Author: Wahyu Annisha Editor: Bambang Irwanto Illustrator: Catz Link Tristan Translator: Proofreader: Origin: Jawa Tengah

“Anakku Sewidak Loro sing ayu dhewe. Sesok gedhe dadi pendampinge pangeran
(Anakku Suwidak Loro yang paling cantik. Saat besar nanti kau akan jadi istrinya pangeran).”

Pada zaman dahulu kala di sebuah dusun terpencil di Jawa Tengah, setiap malam sayup-sayup terdengar seorang perempuan bersenandung. Senandung itu berasal dari rumah tua berdinding bambu yang terletak di ujung dusun, berbatasan dengan hutan.

Masyarakat enggan ke rumah itu jika tidak ada keperluan yang mendesak. Nyai Randa, sang pemilik rumah itu pun jarang bergaul dengan masyarakat setempat.

Di rumah itu, Nyai Randa tinggal bersama gadis semata wayangnya yang bernama Sewidak Loro. Gadis itu berbeda dari gadis lainnya. Rambutnya hanya berjumlah 60 (sewidak) helai dan giginya hanya dua (loro) buah. Parasnya pun sangat jauh dari cantik.

Walaupun Sewidak Loro tidak sempurna, namun Nyai Randa sangat sayang padanya. Setiap malam, Nyai Randa selalu bersenandung untuk Sewidak Loro. Bukan hanya sebagai pengantar tidur, senandung itu juga untuk membesarkan hati anaknya.

Suatu malam, seorang pria penduduk dusun mencari kambingnya yang belum pulang. Tanpa disadari, pria itu melewati rumah Nyai Randa. Terdengarlah senandung Nyai Randa. Pria itu menyimak lirik tembang Nyai Randa. Timbullah kecurigaan di hatinya.

“Yang benar saja, Nyai Randa! Anakmu itu kurang rambut dan hanya bergigi dua. Mana mungkin dia akan jadi istri pangeran,” bisik pria itu lalu bergegas ke Istana.

Mendengar laporan dari rakyatnya itu, Raja jadi penasaran, “Bagaimana rupa gadis yang berambut 60 helai dan bergigi dua? Saya belum pernah melihat gadis seperti itu.”

Raja segera menyuruh utusannya untuk menemui Nyai Randa. Raja menitahkan Sewidak Loro agar segera dibawa ke Istana.
“Apa? Anak kesayanganku mau dibawa pergi?” Nyai Randa kagetnya dengan kedatangan para utusan Raja yang tiba-tiba itu.

“Ini titah Raja. Rakyat harus mematuhinya!” ujar Sang Utusan.

“Baiklah. Namun saya punya satu syarat yang harus Raja penuhi sebelum membawa anakku ke Istana,” tawar Nyai Randa.

“Katakanlah, akan kami penuhi semua permintaanmu itu,” jawab Sang Utusan.

“Bawalah pakaian terindah, lengkap dengan perhiasannya, seperti yang biasa dikenakan para putri raja di istana. Bawalah juga perlengkapan merias serta tandu khusus untuk putri raja yang dipikul para hulubalang.”

Permintaan Nyai Randa dipenuhi. Namun karena jarak yang jauh dan keterbatasan transportasi pada masa itu, semua persyaratan baru tiba keesokan malamnya.

Malam itu Nyai Randa merias anaknya sambil terus bersenandung. Sewidak Loro tersenyum bahagia, ibunya menyanyikan lagu kesayangannya berulang-ulang kali.

“Suara Ibu indah sekali,” puji Sewidak Loro.

“Sewidak Loro anakku, ini bekal makanan yang sudah Ibu siapkan untukmu. Ingatlah pesan Ibu ini, jangan pernah kau keluar dari tandu jika bukan Sang Raja yang membuka tirainya,” ujar Nyai Randa sambil menatap anaknya lekat-lekat.

“Baik, Ibu. Ananda akan patuh dengan pesan Ibu,” jawab Sewidak Loro.

Nyai Randa melepas kepergian anaknya dengan hati pilu. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan putri kesayangannya itu.

Sewidak Loro yang berada di dalam tandu pun menangis sedih. Ini pertama kalinya ia berpisah dari ibunya.
Perjalanan yang panjang membuat para hulubalang dan utusan Raja kelelahan. Mereka beristirahat di bawah pohon rindang dekat mata air sebuah kali.

Di dalam tandu, Sewidak Loro merasa lapar. Ia teringat bekal yang diberikan ibunya. Perlahan-lahan dibukanya daun jati yang membungkus bekalnya itu. Merebaklah harum kelezatan masakan Sang Ibu.

Cling… cling…
Tiba-tiba cahaya gemerlapan muncul di hadapan Sewidak Loro. Gadis itu kaget bukan kepalang. Hampir saja makanan yang dipegangnya terjatuh.

“Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu jika kau mau memberikan makananmu itu untukku,” ujar sosok cantik itu.

“Tapi aku juga lapar!” tolak Sewidak Loro sambil menyembunyikan makanannya di belakang punggungnya.

“Kau boleh minta apa saja dariku, asalkan makananmu itu untukku,” bujuk sosok itu.

“Baiklah, kita tukaran saja. Kau boleh memiliki makananku ini asal kecantikanmu itu untukku,” tawar Sewidak Loro.

Sosok itu setuju. Seketika itu juga paras Sewidak Loro berubah. Makanan berbungkus daun jati itu pun berpindah tangan. Segera setelah itu sosok itu pun hilang entah ke mana.

Tandu Sewidak Loro pun akhirnya tiba di Istana. Sewidak Loro tak mau turun jika tirai tidak dibuka oleh Raja, sesuai dengan permintaan ibunya. Terpaksa Raja membuka tirai tandu disaksikan Pangeran dan Ratu. Betapa takjubnya mereka melihat paras Sewidak Loro yang cantik jelita, jauh berbeda dengan yang mereka duga.

Sewidak Loro lalu dinikahkan dengan Pangeran. Nyai Randa diundang dalam pesta meriah itu. Sebagai besan, Raja minta Nyai Randa tinggal di istana.

Sewidak Loro hidup bahagia bersama Pangeran di Istana. Ketika Nyai Randa memasuki masa tuanya, Sewidak Loro merawat ibunya dengan penuh kelembutan.

Cerita Rakyat Ini Ditulis ulang Oleh : Wahyu Annisha

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply