Author: Mum Mukholi Editor: Aan Wulandari Illustrator: Gilang Permadi Translator: Erna Fitrini Proofreader: Ratih Soe Origin: Sumatera Barat

Lindung Bulan, seorang perempuan yang cantik jelita. Dia dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan, Rambun Pamenan dan Reno Pinang. Atas kehendak Tuhan, suaminya meninggal. Lindung Bulan pun merawat sendiri anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu ketika, kecantikan Lindung Bulan sampai ke telinga Raja Angek Garang, penguasa Negeri Terusan Cermin, yang dikenal sebagai penguasa yang garang. Raja ingin memperistri Lindung Bulan. Diutuslah Palimo Tudang, hulubalang kerajaan, membawa Lindung Bulan ke istana.

Setibanya Palimo di rumah Lindung Bulan, “Ayo, ikut denganku Lindung Bulan. Raja ingin kau menjadi istrinya,” ucap Palimo Tudang.

“Tidak. Aku tak mau ikut. Aku tak ingin menikah lagi. Aku hanya ingin mengurus anak- anakku seorang diri,” mohon Lindung Bulan.

Palimo Tudang memaksa. Lindung Bulan tetap tak mau. Akhirnya, dia diculik dan dibawa ke istana.

Raja meminta dia untuk dijadikan istri. Lindung Bulan tetap tak mau. Dimasukkanlah Lindung Bulan ke penjara. Dia dikurung bertahun-tahun lamanya. Berpisah dengan anak-anaknya.

Tanpa asuhan orangtuanya, Rambun dan Reno pun tumbuh menjadi remaja. Suatu hari, Rambun pergi mencari Balam (BurungTekukur). Dia bertemu seorang pemburu bernama Alang Bengkeh. Setelah berbincang-bincang, Alang Bengkeh tahu bahwa Rambun adalah anak Lindung Bulan. Dia memberitahu Rambun, bahwa ibunya diculik  Raja Angek Garang.

Sesampainya di rumah, Rambun bercerita kepada kakaknya. “Kak, ternyata selama ini, Ibu ditawan oleh Raja Angek Garang.”

“Iya, Adikku. Kakak tahu. Namun, tak mungkin aku memberitahukanmu. Kau akan sangat bersedih,” terang Reno.

“Mulai saat ini aku akan berlatih bertarung. Akan kubawa Ibu pulang,” ucap Rambun dengan mantap.

Negeri Terusan Cermin berada di seberang hutan belantara. Namun, tak ada yang tahu di mana hutan belantara itu berada. Rambun masuk keluar hutan, tapi tak menemukan yang dia tuju. Dia kehabisan bekal makanan. Tak lama, dia tiba di sebuah ladang di tepihutan. Dia menumpang beristirahat. Rambun juga meminta izin kepada pemilik ladang, untuk ikut bekerja.

Rambun adalah pemuda yang rajin. Pemilik ladang kagum padanya. Ketika Rambun bercerita tentang tujuannya, pemilik ladang berkata, “Engkau salah arah, Anak Muda. Harusnya kautempuh hutan sebelah barat.”

Beberapa hari kemudian, Rambun pamit. Pemilik ladang memberinya sebuah tongkat yang bernama, Manau Sungsang.

Di pertengahan jalan, Rambun melihat seekor ular besar melilit seorang perimba. Rambun ingin menolongnya. Namun dia bingung, bagaimana caranya? Dia pun teringat tongkat Manau Sungsang. Dipukullah ular menggunakan tongkat itu.

“Terima kasih, wahai, Anak Muda. Dengan apa aku membalas kebaikanmu?” ucap si Perimba.

“Tolong tunjukkan, di mana Negeri Terusan Cermin berada?” jelas Rambun.

“Baiklah, kubawa kau ke sana.”

Wuussss … melesatlah si Perimba. Ternyata si Perimba mempunyai kesaktian. Dia mampu terbang, melesat seperti burung Garuda. Rambun diturunkan di tepi sebuah dusun.

Rambun sangat kelaparan, dia terus berjalan hingga tiba di sebuah lepau. Rambun tak punya uang membeli makanan. Akhirnya, dia bekerja dengan upah makanan dari lepau. Karena Rambun anak yang rajin, pemilik lepau pun menyukainya. Dia diberi baju baru, karena bajunya yang lama using dan robek.

Beberapa hari kemudian, Rambun berhenti bekerja. Dia pergi menuju Kerajaan Raja Angek Garang.

Setibanya di gerbang Kerajaan.

“Hai, siapa kamu?” seorang Hulubalang berteriak kepadanya.

“Aku, Rambun Pamenan. Aku dating hendak membebaskan ibuku, Lindung Bulan,” jawab Rambun.

“Hahaha… hai, Kawan-Kawan, anak kecil ini ingin menyelamatkan ibunya. Mau cari masalah dia.” Hulubalang berbicara kepada kawan-kawannya sambil terbahak-bahak.

Perkelahian pun terjadi. Rambun mulai kehabisan tenaga. Tiba-tiba, dia ingat akan tongkat saktinya. Bukk… bukk… dia pukulkan tongkat itu. Mereka lari kesakitan.

Palimo Tadung datang. Kembali Rambun berkelahi dengannya. Dia pukulkan tongkatnya. Palimo Tadung jatuh dan pingsan.

Perkelahian ini didengar oleh Raja Angek. Raja pun dating untuk menyerang Rambun. Entah mengapa, tongkat Rambun tak mempan memukul pedang Raja. Ketika Raja Angek mengangkat tinggi pedangnya, Rambun melompat dan memukul beberapa anggota tubuh Raja. Akhirnya Raja tak bergerak lagi.

Segera Rambun mencari Ibunya. Didapati, ibunya terikat rantai besi. Badan Lindung Bulan kurus, matanya cekung. Jauh berbeda dengan yang diceritakan kakaknya, bahwa ibunya sangat cantik.

Dia peluk Ibunya, “Ibu, ini aku, anakmu, Rambun Pamenan”.

“Anakku? Rambun Pamenan? Kau sudah besar, Nak,” Lindung Bulan menangis dan memeluk erat anaknya.

“Iya, Bu. Ayo kita pulang. Kakak sudah menunggu di rumah,” jawab Rambun.

Rambun pun akhirnya dapat berkumpul kembali dengan ibu dan kakaknya.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply