Author: Kinanti Khinan Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Jambi

Nama Rangkayo Hitam sangat terkenal di Kerajaaan Melayu Jambi. Dia adalah pemuda pemberani dan sakti. Dia mendapat julukan Rangkayo Hitam karena keturunan Raja yang berkulit hitam. Rangkayo Hitam memiliki kakak bernama Rangkayo Pingai.

Saat itu Kerajaaan Melayu Jambi dipimpin oleh sang kakak, Rangkayo Pingai. Setiap musim, Kerajaan Melayu Jambi diwajibkan menyerahkan upeti kepada Kerajaan Mataram. Pada waktu itu Kerajaan Melayu Jambi masih di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.

Rangkayo Hitam yang pemberani tidak setuju untuk memberi upeti. Suatu hari Rangkayo Hitam mencegat upeti yang akan dikirimkan ke Kerajaan Mataram.

“Tunggu! Jangan kirimkan upeti itu pada Kerajaan Mataram,” cegat Rangkayo Hitam dengan lantang.

“Tapi, ini sudah kewajiban kita, Rangkayo,” ujar salah seorang prajurit.

“Bagaimana kerajaan kita bisa makmur, jika selalu mengirim upeti pada Kerajaan Mataram. Mulai saat ini, jangan pernah tunduk dan mau diperbudak oleh kerajaan lain,” tegas Rangkayo Hitam.

Semua prajurit tertunduk dan diam.

“Lalu bagaimana dengan upeti ini?” tanya prajurit yang lainnya.

“Berikan pada penduduk yang miskin!” perintah Rangkayo Hitam.

Sejak saat itulah, Kerajaan Melayu Jambi mulai tidak tunduk pada kerajaan mana pun, termasuk pada Kerajaan Mataram.

Mengetahui pemberontakan yang dilakukan Kerajaan Melayu Jambi, Raja Mataram pun marah. Terlebih pemberontakan itu dipimpin oleh Rangkayo Hitam. Raja Mataram merencanakan penyerangan. Serangan itu disebut Pamalayu. Raja Mataram meminta seorang Empu membuat keris untuk bisa melawan Rangkayo Hitam. Berita itu terdengar oleh Rangkayo Hitam. Tanpa diketahui oleh siapa pun, berangkatlah Rangkayo Hitam menuju Kerajaan Mataram. Hingga akhirnya Rangkayo Hitam bertemu seorang Empu yang sedang menempa keris.

“Wahai Empu untuk siapa keris itu?” tanya Rangkayo Hitam.

“Aku sedang menempa keris untuk Raja Mataram. Beliau ingin mengalahkan Rangkayo Hitam dari Kerajaan Melayu Jambi,” jawab Sang Empu.

“Apakah keris itu sakti dan bisa mengalahkan Rangkayo Hitam?” tanya Rangkayo Hitam.

“Tentu saja bisa. Keris ini terbuat dari tujuh macam besi yang diawali huruf ‘p’. Kesaktiannya akan sempurna setelah dimandikan di tujuh muara,” jelas Sang Empu penuh percaya diri.

“Apakau kau tahu bagaimana rupa Rangkayo Hitam itu, Empu?” tanya Rangkayo Hitam.

Sang Empu menggeleng dan menatap pemuda yang berdiri di hadapannya. Tiba-tiba, Rangkayo Hitam melesat dengan cepat dan meraih keris sakti dari tangan Sang Empu.

“Akulah Rangkayo Hitam!” seru Rangkayo Hitam sambil mengeluarkan jurus saktinya.  Sang  Empu pun tak berkutik.

Setelah mendapatkan keris sakti, Rangkayo Hitam pulang ke Kerajaan Melayu Jambi. Dia segera menyiapkan pertempuran dengan Kerajaan Mataram. Tak lupa dia  menyempurnakan kesaktian keris tersebut ke tujuh muara.

Sejak kemenangannya dalam pertempuran, Rangkayo Hitam semakin disegani di seluruh kerajaannya dan di Kerajaan Mataram. Kerajaan Melayu Jambi terbebas dari kekuasaan kerajaan Mataram. Rakyat Kerajaan Melayu Jambi akhirnya hidup makmur berkat keberanian Rangkayo Hitam. Keris yang kini menjadi pusakanya selalu diletakkan di sanggul rambutnya. Sehingga orang-orang menyebutnya “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Keris itu pun disebut Keris Siginjai.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply