Author: Fitri Restiana Editor: Tethy Ezokanzo Illustrator: Maman Mantox & Rizky Adeliasari Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin:

“Tolooong! tolooong! Aminah hilang….Aminah hilang!”

Masyarakat Tulang Bawang digegerkan oleh teriakan sepasang suami istri yang kalut dan berlari kesana kemari.

“Tenang, Pak, Bu. Ceritakan apa yang terjadi,” Pak Kepala Kampung menghampiri dan mencoba menenangkan mereka.

Kedua orangtua itu pun bercerita bahwa Aminah, anak perempuan mereka satu-satunya hilang di sungai Tulang Bawang. Ada yang melihat dia didorong oleh seekor buaya.

“Tolonglah, Pak, selamatkan anak kami. Hu.. hu.. hu,” Ibu Aminah memohon sambil terisak.

Dengan sigap, Pak Kepala kampung langsung membagi kelompok dan menginstruksikan agar para pemuda dan lelaki yang masih gagah berpencar untuk mencari Aminah. Tentu saja mereka bersedia, apalagi ini bukan kejadian yang pertama kali. Sudah banyak korban yang hilang di sungai Tulang bawang dan tak ada yang pernah ditemukan.

Di manakah Aminah? Kita lihat tempat yang lain. Tampak sesosok tubuh tergolek lunglai di sebuah gua. Ya, dia lah Aminah.

“Ah, dimana aku? Umi? Buya?” Aminah menyibakkan rambut panjangnya. Bajunya basah kuyup dan sangat kotor. Dia pun melangkahkan kakinya dengan tertatih, semakin masuk ke dalam gua.

“A..apa ini?” Aminah terkejut. Dia mengambil obor yang tergantung di dinding gua. Tepat di depannya, dia melihat bertumpuk perhiasan dan berkotak-kotak batu mulia. Lalu di bagian pojok, ada lemari kayu dengan pintu yang terbuka. Isinya beraneka warna jubah yang berkilauan. Dia hanya bisa melongo dan terkagum-kagum. Dia sampai lupa dengan alasan mengapa dia ada dalam gua.

Tiba-tiba, “Hahahaaa, kau pasti belum pernah melihat semua ini, bukan?” Terdengar suara yang menggema dan menyeramkan.

“Ssii..siapa kau?” Samar-samar, sesosok tubuh mendekati tempat perhiasan yang bertaburan itu. Seekor buaya!

“Haahh! Bu-buaya… Si-siluman buaya… Tolooong… Tolooong!” Hampir saja Aminah pingsan kalau buaya itu tidak segera menyahut.

“Tenanglah, gadis cantik. Engkau tak usah takut. Aku tak akan memakanmu!” Suara buaya itu tidak sekeras tadi, “Duduklah engkau  dan dengarkan aku!”

Bagai dicucuk hidung, Aminah menurutinya walau masih dengan perasaan takut.”Sebenarnya aku adalah manusia. Namaku Somad. Aku dikutuk menjadi buaya karena keserakahanku mengambil harta para saudagar kaya yang melewati sungai Tulang Bawang! Inilah seluruh hasil kerjaku, whuahahahaha….”

Aminah sampai bergidik mendengar suara buaya itu.

“Tapi, untuk apa harta sebanyak ini? Sementara engkau menjadi buaya?” Aminah memberanikan diri bertanya.

“Gadis pintar! Tidak selamanya aku menjadi buaya. Setiap bulan purnama dan musim panen tiba, aku berubah ke wujudku semula: Seorang lelaki gagah, sang perompak ulung!

Aku membuat terowongan menuju desa, sehingga bisa bersenang-senang dan membeli apa saja yang kumau, huahahaha!” kali ini Aminah sudah tak merasakan takut lagi. Dia sedang mencermati ucapan si buaya.

“Engkau harus mau tinggal di sini bersamaku!” Buaya itu mendekati Aminah yang sudah berdiri tegak.

“Manalah bisa, buaya yang bijak? Kasihan orangtuaku. Mereka sudah tua,” bujuk Aminah.

“Jangan banyak alasan! Kau harus tinggal bersamaku! Kau akan merasakan nikmatnya hidup bergelimpangan harta! Kalau tak mau, maka engkau akan ku makan seperti yang lainnnya! Gggrrrrr!” buaya itu nampak marah sekali. Giginya yang besar seperti hendak menerkam Aminah.

“Ba… baiklah buaya. Aku akan tinggal di sini”

Semenjak itu, Aminah tinggal di dalam gua. Buaya memanjakannya dengan memberikan aneka baju mewah dan perhiasan indah. Karena Aminah sepertinya tenang dan nyaman, buaya jadi lengah. Suatu saat, buaya tertidur nyenyak dan lupa menutup terowongan dengan manteranya.

“Ini kesempatan emas. Musim panen sebentar lagi tiba. Aku harus bisa keluar sebelum dia berubah menjadi manusia,” pikir Aminah.

Maka dengan melepas sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya, Aminah berjingkat melewati terowongan yang cukup panjang. Dalam perjalanan, dia tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan agar bisa keluar dan selamat.

Ketika hendak sampai di ujung terowongan, terdengar suara buaya yang berteriak keras. Oh, tidak! Buaya itu mengejar Aminah dengan tenaga yang luar biasa! Aminah berlari dan terus berlari.

“Pengkhianaaat! Akan ku makan kau!” Buaya mengamuk sejadinya. Untunglah Aminah sudah berada di luar terowongan di tengah hutan. Tapi, dia bingung hendak ke arah mana. Buaya itu semakin mendekat!

Untunglah ada seorang pemuda pemburu menolongnya. Ia mengarahkan anak panah ke arah buaya. Aminah pun selamat dan pulang ke rumahnya.

Aminah memberi tahu gudang harta milik buaya. Penduduk kampung pun mengambil harta tersebut untuk membangun desa mereka. Berkat kecerdikan Aminah, sekarang masyarakat hidup makmur, tentram dan damai.

***

 

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply