Author: Tethy Ezokanzo Editor: Aan Wulandari Illustrator: Agus Willy Christy Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Kalimantan Utara

“Tuhan, beri kami keturunan,” terdengar doa yang diselingi tangisan menyayat hati, di malam hari.

Suara siapakah gerangan?  Ternyata suara Ku Anyi, seorang lelaki gagah perkasa. Ia adalah kepala suku Puak Ma-Afan yang sangat disegani.

Puak Ma-Afan adalah suku Dayak Kayan yang hidup di tepi sungai Kayan. Puak Ma-Afan tergolong makmur. Tanah Kayan yang subur memberikan panen yang melimpah.

Ku Anyi hidup berkecukupan. Namun, harta tak memberikannya kebahagiaan, karena Ku Anyi belum juga dikarunai putra. Ia gelisah, siapa kelak yang akan meneruskan kepemimpinan jika ia sudah tiada?

“Tuhan, berilahkan kami putra untuk memimpin wilayah Kayan. Seorang putra yang dapat mensejahterakan suku Dayak. Tolong kabulkan doa kami, ya, Tuhan.”

Begitulah doa-doa yang tak putus dipanjatkan Ku Anyi dan istrinya.

Segala daya upaya telah ia coba. Seperti malam itu, Ku Anyi yang gagah tak malu menangis di depan Tuhan. Akankah doanya terkabul?

Suatu hari, Ku Anyi berburu ke hutan. Berburu adalah hobi Ku Anyi. Selain berolahraga dan menghilangkan penat, hasil buruannya dapat dinikmati keluarga dan kerabatnya. Ku Anyi dikenal lihai berburu. Hasil buruannya selalu banyak.

Namun hari itu, hingga menjelang sore, Ku Anyi tak berhasil menangkap satu hewan pun. “Aneh, pada ke mana hewan-hewan di hutan ini?” keluh Ku Anyi.

Ia lalu memutuskan pulang saja. Sebelum pulang, Ku Anyi membuka bekal makanan sambil duduk di sebatang pohon.

Ketika duduk, tiba-tiba…

Dug! Kakinya menyentuh sesuatu di balik semak.

“Apa ini?” Ku Anyi menyibak semak. Ia terperanjat melihat sebilah bambu dan sebutir telur tergeletak di sana. “Siapa yang meletakkan bambu dan telur di sini?”

Ku Anyi pun membawa pulang telur dan bambu tersebut.

“Bawa apa itu?” tanya istrinya.

Ku Anyi tertawa sambil mengacungkan bambu dan telur, “Hahaha… aku tak membawa daging hewan. Hanya telur dan bambu yang kudapat.”

“Mungkin hewan-hewan takut padamu. Belum mandi, sih,” istrinya ikut tertawa, “Eh, tapi, kok, bisa ada telur dan bambu di hutan?” tanya istrinya.

Ku Anyi mengangkat bahu, “Entahlah. Masa ada ayam bertelur di samping bambu? Aku juga heran.”

“Mhh, sudahlah  lumayan, tidak dapat daging tapi dapat telur. Bisa buat sarapan esok,” kata istrinya sambil meletakkan telur dan bambu di dapur.

Ku Anyi pun beranjak tidur dan melupakan telur dan bambu tersebut.  Malam itu hujan turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar. Rumah Ku Anyi berderak-derak ditiup angin kencang.

Tiba-tiba…

“Oeek… oeeek!”

Terdengar tangisan dari arah dapur.

Ku Anyi dan istrinya terperanjat. “Ada suara bayi!” jerit istrinya.

Mereka segera bangun dan berlari ke dapur, memburu asal suara. Benar saja dua bayi sedang menangis di dapur. Rupanya telur dan bambu menjelma menjadi dua orang bayi yang montok dan menggemaskan.
Ku Anyi dan istrinya sangat gembira. Sekarang mereka mempunyai anak dari telur dan bambu! Tidak hanya seorang anak, mereka langsung diberi sepasang.

Bayi laki-laki diberi nama Jau Iru, yang perempuan diberi nama Lamlam Suri.

Ku Anyi dan istrinya merawat kedua bayi mereka dengan baik. Sebagai kepala suku yang berkecukupan, ia memberi makanan bergizi dan pendidikan yang baik bagi kedua anaknya.

Jau Iru pun tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, pintar dan berwibawa seperti ayahnya. Begitu juga Lamlam Suri tumbuh menjadi gadis cantik jelita yang sangat terampil.

Ku Anyi pun beranjak tua, maka kepemimpinan Puak Ma-Afan diberikan kepada Jau Iru. Tak ketinggalan Lamlam Suri mendampingi kakaknya memimpin.

Di bawah kepemimpinan Jau Iru, suku dayak Kayan maju pesat. Wilayah kekuasaannya meluas. Perekonomian kuat dan masyarakatnya semakin tertata.

Hingga akhirnya keturunan dari Jau Iru bisa mendirikan kerajaan. Yakni Kesultanan Bulungan. Kata Bulungan diambil dari kata bulu tengon yang artinya bambu betulan.

Di persimpangan jalan Sengkawit dan Jalan Jelarai pun dibangun sebuah monumen untuk memperingati asal usul kerajaan Bulungan yakni monumen “Telur Pecah”.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply