Author: Dzikry el Han Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Maman Mantox, Rizky Adeliasari, Purwa Gustira Translator: Ratih Soe Proofreader: Sari Nursita Origin: Papua

Manarbew adalah seorang anak lelaki periang. Usianya sekitar delapan tahun. Ibunya bernama Insoraki, dan kakeknya seorang panglima bernama Rumbarak. Mereka hidup damai di sebuah perkampungan di Pulau Wundi.

Beberapa bulan ini Manarbew gelisah. Ia bertanya-tanya tentang ayahnya, yang belum pernah ia lihat semenjak lahir. Manarbew kecewa pada ibunya, karena tidak bisa memberi jawaban pasti.

Ia lalu memberanikan diri bicara kepada kakeknya. “Kakek, aku ingin tahu siapa ayahku. Maukah kakek membantuku mencari ayahku?” kata Manarbew.

Panglima Rumbarak menatap cucunya dengan kasih sayang. “Baiklah, Manarbew. Kakek akan mengadakan pesta tari. Kau harus mengenali ayahmu sendiri. Sebab, kakek dan ibumu tidak pernah tahu siapa ayahmu.”

“Kenapa begitu?”

“Semua terjadi karena keajaiban. Ketika ibumu mandi di pantai, ia menyentuh buah mars yang mengapung-apung di dekatnya. Itu membuat ibumu mengandung.”

“Apakah aku keturunan buah mars?”

“Entahlah, Manarbew. Kita harus mengadakan pesta untuk mengetahuinya.”

Pesta besar pun dilaksanakan.Semua lelaki di perkampungan itu diundang. Mereka memukul tifa dan menyanyikan wor. Panglima Rumbarak mengelompokkan tamu-tamunya berdasarkan usia.

Kelompok pertama adalah para pemuda yang belum menikah. Manarbew ditemani ibu dan kakeknya mengenali mereka satu per satu.

“Tidak ada ayahku di kelompok ini,” kata Manarbew.

Ia lalu menghampiri kelompok kedua, yaitu para lelaki yang sudah menikah. Manarbew memperhatikan mereka dengan saksama. Namun ia belum juga menemukan ayahnya.

Tinggal satu kelompok lagi.  Kelompok ketiga adalah para lelaki tua renta. Manarbew memperhatikan mereka satu per satu.

“Kakek, Ibu, lihatlah lelaki di sana itu. dia ayahku,” kata Manarbew girang.

“Siapa dia, Manarbew?” tanya Insoraki khawatir sekaligus penasaran.

“Itu, lelaki tua yang tubuhnya penuh kudis. Ia membawa tongkat dan seikat daun pengusir lalat. Ayahku itu bernama Manarmakeri.”

Manarbew tahu, ibu dan kakeknya sangat kecewa mendengar jawabannya. Demikian pula semua penduduk kampung. Mereka tidak terima Insoraki yang cantik mendapatkan suami tua renta. Apalagi tubuhnya amis karena penuh kudis.

Pesta tari berubah kacau. Manarbew menyaksikan semua penduduk berbondong pergi dengan perahu. Mereka tidak suka Insoraki menikah dengan Manarmakeri. Bahkan Panglima Rumbarak juga pergi membawa semua barang-barangnya. Tak satu pun perahu tertinggal. Perkampungan menjadi sepi. Penghuninya hanya Manarbew dan kedua orangtuanya.

Sejak itu Manarbew melihat ibunya selalu murung dan sangat sedih. Lalu, pada suatu sore ayahnya memanggil Manarbew.

“Jagalah ibumu, Manarbew. Ayah akan pergi sebentar. Tetaplah di sini sampai ayah kembali.”

“Baik, Ayah.”

Manarbew lalu bermain-main sendiri di halaman rumah. Sedangkan ibunya duduk termenung. Mereka tidak berbicara apa-apa sampai hari hampir gelap. Manarbew berhenti bermain ketika melihat seorang lelaki gagah di kejauhan. Tampak lelaki itu tersenyum dan berjalan kearahnya.

“Apakah kau ayahku?” tanya Manarbew ketika mereka dekat. Manarbew masih bisa mengenali tongkat ayahnya, meskipun tubuh dan wajah lelaki itu sudah berubah.

“Ya, Manarbew. Aku ayahmu.”

“Bagaimana Ayah bisa berubah wujud?”

“Ini rahasia kehidupan, Manarbew. Ayah pergi ke suatu tempat bernama Kaweri. Di sana Ayah membuat api dari tumpukan kayu besi. Kemudian Ayah membakar kudis di sekujur tubuh ayah dengan api itu.”

“Aku akan memberi tahu ibu, bahwa ayah sudah berubah menjadi lelaki gagah dan tampan.”

Setelah Manarbew menceritakan kejadian itu, ternyata ibunya masih bersedih. Manarbew tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mendengarkan percakapan kedua orangtuanya.

“Kenapa baru sekarang kau menampakkan wujudmu yang tampan?” tanya Insoraki kepada suaminya.

“Apa kau tidak suka?” Manarmakeri balik bertanya.

“Tidak ada gunanya lagi. Semua orang sudah pergi. Aku kehilangan keluarga dan teman-temanku.”

“Jangan khawatir, Insoraki. Kita akan menyusul mereka,” jawab Manarmakeri.

Kemudian, Manarbew melihat ayahnya menggores-goreskan tongkat di atas pasir. Ayahnya menggambar perahu kurares yang megah. Gambar itu lalu berubah menjadi perahu yang sebenarnya. Mereka pun berlayar ke Pulau Yapen, menyusul keluarga dan para penduduk.

Ternyata, kehadiran Manarbew dan kedua orangtuanya tidak membuat penduduk senang. Bahkan Panglima Rumbarak juga menolak kehadiran mereka. Manarbew melihat ibunya semakin sedih.

Tapi ayahnya pandai menghibur. Mereka pun melanjutkan berlayar hingga tiba di Pulau Numfor.

“Ayah, udara di sini sangat panas. Aku tidak tahan,” kata Manarbew.

“Ayah tahu.  Kita perlu udara yang sejuk.”

Manarbew melihat ayahnya melemparkan batu poiru ke kejauhan. Kemudian terjadilah keajaiban. Batu poiru itu berubah menjadi sebuah pulau yang indah dengan udara yang sejuk. Pulau itu lalu diberi nama Pulau Poiru.

Manarbew sangat senang. Ia membantu ayahnya menanam empat pohon baru di Pulau Poiru. Dari empat pohon itulah muncul empat klan besar, yaitu: Anggraidifu, Rumansara, Rumberpon, dan Rumberpur. Mereka hidup damai hingga sekarang.

***

 

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply