Ketua.

Semua anggota pasukan makhluk halus membuat candi. Tidak disangka dalam waktu semalam mereka berhasil membuat hampir 1000 candi. Roro Jonggrang gusar. Ia tidak menyangka Bandung Bondowoso berhasil meluluskan permintaannya. Padahal ia hanya ingin membalas sakit hatinya.

Tetapi Roro Jonggrang pun tidak kehilangan akal. Dimintanya dayang-dayang dan para gadis desa menabuh lesung dan membakar jerami di ufuk timur.

“Kukuruyuuuuuk… kukuruyuuuuuk…”

Karena dikira sudah pagi, kokok ayam pun bersahutan.

“Ternyata kokok ayam sudah terdengar,”

“Betul, lihatlah, matahari hampir terbit dan warna kemerahan sudah terlihat.”

“Kalau tidak segera pergi, kita bisa terbakar oleh sinar matahari.”

Melihat matahari akan terbit, semua anggota pasukan makhluk halus pergi dan masuk kembali ke bumi.

“Hai bala tentaraku, kalian jangan pergi, ini belum pagi,” perintah Bandung Bondowoso.

Tapi semua pasukan makhluhk halus itu sudah pergi.

Bandung Bondowoso meminta Roro Jonggrang menghitung candi yang telah dibuat. Roro Jonggrang pun menghitung candi itu.

“Ternyata jumlahnya 999, kurang satu. Jadi kau tidak bisa memenuhi janjimu. Kau tidak bisa melamarku dan menjadikanku menjdi permaisuri, Bandung Bondowoso” ungkap Roro Ronggrang setelah menghitung semua candi.

“Kau curang, Roro Jonggrang. Sebetulnya kaulah yang menggagalkan pembangunan 1000 candi ini. Maka engkaulah yang akan menyempurnakan menjadi candi yang keseribu.” kata Bandung Bondowoso dengan marah. Dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso menunjuk jarinya. Roro Jonggrang pun menjadi arca keseribu dan menjadi Candi Prambanan.

Seribu candi atau Candi Sewu dalam bahasa Jawa, terletak di tengah dan paling besar di antara candi-candi lain yang mengelilinginya. Kisah Roro Jonggrang cukuplah sebagai bukti bahwa Indonesia kaya cerita legenda. Di sana juga dibangun relief-relief, menjadikan Candi Prambanan menarik untuk dikunjungi, tidak saja wisatawan domestik tapi juga asing.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply