Author: Ika Maya Susanti Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Rita Agustina & Susy Suzanna Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Riau

Dewa Mendu dan Angkara Dewa adalah dua putra Semandung Dewa, raja di kayangan. Selama ini kedua kakak beradik tersebut begitu ingin turun ke bumi.

“Lihatlah, sepertinya menyenangkannya ya kehidupan di bumi?” ujar Dewa Mendu kepada adiknya.

Angkara Dewa pun mengangguk, mengiyakan ucapan kakaknya. Sambil duduk santai, mereka berdua mengamati berbagai kehidupan yang ada di bumi.

“Bagaimana jika kita bertamasya ke bumi, Kak?”

Dewa Mendu malah mengembuskan nafas berat. “Ah, aku sudah pernah menanyakan hal itu pada ayah. Tapi Ayah malah memarahiku. Katanya, kita tidak boleh turun karena banyak hal yang tidak baik di sana.”

Wajah Angkara Dewa langsung muram. Padahal ia sudah membayangkan betapa asyiknya jika ia dan kakaknya bisa main turun ke bumi.

Diam-diam, Dewa Mendu merencanakan untuk turun ke bumi sendirian, tanpa mengajak adiknya. Keinginannya untuk turun ke bumi begitu kuat.

“Biarlah aku turun sendiri saja ke sana. Aku tidak mau Angkara Dewa jadi ikut-ikutan dimarahi oleh Ayah,” pikir Dewa Mendu.

Suatu ketika, Dewa Mendu benar-benar melaksanakan rencananya. Saat turun ke bumi, ia terdampar di hutan belantara yang ada di puncak Bukit Mencerne. Tempat itu belum pernah sama sekali disinggahi oleh manusia.

Sementara itu, keluarga Dewa Mendu kebingungan karena selama beberapa hari mereka tidak melihat Dewa Mendu.

“Pasti anak itu sudah turun ke bumi!” seru ayah Dewa Mendu dengan kesal. Ia lalu mengutus Angkara Dewa untuk turun ke bumi dan mencari kakaknya.

Saat Angkara Dewa menyusul Dewa Mendu ke bumi, ia juga terdampar di Bukit Mencerne. Namun Angkara Dewa tidak langsung menemukan kakaknya. Selama berminggu-minggu ia berkelana di dalam hutan dan terus mencari keberadaan Dewa Mendu.

Suatu ketika keduanya akhirnya bertemu. Namun sayangnya, kedua wajah dan tubuh kakak beradik ini sudah berubah tidak seperti saat mereka di kayangan sejak mereka turun ke bumi. Akibatnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa tidak saling mengenal.

“Siapa kamu?” tanya Dewa Mendu pada Angkara Dewa. Ia merasa, orang yang ada di hadapannya ini terus mengikutinya sejak beberapa waktu sebelumnya.

Angkara Dewa tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia membatin, rasanya tidak mungkin mengaku pada manusia biasa bahwa ia adalah putra seorang dewa. Sejak melihat keberadaan orang lain yang sesungguhnya adalah Dewa Mendu, ia memang sengaja terus membututinya. Sebetulnya niat Angkara Dewa hanyalah ingin mencari teman.

“Hei, mengapa kau diam saja?” hardik Dewa Mendu.

Angkara Dewa yang tak kunjung menjawab membuat Dewa Mendu kesal. Ia lalu menyerang sosok yang sebetulnya merupakan adik kandungnya sendiri. Mendapat serangan dari Dewa Mendu, Angkara Dewa jadi terpancing untuk meladeni. Pertarungan sengit antara Dewa Mendu dan Angkara Dewa akhirnya terjadi.

Dua orang yang sama-sama putra Semandung Dewa ini memiliki kesaktian yang sama. Mereka sampai terus bertarung selama beberapa hari. Sesekali mereka sepakat untuk beristirahat. Namun saat tenaga sudah pulih, mereka kembali bertarung. Keduanya ingin membuktikan, siapa di antara mereka yang paling kuat. Pertarungan yang sengit selama beberapa hari itu membuat keduanya berada dalam kondisi kritis.

Di tengah kondisinya yang hampir tidak kuat lagi, Dewa Mendu berseru ke arah langit, “Jika sesungguhnya aku adalah Dewa Mendu putra Semandung Dewa yang ada di kayangan, bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini!”

Tak berapa lama, Angkara Dewa juga berteriak sambil menatap langit, “seandainya aku ini memang Angkara Dewa putra Semandung Dewa yang ada di kayangan, bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini!”

Usai sama-sama mengucapkan perkataan tersebut, keduanya langsung terkejut. Sontak, keduanya saling menghampiri dan berpelukan.

“Maafkan aku Kak, aku sampai tidak mengenalimu,” sesal Angkara Dewa.

“Tak apa. Kalau aku tahu engkau itu adikku, aku pasti tidak akan menyerangmu,” balas Dewa Mendu.

Keduanya kemudian merasa menyesal karena sudah tidak menuruti kata-kata ayahnya untuk tidak turun ke bumi.  Kini mereka tahu akibatnya.

“Kak, kita baru saja bertemu tapi malah bertengkar beberapa hari.”

“Ternyata benar yang dikatakan Ayah, kehidupan di bumi ini tidak seperti di kahyangan,” gumam Dewa Mendu.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply