Author: Sri Yuniarti Suharni Editor: Veronica Widyastuti Illustrator: Maman Mantox & Rizky Adeliasari Translator: Agnes Bemoe Proofreader: Ratih Soe Origin: Riau

Dahulu di Pulau Bintan hiduplah orang-orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Legoi. Batin Legoi sangat dikenal sebagai pemimpin yang santun, lemah lembut, dan adil. Dia sangat dicintai oleh rakyatnya.

Suatu hari, saat asyik menyusuri pantai yang banyak ditumbuhi semak pandan, Batin Legoi mendengar tangisan bayi.

“Bayi siapa yang menangis di tempat seperti ini?” tanya Batin Legoi pada pengawalnya. Pengawalnya hanya menggeleng.

Tangisan itu semakin keras, saat Batin Legoi mendekati semak-semak pandan. Dengan hati-hati Batin Legoi mendekati semak itu. Alangkah kagetnya Batin Legoi, saat mendapatkan seorang bayi perempuan yang tergeletak di atas dedaunan.

“Siapa yang meletakkan bayi ini di sini?” tanya Batin Legoi kembali.

Batin Legoi memerintahkan pengawalnya untuk memeriksa sekitar semak-semak pandan itu. Setelah pengawal memastikan tidak ada siapa pun di sana, Batin Legoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan itu.

Batin Legoi membesarkan dan mendidik bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri. Bayi perempuan itu diberi nama Puteri Pandan Berduri. Semenjak kehadiran Puteri Pandan Berduri, Batin Legoi merasa hidupnya sudah lengkap.

Puteri Pandan Berduri tumbuh sebagai gadis yang berparas cantik jelita. Tutur kata dan tingkah lakunya pun sebanding dengan kecantikannya. Sangat lembut, sopan santun, suka menolong, dan anggun. Karena keelokan paras dan lakunya, dia amat dicintai masyarakat Suku Laut.

Banyak pemuda, raja, pangeran, dan bangsawan yang tertarik dengan Puteri Pandan Berduri. Namun, tidak ada yang berani meminangnya. Batin Legoi sendiri sangat berharap, puterinya berjodoh dengan seorang raja atau pemimpin daerah.

Sementara itu di Pulau Galang, hiduplah seorang Megat¹ dengan dua orang putra yang gagah berani. Mereka bernama Julela dan Jenang Perkasa. Sejak kecil keduanya dididik untuk selalu rukun dan saling menjaga. Namun, Julela berubah semenjak ditunjuk ayahnya sebagai penggantinya kelak di Pulau Galang. Julela menjadi sombong dan angkuh. Bahkan ia pernah mengancam adiknya, Jenang Perkasa.

“Aku tidak akan pernah segan mengusirmu dari pulau ini, jika kamu tidak mengikuti perintahku,” ancam Julela.

Jenang Perkasa sedih dengan perubahan sifat kakaknya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Pulau Galang. Selama berlayar, Jenang tidak pernah mengaku sebagai anak dari pemimpin Pulau Galang. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pedagang.

Jenang Perkasa akhirnya sampai di Pulau Bintan. Jenang Perkasa sangat cepat menyesuaikan diri. Sikapnya yang sopan santun dan tutur katanya yang halus membuat penduduk senang. Masyarakat di pulau itu sering membicarakannya.

Kabar tentang Jenang Perkasa sampai ke telinga Batin Legoi. Ia sangat penasaran, ingin mengenalnya secara langsung. Supaya tidak mencolok, Batin Legoi mengadakan jamuan makan malam untuk semua tokoh ternama di Pulau Bintan, termasuk Jenang Perkasa.

Awalnya Jenang Perkasa meragukan undangan itu. Namun, untuk menghormati Batin Legoi, Jenang Perkasa memenuhi undangan tersebut.

Sejak awal kedatanganJenang Perkasa, Batin Legoi memerhatikan gerak-geriknya. Caranya bersikap, bercakap, bahkan bersantap pun tidak luput dari pengamatan Batin Legoi.

Terbersit keinginan Batin Legoi untuk menjodohkannya dengan Puteri Pandan Berduri. Batin Legoi mendekati Jenang Perkasa.

“Wahai, Anak Muda, sudah lama aku mendengar tentang kehalusan budi pekertimu. Ternyata itu bukan isapan jempol semata. Aku sudah membuktikannya,” kata Batin Legoi. Jenang Perkasa hanya tersenyum dan tertunduk malu.

“Alangkah senangnya hatiku, jika kamu bersedia menikah dengan puteriku,” lanjut Batin Legoi.

Jenang Perkasa nyaris tidak percaya dengan tawaran Batin Legoi. Namun, dia cepat menguasai keadaan dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Jenang Perkasa menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian pesta besar digelar untuk pernikahan Puteri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Seluruh rakyat di Pulau Bintan diundang.

Puteri Pandan Berduri hidup berbahagia dengan Jenang Perkasa. Apalagi, setelah Batin Legoi menyerahkan kepemimpinannya kepada Jenang Perkasa. Jenang Perkasa melaksanakan amanat sebagai pemimpin di Suku Laut itu dengan baik. Bakat yang didapat dari ayahnya membuat Jenang tidak kesulitan.

Rakyat Suku Laut sangat menyukainya. Jenang Perkasa mampu menjadi pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyatnya.

Suatu hari warga Pulau Galang memintanya kembali untuk menggantikan kakaknya yang semena-mena.  Jenang Perkasa menolak.  I bertekad akan tinggal di Pulau Bintan.

Pernikahan Puteri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa dikaruniai tiga orang putera. Ketiganya diberi nama sesuai dengan adat kesukuan: Mantang, Mapoi, dan Kelong. Ketiganya pun dididik dengan sikap yang santun dan lembut.

Setelah dewasa mereka pun diangkat mejadi pemimpin di masing-masing suku. Batin Mantang menjadi Kepala Suku di utara Pulau Bintan. Batin Mapoi menjadi Kepala Suku di barat Pulau Bintan. Sedangkan Batin Kelong menjadi Kepala Suku di timur Pulau Bintan.

Meskipun demikian, saat menghadapi permasalahan dalam suku mereka, Suku Laut tetap menjadi pedoman bagi mereka.

Begitulah indahnya kehidupan Suku Laut di bawah kepemimpinan Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri.

Hingga saat ini kisah Jenang dan Puteri Pandan Berduri masih dikenang. Karena dari merekalah lahirnya persukuan di Teluk Bintan. Penduduk Suku Laut atau Suku Sampan masih banyak di perairan Pulau Bintan.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply