Author: Yosep Rustandi Editor: Triani Retno Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Dameria Damayanti Proofreader: Ratih Soe Origin: Jawa Barat

Nyai Bungsu Rarang hidup sebatang kara. Kedua orangtuanya sudah tiada. Dia tinggal di rumah warisan yang kecil dan sudah rusak. Atapnya banyak yang bocor. Dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu sudah bolong-bolong.

Nyai Bungsu Rarang mempunyai dua orang kakak. Kedua kakaknya hidup berkecukupan. Rumah mereka besar. Mereka mempunyai sawah, kebun, dan kolam. Tapi mereka tidak pernah merasa kasihan kepada adik mereka. Kalaupun mereka memanggil Nyai Bungsu Rarang, bukan untuk memberi makanan atau pakaian, melainkan meminta untuk melakukan pekerjaan rumah. Upahnya pun seringkali tidak pantas.

Suatu hari Nyai Bungsu Rarang mencari ikan di sawah. Dia mendapat seekor anak ikan mas. Anak ikan mas itu berwarna kuning keemasan. Entah mengapa, Nyai Bungsu Rarang tidak berani memasak anak ikan itu. Dia merasa kasihan. Akhirnya, anak ikan itu dimasukan ke kolam. Anak ikan mas itu sangat gembira. Dia berenang ke sana kemari.

Sejak mempunyai anak ikan mas itu, Nyai Bungsu Rarang semakin giat bekerja. Bila kakak-kakaknya menyuruh bekerja, upahnya selalu dibawa pulang. Sepiring nasi itu dibagi dua. Nyai Bungsu Rarang bergembira bisa makan bersama sahabatnya.

Anak ikan mas itu diberi nama Si Leungli. Bila Nyai Bungsu Rarang memberi makan, dia akan bersenandung,

Leungli… Leungli… cepat datang
Ini ada nasi matang
Meski tidak satu rantang
Tapi cukup bikin kenyang
Karena dibuat dengan rasa sayang

Seperti yang mengerti, Si Leungli keluar dari persembunyiannya. Dia berenang ke sana kemari, melompat-lompat. Begitu Nyai Bungsu Rarang menaburkan nasi, Si Leungli menyambutnya dengan salto. Nyai Bungsu Rarang tertawa melihatnya.

Setiap hari Si Leungli dikasih makan dan diajak bercanda. Tidak terasa badannya semakin besar memanjang. Sirip dan ekornya panjang-panjang. Warna kuning keemasannya semakin terang, seperti bercahaya. Indah sekali.

Kegembiraan Nyai Bungsu Rarang membuat kedua kakaknya curiga. Sekali waktu, mereka  mengikuti Nyai Bungsu Rarang.

“Sepertinya ikan itu yang membuat si Bungsu Rarang selalu gembira,” kata kakak pertamanya.

“Mestinya ikan itu kita ambil, Kak,” kata kakak keduanya.

Besoknya, Nyai Bungsu Rarang disuruh berbelanja ke kampung tetangga. Saat Nyai Bungsu Rarang pergi, kedua kakaknya menangkap Si Leungli. Mereka menggoreng dan memakan ikan itu. Setelah tinggal kepala dan durinya, ikan itu disimpan untuk diberikan kepada Nyai Bungsu Rarang.

Nyai Bungsu Rarang terkejut ketika dikasih upah nasi timbel dan ikan goreng yang tinggal kepala dan durinya. Hatinya bergetar. Entah mengapa, dia merasa sangat bersedih. Sambil berlari pulang airmatanya meleleh tak tertahan.

Ketika sampai di kolam belakang rumahnya, dia langsung bersenandung memanggil sahabatnya. Tapi Si Leungli tidak juga muncul. Nyai Bungsu Rarang sekarang yakin Si Leungli sudah tidak ada. Dia pun meratap dengan suara sedih.

“Duh… Leungli…
Hatiku sakit sekali
Aku sedih engkau mati
Tapi engkau selalu hidup di hati

Setelah itu, Nyai Bungsu Rarang mengubur kepala dan duri Si Leungli di halaman belakang.

Suatu hari Nyai Bungsu Rarang melihat ada sebatang pohon tumbuh di atas kuburan Si Leungli. Pohon kecil itu disiram oleh Nyi Bungsu Rarang. Maksudnya biar pohon itu merindangi kuburan Si Leungli. Setiap hari pohon itu bertambah tinggi dan lebat. Akhirnya, pohon itu berbuah. Anehnya, buah-buah itu berwarna kuning keemasan.

Sambil bernyanyi, Nyi Bungsu Rarang membersihkan kuburan Si Leungli.

Leungli… Leungli… pujaan hati
Tenanglah engkau di bumi
Engkau dan aku alamnya beda
Tapi kita sama-sama cinta

Selesai bernyanyi, buah-buahan itu berjatuhan. Nyai Bungsu Rarang memungutinya. Dia heran karena buah-buahan itu berat seperti logam. Dia membawa buah-buah emas itu ke kota untuk diperiksa di toko perhiasan. Ternyata itu adalah emas murni yang harganya sangat mahal.

Nyai Bungsu Rarang akhirnya menjadi kaya. Dia senang membantu tetangga, orang miskin, dan siapapun yang perlu dibantu.

Kedua kakaknya mendengar kabar kekayaan adik mereka. Mereka datang berkunjung dan menanyakan asal kekayaan adiknya. Tanpa curiga Nyai Bungsu Rarang menceritakannya.

“Adikku Sayang, karena kedua kakakmu ini sangat rindu kepadamu, izinkanlah kami menginap,” kata kakak pertamanya.

Malamnya, ketika Nyai Bungsu Rarang sudah terlelap, kedua kakaknya itu menyelinap ke kuburan Si Leungli. Mereka membawa wadah yang besar untuk buah emas. Lalu mereka menyanyi.

Selesai mereka menyanyi, banyak buah berjatuhan. Namun, bukan buah emas seperti biasanya. Buah yang berjatuhan seperti dilemparkan itu adalah buah-buah berduri. Kedua kakak Nyai Bungsu Rarang menjerit-jerit. Buah-buahan berduri itu melukai kepala, dahi, leher, dan punggung mereka. Luka-luka itu terasa perih. Mereka pulang tanpa pamit karena malu dengan kelakuan mereka.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply