Author: Mami Veve Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Agnes Bemoe Proofreader: Ratih Soe Origin: Nias

Raja Sirao duduk gelisah di atas singgasananya, berkali-kali dia  menarik napas panjang.

“Yang Mulia  harus segera mengambil keputusan,” kata Penasihat tak sabar.

“Aku menyayangi kesembilan putraku, tidak mungkin aku memilih hanya seorang di antara mereka untuk menggantikanku sebagai raja,” ucap Raja Sirao

“Tapi, Yang Mulia, sudah beredar kabar kalau mereka akan saling berperang untuk memperebutkan takhta. Yang Mulia tidak boleh berdiam diri!” desak Penasihat.

“Baiklah, besok ketika matahari tepat di atas kepala, kumpulkan semua penduduk negeri ini di halaman istana, aku akan mengumumkan keputusanku!” perintah Raja Sirao.

Keesokan harinya, semua rakyat berkumpul di halaman istana. Kesembilan putra Raja Sirao juga berbaris di belakang Raja Sirao. Di tengah-tengah lapangan tampak sebuah tombak besar yang ditancapkan dengan ujung runcing menghadap ke atas.

“Rakyatku, penduduk Kerajaan Teteholo Hamo, hari ini aku akan menentukan siapa  yang akan menggantikanku sebagai Raja. Aku akan mengadakan sayembara untuk memilih siapa dari kesembilan pangeran yang akan menduduki takhta kerajaan. Barangsiapa yang berhasil menari di atas tombak, dialah yang berhak menggantikanku sebagai raja. Sekarang mari kita mulai sayembaranya!” Seru Raja Sirao.

Bauwa Dano Hia, putra tertua Raja Sirao mendapatkan giliran yang pertama. Dia  melangkah menuju lapangan dengan gugup. Keringat bercucuran membasahi kening dan telapak tangannya. Bauwa Dano Hia berlari dan berusaha menggapai ujung tombak yang telah ditancapkan di halaman istana. Namun dia gagal. Menyentuh ujung tombak pun dia tidak mampu. Keringat di telapak tangannya membuat tombak menjadi licin.

Pangeran kedua yang bernama Lakindro Lai, mendapatkan giliran berikutnya. Dia melangkah dengan penuh percaya diri karena melihat kekalahan abangnya. Sebelum melangkah Lakindro Lai mengambil segengam tanah bercampur kerikil lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, agar tidak licin ketika memegang tombak. Tetapi, telapak tangannya menjadi terluka terkena kerikil kecil. Sambil menahan perih, Lakindro Lai berusaha meraih ujung tombak, namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Lakindro Lai juga  gagal menggapai ujung tombak.

Hal yang sama terjadi pada saudara-saudaranya yang lain, mereka semua gagal.

Tibalah giliran putra bungsu Raja Sirao, Balugu Luo Mewona. Sebelum melangkah dan melompat di atas ujung tombak, dia  terlebih dahulu menundukkan kepala, berdoa dan  memohon restu.

“Wahai para Tetua Kerajaan, Leluhur Teteholo Hamo, Ayahanda Raja, Ibunda Permaisuri, seluruh rakyat Teteholo Hamo, dampingi aku saat melangkah, berikan aku kekuatan. Atas restu kalian semua aku akan menyelesaikan tantangan ini.”

Sesudah memohon restu, Luo Mewona memegang tombak tersebut dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga dia melompat ke atas ujung tombak. Hanya dengan dua kali entakan sampailah dia di ujung tombak itu. Luo Mewona bertengger di ujung tombak yang tajam  bagaikan seekor ayam jantan. Di atas kepalanya terpasang mahkota emas dan Luo Mewona menari bagaikan seekor elang. Sambil menari, Luo Mewona menyampaikan salam kepada semua rakyat yang berkumpul di halaman istana. Luo Mewona memenangkan sayembara dan dinobatkan menjadi Raja.

Para Putra Raja Sirao yang lain merasa malu atas kekalahan mereka. Mereka pun cepat-cepat pulang dan bersembunyi, tidak berani menampakkan diri kepada Raja Sirao, bahkan kepada seluruh rakyat. Sampai berbulan-bulan lamanya mereka bersembunyi.

Hingga suatu hari, berkatalah Hia Walangi Adu, putra kelima Raja Sirao “Kita tidak bisa terus bersembunyi dan berdiam diri, mari kita menghadap Ayahanda Raja dan memohon izin untuk pergi dari Teteholo Hamo.”

“Benar, lagipula istana ini terlalu sempit untuk keluarga kita, mari pergi dari sini dan membangun kerajaan sendiri,” ujar Bauwa Dano Hia.

Keesokkan harinya, mereka bersama-sama menghadap Raja Sirao dan memohon agar mereka diizinkan pergi dari Kerajaan Teteholo Hamo.

“Ayahanda tercinta, kami malu atas kekalahan kami karena itu izinkanlah kami pergi meninggalkan istana. Atas kuasamu turunkanlah kami ke Tano Niha—Bumi,” pinta Hia Walangi Adu ketika menghadap Raja Sirao.

Raja Sirao sedih mendengar permintaan putra-putranya, tapi dia tak kuasa menolak permintaan itu.

“Putra-putraku, aku sangat menyayangi kalian. Tak pernah sekalipun tebersit dalam hatiku untuk mengusir kalian meskipun kalian kalah dalam sayembara yang aku adakan. Tetapi, karena kalian bersikeras, aku akan mengabulkannya. Aku akan menurunkan kalian ke Tano Niha—Bumi. Aku juga akan menurunkan bibit tanaman, hewan ternak, alat-alat musik, perhiasan dan senjata untuk kalian. Pergilah dan bangunlah kerajaan kalian di Bumi,” kata Raja Sirao sedih.

“Selamat jalan abang, terimalah hormat terakhir dariku. Aku akan menjaga Ayah dan Teteholi Hamo dengan baik,” ujarLuo Mewona sambil memeluk abangnya satu per satu.

Setibanya di Bumi, kedelapan putra Raja Sirao membangun kerajaannya masing-masing  dan berkembang menjadi Suku Nias di Pulau Nias, Sumatra Utara.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply