Author: Fransisca Emilia Editor: Illustrator: Wafiq Sehat Translator: Proofreader: Origin: Kalimantan Timur

Kilat dan petir menyambar tak henti-hentinya. Hujan deras diiringi angin kencang menumbangkan pohon-pohon. Sudah hari ketujuh, namun badai belum juga reda. Penduduk Hulu Dusun tidak ada yang berani keluar rumah. Babu Jaruma dan istrinya hanya bisa berdoa, memohon kepada Dewata agar meredakan amarahnya.

“Kanda, kayu bakar sudah habis. aku tidak bisa menyalakan api untuk memasak,” kata istri Babu Jaruma.

“Baiklah, aku akan keluar mencari kayu.” Babu Jaruma membuka pintu, angin kencang bertiup mendorong tubuhnya. Buru-buru ia menutup pintu kembali.

“Biarlah aku tidak usah masak hari ini. Kita masih punya air untuk diminum,” kata istri Babu Jaruma.

Babu Jaruma memandang seisi rumah. Ia menatap kayu yang melintang di atap. “Kita potong saja salah satu kasau. Atap rumah kita masih kuat,” katanya sambil mengambil gergaji dan kapak.

Betapa terkejutnya Babu Jaruma, ia menemukan seekor ulat mungil dalam kayu yang dibelahnya. Ulat itu berkilau, melingkar dalam lubang kecil yang hangat. Matanya lembut menatap Babu Jaruma minta dikasihani.

Istri Babu Jaruma mendekat. “Kasihan sekali ulat kecil ini, biarlah kita pelihara saja.”

Sungguh ajaib, saat Babu Jaruma mengangkat ulat, badai tiba-tiba berhenti. Hujan reda, awan hitam menyingkir, dan matahari bersinar kembali. Babu Jaruma bersama penduduk Hulu Dusun pun bergembira. Mereka mulai berladang dan mencari ikan di sungai kembali.

Babu Jaruma dan istrinya memelihara si ulat kecil dengan penuh kasih sayang. Mereka membuatkan tempat tidur mungil dengan selimut hangat. Daun-daun muda yang masih segar selalu tersedia sebagai makanannya.

Si ulat kecil tumbuh semakin besar. Tubuhnya semakin berkilau menjelma menjadi seekor naga cantik. Tingkah polahnya menghangatkan hati Babu Jaruma dan istrinya. Pasangan yang belum dikaruniai keturunan itu memperlakukan naga sebagai anak mereka. Namun, penduduk desa ketakutan saat mengetahui ada naga di rumah Babu Jaruma.

Suatu malam, seorang putri yang sangat cantik mendatangi Babu Jaruma dalam mimpi. Putri itu tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Ayah dan Bunda sudah memelihara dan selalu menyayangi ananda. Sekarang ananda sudah besar dan membuat warga desa takut. Izinkanlah ananda pergi. Tolong buatkan sebuah tangga agar ananda bisa meluncur ke bawah.”

Babu Jaruma terbangun. Hari menjelang pagi. Ia segera pergi menebang bambu dan membuatkan tangga dari rumah panggung ke tanah.

Setelah tangga siap, naga berkata, “Ayah dan Bunda, bakarlah wijen hitam dan taburi tubuh ananda dengan beras kuning.” Suaranya persis seperti suara putri dalam mimpi Babu jaruma. “Tolong ikuti kemanapun ananda merayap. Jika ananda telah sampai ke sungai dan masuk ke air, iringilah buihnya.”

Babu Jaruma dan istrinya mengikuti permintaan naga. Kemudian naga menuruni tangga dan merayap ke sungai. Setelah masuk air, naga berenang bolak-balik tujuh kali ke hilir dan tujuh kali ke hulu. Lalu ia berenang ke Tepian Batu. Di tempat itu, naga berenang tiga kali ke kiri dan tiga kali ke kanan, lalu menyelam. Babu Jaruma dan istrinya mengiringi dengan sampan kecil.

Ketika naga menyelam, tiba-tiba muncul angin topan dahsyat dan hujan deras. Guntur menggelegar dan kilat menyambar-nyambar. Air sungai pun menggelegak. Babu Jaruma mendayung sampannya ke tepian.

Tak lama, badai berhenti tiba-tiba seperti kemunculannya. Hujan reda dan matahari bersinar kembali. Babu Jaruma mencari-cari keberadaan naga, namun tak terlihat di manapun.

“Lihat, Kakanda!” Istri Babu Jaruma menunjuk ke tengah sungai. Di sana muncul buih-buih yang semakin lama semakin banyak dan meninggi. Warna-warni pelangi terpancar dari buih itu. Di tengah buih ada sesuatu yang bersinar melebihi kecemerlangan warna pelangi. Mereka pun mendayung sampan ke tengah sungai kembali.

Babu Jaruma dan istrinya menghela napas tertahan. Seorang bayi terbaring dalam sebuah gong di tengah gelembung yang berkilau cemerlang. Gong itu meninggi di permukaan air dijunjung oleh naga. Semakin lama semakin tinggi. Ternyata, gong dan naga dijunjung oleh hewan lain lagi. Tak lain adalah Lembu Swana, tunggangan Dewa Batara Guru sendiri. Berkepala singa, bermahkota raja, berbelalai gajah, bersayap garuda, dan bersisik ikan.

Rasa takjub Babu Jaruma dan istrinya belum berakhir. Lembu Swana dan naga menari-nari di permukaan air menciptakan pemandangan yang amat mempesona. Perlahan-lahan Lembu Swana dan naga masuk dan menghilang kembali ke dalam air. Hanya gong dan bayi yang tertinggal di permukaan.

Istri Babu Jaruma segera menggendong bayi yang ternyata seorang perempuan. Mereka sangat bersukacita mendapat karunia bayi dari Dewata. Sesuai petunjuk Dewata, bayi cantik itu diberi nama Putri Karang Melenu. Kelak, bayi perempuan tersebut akan menjadi permaisuri raja Kutai Kartanegara pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply