Author: Ina Inong Editor: Triani Retno Illustrator: Rita Agustina & Susy Suzanna Translator: Rini Lasman Proofreader: Ratih Soe Origin: Papua

Pada zaman dahulu, di sebuah desa bernama Sawjatami, wilayah Jayapura (sekarang) hiduplah seorang laki-laki bernama Towjatuwa. Bersama istrinya yang sedang hamil tua, ia membangun honai (rumah adat orang Papua). Honai itu terletak tak jauh dari Sungai Tami.

Pada hari yang telah diperkirakan, istrinya menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Towjatuwa segera memanggil dukun bayi untuk membantu kelahiran anaknya. Namun, setelah berjam-jam berusaha, si jabang bayi belum keluar juga. Towjatuwa merasa khawatir melihat istrinya yang tampak sangat kesakitan.

“Suamiku, tolong… perutku sakit sekali,” rintih istri Towjatuwa.

Towjatuwa merasa sedih melihat keadaan istrinya. Ia sangat takut istri dan bayinya tak bisa diselamatkan.

“Nenek, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Towjatuwa.

“Towjatuwa, sepertinya bayi yang dikandung istrimu ini terlalu besar. Jadi, dia susah keluar,” jawab dukun bayi itu.

“Lalu apa yang akan Nenek lakukan? Tolonglah istri saya.”

“Ambillah rumput air dari Sungai Tami. Itu obat yang mujarab.”

Tanpa menunggu lama, Towjatuwa berlari ke sungai. Ia ingin segera menemukan rumput air yang diminta dukun bayi. Lak-laki itu tak ingin istrinya menderita lebih lama lagi.

Namun, sayang sekali, Towjatuwa tak dapat menemukan rumput air itu. Ia sudah mencarinya ke sana kemari tapi rumput air itu tak ada. Laki-laki itu menyelam ke dasar sungai, tetapi rumput air itu tak juga ditemukannya.

Hari sudah menjelang sore, Towjatuwa belum juga mendapat rumput air Sungai Tami. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang sebelum hari menjadi gelap.

Tiba-tiba… ia mendengar suara binatang mengerang kesakitan di belakangnya. Towjatuwa berdiri terpaku. Ia ketakutan. Namun, laki-laki itu pun merasa penasaran. Towjatuwa  menoleh.

Betapa terkejutnya Towjatuwa. Ia melihat seekor buaya yang besaaar sekali. Anehnya, di punggung buaya itu tumbuh bulu-bulu burung kasuari. Buaya raksasa itu mengerang dan menggeram. Towjatuwa gemetar. Ia memutuskan untuk segera melarikan diri sebelum dimangsa buaya yang tampak ganas itu.

“Hei, Towjatuwa! Tunggu!”

Towjatuwa menghentikan langkahnya. Ia tertegun dan menoleh lagi. Tak ada siapa-siapa selain buaya raksasa yang menyeramkan itu.

“A… a… apakah kau yang memanggilku?” tanya Towjatuwa ketakutan sekaligus heran.

“Benar, aku yang memanggilmu. Namaku Watuwe, penguasa sungai ini,” jawab buaya raksasa.

“A… ada apa? Apa yang kauinginkan?”

“Towjatuwa, tolong bebaskan aku dari batu besar ini.”

Towjatuwa tertegun. Ia merasa kasihan pada buaya itu, sekaligus ragu-ragu. Towjatuwa takut jika buaya itu bebas, binatang buas itu akan langsung memakannya.

Buaya raksasa itu seperti dapat membaca pikiran Towjatua. Ia berkata, “Jangan takut, Towjatuwa. Aku tak akan memakanmu.”

Mendengar janji Watuwe, Towjatuwa segera menghampiri buaya raksasa itu.

Rupanya ekor Watuwe terjepit sebuah batu besar. Towjatuwa segera menyingkirkan batu yang berat itu dengan susah payah. Ketika batu sudah terguling dan ekor Watuwe terbebas, Towjatuwa bermaksud melanjutkan perjalanannya.

“Sebentar, Towjatuwa. Aku ingin tahu tujuanmu datang ke sungai ini,” tahan Watuwe.

Towjatuwa menceritakan kesulitannya menemukan rumput air untuk obat melahirkan istrinya.

Watuwe menggeram pelan.“Begini saja, Towjatuwa. Kau sudah menolongku, jadi aku akan menolongmu sebagai balasan. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu,” janji Watuwe.

Watuwe menepati janjinya. Malam itu ia pergi ke honai Towjatuwa. Buaya raksasa itu mengobati istri Towjatuwa dengan kesaktiannya. Tak berapa lama, istri Towjatuwa melahirkan bayi laki-laki yang sehat.

“Terima kasih, Watuwe. Kau telah menyelamatkan istriku dan bayi kami,” ujar Towjatuwa.

“Aku pun berterima kasih padamu, Towjatuwa,” balas Watuwe seraya berpamitan.

Sebelum meninggalkan rumah Towjatuwa, Watuwe memberikan ramalan tentang anak Towjatuwa kelak. Buaya ajaib itu juga menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting.

“Towjatuwa, ketahuilah, kelak anakmu akan menjadi pemburu andal. Pesanku, jangan biarkan keturunanmu membunuh dan memakan aku dan bangsaku.” Kemudian Watuwe melangkah pergi meninggalkan suami-istri itu serta bayi mereka.

“Istriku, walau Watuwe berwujud binatang yang menyeramkan, ia sangat baik dan penyayang. Apakah kita bisa membalas budi baiknya itu?” ucap Towjatuwa sambil melepas kepergian Watuwe.

“Suamiku, cara terbaik untuk membalas kebaikannya adalah dengan melaksanakan pesannya. Kita harus meneruskan pesan Watuwe kepada anak-cucu kita supaya keturunan-keturunan mereka nanti juga menjaga pesan Watuwe,” sambut istri Towjatuwa.

Sejak itulah Towjatuwa dan keturunannya selalu melindungi buaya ajaib dan buaya-buaya lain yang ada di Sungai Tami. Kabarnya, sampai sekarang pun penduduk desa di tepi Sungai Tami masih memegang teguh kebiasaan leluhur mereka. Buaya-buaya di Sungai Tami aman dari gangguan tangan manusia.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

2 Responses so far.

  1. Rohmah Azha mengatakan:

    Typo di paragraf pertama saja, bunda. Terletaktak.
    Weh baru tahu cerita ini, bunda. Hee

Leave a Reply