Author: Yas Marina Editor: Triani Retno A Illustrator: Ratna Kusuma Halim Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Jawa Barat

Di Istana Kerajaan Pakuan, tinggal dua remaja putri yang cantik jelita. Yang pertama Putri Endahwarni, putri dari Raja Pakuan. Yang satu lagi Nyai Anteh. Nyai Anteh merupakan putri dari Nyai Dadap, dayang kesayangan Ratu. Meski Nyai Dadap sudah meninggal, Ratu mengizinkan Anteh tinggal di istana.

Nyai Anteh menjadi teman bermain Putri Endahwarni. Anteh juga mengurus seluruh keperluan sang putri. Karena kesetiaan Nyai Anteh, Putri Endahwarni sangat menyayangi gadis itu.

Suatu pagi, Nyai Anteh datang membawa sehelai baju.

“Baju siapa itu, Anteh?” tanya Putri Endahwarni.

“Ini baju untukmu, Tuan Putri,” jawab Nyai Anteh.

“Coba aku lihat.”

Tidak lama kemudian, Putri Endahwarni mematut-matut diri di hadapan cermin. “Bagus sekali, Anteh. Dari mana kaudapat baju ini?”

“Hamba membuatnya sendiri,” jawab Nyai Anteh.

“Kau hebat sekali,” puji Putri Endahwarni sungguh-sungguh. “Kalau kau memakai baju ini, kau pun pasti secantik putri.”

“Ah, Putri bisa saja.” Pipi Nyai Anteh merona merah yang menambah kecantikan parasnya.

“Aku ingin kau membuat baju untuk pernikahanku juga,” pinta Putri Endahwarni. “Rencananya, besok Adipati Kadipaten Wetan bersama anaknya akan datang ke sini. Adipati itu akan melamarku untuk anaknya, Pangeran Anantakusuma.”

“Baiklah, kalau Putri percaya padaku,” Nyai Anteh mengangguk. “Sekarang, izinkan hamba memetik bunga di kebun istana. Besok rambut Putri akan hamba hias dengan bunga-bunga itu supaya terlihat makin cantik.”

Putri Endahwarni mengangguk sambil kembali asyik melihat dirinya di cermin.

Nyai Anteh pergi ke belakang istana. Di sana terdapat kebun bunga yang luas. Ia asyik memetik bunga di sana. Saking asyiknya, Nyai Anteh tidak sadar dirinya berjalan hampir ke tepi hutan. Pikirannya melayang ke percakapan dengan sang Putri tadi. Sebagai gadis remaja, ia senang kecantikannya diakui orang. Pipinya pun kembali merona.

Tanpa ia sadari, di balik pepohonan di tepi hutan, seorang pemuda sedang mengintipnya. Pemuda itu terpesona dengan kecantikan Nyai Anteh. Kemudian, ia berjalan mendekati Nyai Anteh.

Mendengar suara langkah kaki, Nyai Anteh mengangkat wajah. Jantungnya berdegup kencang saat pandangannya bersiborok dengan mata pemuda itu. Karena merasa bingung bercampur takut, ia segera berlari meninggalkan kebun istana.

Keesokan harinya, istana lebih ramai daripada biasanya. Raja menyambut Adipati Kadipaten Wetan beserta rombongannya dengan pesta meriah. Saat proses lamaran dimulai, Putri Endahwarni keluar menemui para tamu diiringi Nyai Anteh. Nyai Anteh sibuk memegang selendang sang Putri yang menjuntai ke lantai.

Ketika Putri Endahwarni berjalan di hadapan Pangeran Anantakusuma, Pangeran bukannya memandang Putri. Ia malah terbelalak melihat sosok Nyai Anteh yang ia lihat di kebun bunga kemarin.

Selepas acara, Pangeran menyuruh seorang prajuritnya untuk menyampaikan pesan kepada Nyai Anteh. Kata Pangeran, nanti sore ia akan menemui Nyai Anteh di tepi hutan dekat kebun bunga karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.

Nyai Anteh terkejut menerima pesan itu. Namun, karena penasaran, ia memenuhi permintaan sang pangeran. Sore harinya, Nyai Anteh pergi ke tepi hutan di belakang istana. Pangeran Anantakusuma sudah menunggu di situ.

“Ada apa Pangeran hendak menemui saya?” tanya Nyai Anteh.

“Tahukah, Anteh, sebetulnya saya tidak mencintai Putri Endahwarni. Saya jatuh cinta padamu sejak pertama kali saya melihatmu di sini,” ujar sang Pangeran.

“Jangan, Pangeran. Saya tidak ingin mengkhianati Putri,” tolak Nyai Anteh.

“Kau jangan membohongi perasaanmu. Aku tahu kau pun menyukaiku. Sekarang begini saja. Aku tunggu jawabanmu besok di sini. Apakah kau mau menerima cintaku? Kalau kau bersedia menjadi istriku, aku akan membawamu pergi dari sini,” ucap Pangeran.

Nyai Anteh terpana mendengar ucapan Pangeran Anantakusuma. Hatinya mengakui kalau ia menyukai Pangeran. Tapi Nyai Anteh tidak mau menyakiti hati Putri Endahwarni. Anteh bertekad menolak cinta Pangeran Anantakusuma.

Sepanjang malam Anteh merasa resah. Ia duduk di tepi jendela sambil mengelus-elus Candramawat, kucing kesayangannya.

“Apa yang harus aku lakukan, Mawat?” bisik Nyai Anteh pada kucingnya.

“Meong…” balas Mawat.

“Apakah aku harus pergi ke bulan?” Anteh menengadahkan muka ke bulan. Saat itu bulan purnama begitu putih tak bernoda.

Tiba-tiba seperti ada kekuatan tidak terlihat menarik Nyai Anteh dan Candramawat ke atas, ke atas, dan teruuus… ke atas. Akhirnya, sampailah mereka di permukaan bulan. Di bulan Nyai Anteh merasa tenteram karena dapat menghindar dari Pangeran Anantakusuma. Namun, ia ingat janjinya pada Putri Endahwarni untuk membuat baju pengantin. Selama di bulan, Anteh berusaha menenun kain untuk baju pengantin sang Putri. Namun, tenunannya tidak pernah selesai karena Candramawat selalu merusak kainnya.

Sejak saat itu, bulan tidak pernah putih bersih lagi. Kita akan selalu melihat seperti ada bayangan di permukaan bulan. Itulah bayangan Nyai Anteh yang sedang menenun ditemani kucingnya.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply