Author: Eti Rahmi Editor: Aan Wulandari Illustrator: Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Riau

Di pinggiran sungai Siak, berdirilah kerajaan  Gasib. Raja Gasib mempunyai putri semata wayang bernama Putri Kaca Mayang yang cantik jelita.

Berita kecantikan sang putri  masyhur ke penjuru negeri. Namun,  tidak seorang pangeran pun yang berani melamarnya, karena  Raja Gasib memiliki seorang panglima yang gagah perkasa, Gimpam namanya.

Cerita  tentang kecantikan sang Putri pun sampai ke telinga Raja Aceh. Ia berniat menjadikan Putri Kaca Mayang sebagai istrinya. Raja Aceh lalu mengutus dua orang panglima untuk melamar sang putri.

Sesampainya di kerajaan Gasib, panglima tersebut menyampaikan maksud kedatangan mereka. “Maaf Paduka Raja, kami diutus Raja Aceh untuk meminang tuanku Putri Kaca Mayang,” ucap sang panglima yang berbadan subur.

Raja Gasib kurang suka pada Raja Aceh  karena berperangai tidak baik. Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa, Raja Gasib pun  menjawab, “Tolong sampaikan permohonan maaf kami kepada Raja Aceh. Putri  Kaca Mayang belum berniat untuk menikah.

“Baik tuan, kami pamit dulu,” jawab panglima satunya lagi.

Utusan kerajaan Aceh itu pun  pulang dengan tangan hampa. Saat mendengar laporan dari panglimanya, bahwa lamarannya ditolak, Raja Aceh merasa tersinggung. Ia merasa Raja Gasib telah sengaja menghinanya. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menyerang  Gasib. Raja Gasib yang telah berfirasat akan mendapat serangan, menyuruh penduduknya bersiap siaga. Panglima Gimpam memimpin penjagaan Kuala Gasib di sekitar sungai Siak.

Rupanya, persiapan yang dilakukan raja Gasib diketahui raja Aceh. Keberadaan Panglima Gimpam di Kuala Gasib pun tak luput dari intaian mata-mata Raja Aceh. Secara diam-diam, pasukan Aceh memasuki  Gasib melalui jalur darat.

Saat memasuki wilayah Gasib, raja Aceh bertanya kepada seorang penduduk yang ia jumpai, “wahai, Anak muda, maukah kau menunjukkan di mana lokasi kerajaan Gasib?”

Karena mengetahui  sedang berhadapan dengan raja Aceh yang ingin menyerang kerajaan mereka, sang pemuda menjawab, “maaf, Tuan, saya tidak tahu.” Ia tidak mau berkhianat kepada raja mereka.

Merasa dibohongi, raja Aceh segera memerintahkan anak buahnya memukul sang pemuda. Di bawah ancaman dan tekanan, akhirnya sang pemuda menunjukkan kerajaan Gasib.

Raja Gasib tidak mengetahui kedatangan pasukan Aceh. Ia sedang asyik bercengkerama dengan keluarganya. Raja Aceh menyerang kerajaan Gasib dan berhasil menculik  Putri Kaca Mayang.

Berita penyerangan dan penculikan sang putri segera dilaporkan kepada Panglima Gimpam yang sedang berjaga-jaga di jalur perairan. Panglima Gimpam segera kembali ke istana. Di hadapan sang raja, Panglima Gimpam berjanji akan membawa  Putri Kaca Mayang kembali ke kerajaan Gasib.

Maka, berangkatlah panglima Gimpam  mencari sang putri. Halangan yang ia jumpai selama di perjalanan tidak menyurutkan tekadnya untuk menemukan Putri Kaca Mayang. Ia berpantang pulang sebelum usahanya berhasil.

Raja Aceh menyiagakan pasukannya dan dua ekor gajah  di gerbang kerajaannya, untuk menghalangi panglima Gimpam memasuki istana. Namun, panglima Gimpam tidak gentar sedikit pun. Setelah melewati pertarungan yang sengit, akhirnya Panglima Gimpam  yang tangguh berhasil menaklukkan dua ekor gajah tersebut. Raja  Aceh tak berkutik melihat kekuatan Panglima Gimpam. Ia berhasil memabawa Putri  Kaca Mayang menjauhi  istana Aceh.

Di perjalanan menuju Gasib, tepatnya di daerah Kuantan, tiba-tiba Putri Kaca Mayang merasa susah bernapas karena angin yang kencang dan cuaca yang dingin.

“Panglima, tolong sampaikan maafku kepada ayahanda Raja Gasib. Aku tidak sanggup melanjutkan perjalanan ini lagi,” kata Putri Kaca Mayang terbata-bata.

“Bertahanlah, Putri. Sebentar lagi kita akan sampai ke istana,” Panglima Gimpam menyemangati tuan putri.

“A-a… ku tak kuat lagi pang… li… maa…,” ucap Putri Kaca Mayang.

Tak lama berselang, sang Putri menghembuskan napas terakhir.

Seluruh penduduk Gasib sangat  berduka atas kematian Putri Kaca Mayang. Mereka  berbondong-bondong menuju istana untuk melihat putri kesayangan mereka untuk terakhir kalinya. Jasad sang Putri di makamkan di Gasib.

Sejak kepergian putrinya, raja Gasib selalu  tampak murung. Kala kerinduan kepada sang putri menghampirinya, sang Raja terlihat mengeluarkan airmata. Untuk menghilangkan kegundahannya, akhirnya ia memutuskan menyepi ke negeri seberang, Gunung Ledang di Malaka. Tampuk kepemimpinan ia percayakan kepada panglima Gimpam.

Di bawah kepemimpinan Panglima Gimpam, kerajaan Gasib berkembang pesat. Namun, panglima Gimpam tidak mau serakah dan gila pangkat. Ia tidak ingin berbahagia di atas kesedihan  orang lain. Ia akhirnya meninggalkan Gasib, dan membuka perkampungan baru yang bernama Pekanbaru.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply