Author: Lisdy Rahayu Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Rizky Adeliasari Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Jawa Barat

“Ha ha ha, aku sudah kebal sekarang. Coba Kakanda lihat!” ujar Borosngora dengan bangga sambil menunjukkan ilmu kekebalan tubuh yang sudah dikuasainya. Ilmu itu adalah hasil belajarnya selama berbulan-bulan di daerah Ujung Kulon. Dia memamerkannya pada sang kakak, Sanghyang Lembu Sampulur yang hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan salah satu adiknya itu.

“Ada apa ini?” Suara gaduh dari halaman istana itu membuat Prabu Cakradewa, sang raja Kerajaan Panjalu, keluar.

Mendengar suara berat yang penuh wibawa, kedua anaknya terdiam. Mereka sadar, ayah mereka tentu tidak menyukai kelakuan mereka.

“Begini, Ayah. Barusan adinda Borosngora memperlihatkan ilmu kekebalan tubuh yang telah dikuasainya,” jelas Lembu Sampulur dengan hati-hati. Dia melihat perubahan raut muka sang ayah. Dahi Prabu Cakradewa berkerut dan alisnya terangkat.

Prabu Cakradewa kemudian meminta Borosngora menghadapnya untuk berbicara empat mata.

“Borosngora, untuk apa kamu mempelajari ilmu kekebalan tubuh seperti itu, Nak? Ketahuilah, ilmu tersebut tidak akan membawa kebaikan bagimu, justru akan membawa malapetaka bagi masyarakat jika kelak engkau menjadi Raja. Lebih baik kamu tinggalkan hal yang tidak berguna itu. Sekarang Ayah menugaskanmu untuk mencari ilmu. Bawalah gayung kerancang ini. Jangan pulang sampai kamu bisa mengisi gayung kerancang ini dengan air hingga penuh!”

Borosngora menunduk patuh pada Sang Ayah. Akan tetapi di dalam hatinya berkecamuk sebuah pertanyaan besar, bagaimana mungkin dia bisa mengisi gayung yang penuh lubang itu dengan air tanpa menetes sepanjang jalan?

Borosngora mencari ilmu ke berbagai tempat, tetapi tetap saja nihil. Dia tidak bisa mengisi gayung kerandangnya hingga penuh dengan air. Karena merasa hampir putus asa, Borosngora kemudian bertapa di Gua Landak. Di dalam pertapaannya itu, dia berhasil mencapai tanah Mekah dengan menggunakan ilmu “Ras Clok”, yaitu ilmu kesaktian untuk bepergian. Di Mekah, Borosngora menemui seorang kakek tua,  yang memberikan tantangan padanya untuk mencabut sebuah tongkat yang tertancap di dalam tanah. Dengan sekuat tenaga, Borosngora berusaha mencabut tongkat tersebut, tetapi sia-sia.

Melihat sang kakek yang hebat, maka Borosngora memohon kakek itu untuk menjadi gurunya. Sang Kakek bersedia menjadi guru dan memberikan ilmu padanya, dengan syarat Borosngora memeluk agama Islam terlebih dahulu.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Setelah cukup lama Borosngora mempelajari banyak hal tentang ilmu keislaman, Borosngora bisa mencabut tongkat yang tertancap dalam tanah. Artinya, ilmunya sudah mencukupi. Borosngora juga berhasil mengisi gayung kerancangnya penuh dengan air zam zam.
Borosngora pun pamit pulang. Sang Guru memberikan wasiat agar Borosngora menyebarkan Islam di kerajaannya. Sang Guru juga memberinya nama Islam, yaitu Haji Abdul Iman.

Sesampainya di Kerajaan Panjalu, Sang Ayah, Prabu Cakradewa sudah meninggal dunia dan digantikan oleh kakaknya, Sanghyang Lembu Sampulur. Setelah Sanghyang Lembu Sampulur turun takhta, Borosngora diangkat menjadi raja berikutnya.

Di bawah kepemimpinan Borosngora yang telah berganti nama menjadi Hadi Ambud Iman, Kerajaan Panjalu pun berubah dari semula kerajaan Hindu, menjadi kerajaan Islam. Kerajaan Panjalu menjadi negeri yang aman sentosa. Haji Abdul Iman menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri.

Sampai pada suatu hari, kerajaan Panjalu mengalami kemarau panjang. Sawah-sawah kekeringan. Sumber air hanya tersisa sedikit di lereng gunung Sawal. Warga menjadi khawatir dan mengadukan hal ini kepada Haji Abdul Iman. Jika sawah terus kekeringan, mereka akan kekurangan beras di bulan-bulan yang akan datang. Ini bisa menimbulkan kelaparan.

Haji Abdul Iman menampung keluhan rakyatnya. Dia berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Kemudian Haji Abdul Iman teringat gayung kerancangnya yang masih terisi penuh air zam zam yang dibawanya dari Mekah. Haji Abdul Iman pun mendapat ide untuk membuat bendungan, yang akan berfungsi untuk mengairi sawah-sawah di Kerajaan Panjalu.

Haji Abdul Iman kemudian menumpahkan air zam zam dari dalam gayung kerancang itu ke daerah Lembah Pasir Jambu. Sungguh ajaib, air zam zam dari gayung kerancang itu bisa mengisi penuh lembah yang semula kosong. Lembah itu berubah menjadi sebuah danau, yang dinamakan Situ Lengkong. Situ Lengkong hingga kini masih berupa danau yang tidak pernah mengering meskipun saat musim kemarau panjang.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply