Author: Husna Ilyas Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Jack Son Translator: Ratih Soe Proofreader: Sari Nursita Origin: Aceh

Amat Mude adalah pewaris Tahta Kerajaan Alas. Ia dan Ibunda Ratu dibuang ke tengah hutan oleh pamannya, Raja Muda karena takut suatu hari nanti Amat Mude akan merebut tahta kerajaan.

Amat Mude tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan rajin. Suatu hari ia menemukan cucuk sanggul milik Ibunda Ratu. Cucuk sanggul itu ia jadikan mata pancing untuk memancing ikan di sungai.

“Lihat apa yang aku bawa, Bu!” Amat Mude menyerahkan lima ekor ikan yang besar-besar kepada Ibunda Ratu.

“Banyak sekali ikan yang kau dapatkan anakku.”

Ibunda Ratu segera membersihkan ikan-ikan hasil pancingan Amat Mude. Ketika hendak memotong ikan menjadi dua, pisaunya mengenai sesuatu yang keras di perut ikan. Alangkah terkejutnya Ibu Amat Mude, ternyata di dalam perut itu ada sebuah telur dari emas. Dan telur-telur emas pun ditemukan lagi pada ikan-ikan yang lain.

Akhirnya, Ibu Amat Mude mengajak putranya ke sebuah desa yang tak jauh dari hutan itu. Di sana mereka bertemu saudagar kaya, yang rupanya mengenali mereka sebagai permaisuri dan putra mahkota Kerajaan Alas.

“Bagaimana permaisuri dan putra mahkota bisa ada di dalam pasar?” tanya saudagar kaya yang terlihat sedih melihat keadaan Amat Mude dan Ibunda Ratu.

Lalu Ibunda Ratu pun menceritakan nasibnya yang dibuang oleh Raja Muda. Ia juga menceritakan telur-telur emas milik Amat Mude.

Saudagar kaya membawa Amat Mude dan Ibunda Ratu untuk tinggal bersamanya. Ia juga membantu Amat Mude menjual telur-telur emas dan membuatkan rumah yang megah untuk ditinggali Amat Mude bersama Ibunda Ratu.

Berkat telur-telur emasnya, Amat Mude kini telah menjadi kaya dan selalu membantu orang-orang kesusahan yang ada di desa tempat tinggalnya sekarang. Apalagi dia tetap pergi mencari ikan di sungai di tengah hutan. Ikan-ikan yang ia dapatkan selalu saja ada yang berisi telur emas. Sehingga menjadi semakin kayaraya lah Amat Mude.

Kabar tentang kekayaan Amat Mude akhirnya sampai juga di telinga Raja Muda. Diperintahkanlah pengawal untuk menjemput Amat Mude menghadap padanya. Raja Muda tercengang melihat Amat Mude sekarang telah menjadi pemuda yang  gagah dan tampan. Lalu timbul niat jahatnya untuk menyingkirkan Amat Mude untuk selama-lamanya.

“Amat Mude maukah kau menolongku?”  tanya Raja Muda dengan wajah yang dibuat sedih. “Istriku sedang sakit saat ini. Tabib mengatakan hanya buah kelapa gading yang bisa menyembuhkannya. Dan buah itu hanya ada di sebuah pulau di tengah laut.”

“Baik, paman. Aku akan memetik buah itu untuk mengobati penyakit istri paman,” jawab Amat Mude.

Raja Mude tersenyum licik. Sebab dia tahu pulau yang ada di tengah laut itu dijaga oleh Ikan raksasa dan Naga yang besar. Raja Muda sudah mengirim banyak prajurit untuk memetik buah kelapa gading. Tapi tak ada satu pun yang berhasil melawan sang Naga. Kali ini, Amat Mude pasti tak akan pernah kembali ke kerajaan.

Amat Mude berjalan berhari-hari untuk sampai ke tepi laut. Sampai di sana dia termenung, memikirkan bagaimana caranya dia bisa sampai ke pulau di tengah laut itu. Karena menurut kabar yang didengarnya, lautan itu dihuni oleh binatang-binatang buas dan besar. Siapapun yang mencoba mencapai pulau itu, pasti tidak pernah kembali lagi.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini anak muda?” tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan raksasa bersama seekor Naga yang besar.

“Aku Amat Mude dari Kerajaan Alas. Pamanku Raja Muda yang sekarang memerintah Kerajaan Alas, istrinya sedang sakit parah. Aku hendak menolongnya dengan memetikkan buah kelapa gading yang ada di pulau itu untuk mengobatinya.”

Mendengar nama Amat Mude, kedua binatang raksasa itu menunduk memberi hormat kepada Amat Mude. Amat Mude heran melihatnya.

“Ayahmu adalah seorang Raja yang baik hati. Kamu adalah anak yang sangat didambakan oleh Raja. Sehingga seminggu setelah kelahiranmu, Raja mengadakan pesta Turun Mani, yakni pesta pemberian nama,” kata Naga yang besar.

“Rakyat dari seluruh penjuru negeri di undang untuk menghadiri pesta. Dan bukan dari bangsa manusia saja yang di undang. Kami pun turut datang saat itu,” kata Ikan raksasa.

“Tenang saja. Kami akan mengantarmu ke pulau itu!” seru Naga yang besar.

Akhirnya, dengan bantuan Ikan raksasa dan Naga yang besar, Amat Mude pun berhasil mendapatkan buah kelapa gading untuk istri pamannya.

Setelah istri Raja Muda sembuh, juga melihat kebaikan dan ketabahan yang ada di dalam diri Amat Mude, Raja Muda pun akhirnya menyadari akan perbuatan jahatnya selama ini. Raja Muda pun turun tahta dan mengembalikan putra mahkota Amat Mude menjadi Raja di Kerajaan Alas.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply