Author: Filumena Valensia Editor: Herlina Sitorus Illustrator: Maman Mantox & Purwa Gustira Translator: Ratih Soe Proofreader: Dameria Damayanti Origin: Sumatera Selatan

Ini kisah dari Dusun Ulak Lebar, sebuah desa kecil di tepian Sungai Kelingi, anak Sungai Batanghari Sembilan di Sumatra Selatan. Ada seorang raja yang memerintah di sana. Raja Biku, demikianlah namanya. Permaisurinya bernama Putri Selendang Kuning.

Sayangnya, setelah sepuluh tahun menikah, Raja dan Permaisuri belum dikaruniai keturunan. Raja Biku memohon pertolongan dari Dewa Mantra Sakti Tujuh yang turun di Puncak Bukit Rimbo Tenang. Ia menyuruh Raja untuk bertapa dan mengembarakan jiwa guna mencari kembang tanjung berkelopak enam.

Setelah raja mendapatkan kembang itu, Sakti Tujuh menyuruhnya membuat ramuan.

“Gunakanlah air ramuan itu untuk mandi, dan sebagian lagi untuk diminum permaisuri. Engkau akan mendapatkan enam orang anak sesuai dengan jumlah kelopak bunga ini,” kata Sakti Tujuh.

“Terima kasih Dewa,” ujar raja Biku gembira.

“Tapi, ingatlah satu hal. Semua akan kembali ke asalnya, pada waktu yang telah ditentukan,” tegas Sakti Tujuh.

Raja dan permaisuri melakukan semua yang diperintahkan dewa. Tak lama kemudian, permaisuri hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Sebudur.

Sebudur tumbuh menjadi anak yang cakap dan kuat. Dia memiliki lima orang adik perempuan, yaitu Dayang Torek, Dayang Deruja, Dayang Deruji, Dayang Ayu, dan Ireng Manis.

Seiring waktu, Sebudur dan adik-adiknya menjadi dewasa. Mereka terkenal akan kebaikan budi dan wajahnya, terutama Dayang Torek. Kabar kecantikannya tersebar sampai ke negeri yang jauh.

Suatu hari, Raja Biku hendak pergi ke negeri Cina. Dia berpesan pada Sebudur,

“Anakku Sebudur, jagalah ibu dan adik-adikmu selama aku berada di Negeri Cina. Bila dalam masa yang aku janjikan, aku belum pulang juga, berarti telah terjadi sesuatu padaku. Tak perlulah engkau menyusul. Tinggallah di sini dan gantikanlah ayahmu ini sebagai raja yang baru.”

Maka berangkatlah Raja Biku dengan sebuah kapal. Saat melewati Laut Cina Selatan, kapal itu diterjang badai besar dan tenggelam ke lautan yang gelap dan dingin.

Setelah lama menanti kepulangan raja, Sebudur melupakan amanat ayahnya dan pergi menyusul ke negeri Cina. Namun, betapa sedihnya dia saat mengetahui kapal ayahnya telah tenggelam.

Sementara Sebudur berada di negeri Cina, datanglah utusan dari Pangeran Palembang ke Dusun Ulak Lebar.  Pangeran mendengar kabar kecantikan Dayang Torek dan bermaksud meminang tuan puteri. Tetapi, permaisuri Selendang Kuning menolak karena ingin meminta persetujuan dari Sebudur terlebih dahulu.

Karena sakit hati, kedua utusan itu menculik Putri dan dibawa ke Palembang. Sebudur sangat marah ketika dia pulang dan mengetahui bahwa seorang adiknya telah diculik. Sebudur segera menyusul ke Palembang. Dengan kesaktiannya, dia dapat menembus penjagaan pengawal tanpa susah-payah.

Alangkah terkejutnya Sebudur ketika dia mendapati Dayang Torek telah memiliki seorang bayi laki-laki dari suaminya.

“Dik, ayo kita pulang ke Kerajaan kita. Tinggalkan saja bayimu,”  Sebudur membujuk Dayang Torek.

“Tidak, Kak. Mana mungkin seorang ibu bersedia meninggalkan anaknya!” tegas Dayang Torek

“Baiklah, kita bawa anakmu ke Ulak Lebar,” ajak Sebudur.

Dayang Torek setuju. Mereka berdua akhirnya berhasil melarikan diri. Saat sudah dekat di dusun Ulak Lebar, kuda-kuda yang mereka tunggangi pun kelelahan. Ketika kuda-kuda itu berusaha menyeberangi sungai, terjatuhlah bayi Dayang Torek dari dekapan Sebudur. Alangkah malangnya, sang bayi terhanyut dan tenggelam.

Dayang Torek terus menangis karena kehilangan anaknya. Dia marah dan menolak berbicara sepatah kata pun pada Sebudur yang dianggapnya tidak sungguh-sungguh menjaga anaknya.

“Maafkan aku, Dayang Torek. Walaupun engkau marah dan membenci aku, tapi marilah kita pulang dan temui Ibu dan adik-adik. Mereka pasti sudah menunggu kita,” ujar Sebudur.

“Tidak. Lebih baik Kakak pulang tanpa aku!” Dayang Torek pergi meninggalkan kakaknya. Dia menghilang ke Bukit Rimbo Tenang.

“Adik Dayang Torek!” Sebudur memanggil adiknya dengan putus asa. Namun, sekeras apa pun dia mencari, Dayang Torek tak pernah kembali. Saat itulah muncul Sakti Tujuh yang memberi tahu Sebudur tentang Kembang Tanjung dan kelahiran mereka.

“Raja Biku dan Dayang Torek telah menepati janji untuk kembali ke asal. Pada gilirannya, adik-adikmu yang lain, ibumu, dan engkau sendiri akan menghilang juga,” kata Sakti Tujuh.

Sebudur kembali ke Ulak Lebar sendirian. Benarlah apa yang dikatakan Sakti Tujuh. Ibunya dan adik-adiknya semua menghilang satu per satu. Begitu pula dengan Sebudur, akhirnya dia pun menghilang dari kehidupan.

Semua kembali ke asal. Semua hilang, silam seperti peri. Silampari. Sejak saat itu, Dusun Ulak Lebar, dusun-dusun lain di sekitarnya, dan Lubuk Linggau sebagai pusat kotanya, dikenal sebagai Bumi Silampari.

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply