Author: Intan Daswan Editor: Aan Wulandari Illustrator: Rita Agustina & Susy Suzanna Translator: Diah Dwi Arti Proofreader: Ratih Soe Origin: Jawa Barat

“Nyai, tolong kami. Kami belum makan dari kemarin,” pinta seorang ibu sambil menggendong anaknya.

Nyai Endit mencibir wanita itu lalu masuk rumahnya. Ia membiarkan wanita itu tetao berdiri sambil terus memanggil namanya.

“Enak saja dia minta uangku,” gerutu Nyai Endit sambil duduk di kursi kesayangannya.

Nyai Endit memilih untuk menikmati apel sambil sesekali bersenandung. Ia pura-pura tidak mendengar suara tangis anak kecil yang digendong wanita tadi. Ia malah tertidur karena sudah menghabiskan hampir dua buah apel.

“Nyai! Nyai Endit! Tolong saya!” terdengar teriakan seorang kakek di luar rumah.

Nyai Endit terbangun oleh suara tersebut. Sisa apel yang sejak tadi berada di tangannya terjatuh. Ia melangkah keluar rumah.

“Mau apa kau datang ke rumahku, hai, Pak Tua?” tanya Nyai Endit sambil berkacak pinggang.

Nyai Endit juga mengerutkan keningnya, ternyata yang datang tidak hanya Pak Tua itu saja. Ada beberapa warga yang mendatangi rumahnya.

“Eh? Kalian mau apa datang ke rumahku? Mau pinjamuang?” Nyai Endit menatap satu persatu warga yang mendatangi rumahnya.

Sebagian warga menunduk. Mereka takut mendengar suara keras Nyai Endit. Pak Tua yang berdiri di barisan paling depan memberanikan diri maju beberapa langkah mendekati Nyai Endit.

“Nyai Endit yang kami hormati, maukah Nyai menolong kami,” ujar Pak Tua. “Kami semua sedang kesulitan air, Nyai,” lanjutnya.

“Tanpa perlu mendengardarikalian, aku juga sudah tahu kalau di kampung ini sedang kesulitan air’” jawab Nyai Endit sambilberkacak pinggang.

“Jadi, maukah Nyai menolong kami? Bolehkah kami mengambil air dari sumur Nyai?” tanya Pak Tua penuh harap.

Nyai Endit menatap tajam ke arah Pak Tua, “Heh! Pak Tua! Lancang sekali kamu mau minta air dari sumurku!” bentak Nyai Endit.

“Nyai, apa Nyai tidak kasihan kepada kami. Kami harus mengambil air dari sungai yang sangat jauh dari kampung ini,” seorang warga memelas.

“Hei, bukan urusanku kalau kalian harus mengambil air sampai ke ujung dunia juga,” ujar Nyai Endit.

Beberapa warga mengelus dada mendengar ucapan Nyai Endit. Mereka tidak ingin meminta belas kasihan lagi kepada Nyai Endit. Mereka pun meninggalkan pekarangan rumah Nyai Endit dengan kecewa.

“Dasar orang pelit,” gerutu salah satu warga sambil berjalan keluar dari halaman rumah Nyai Endit.

“Ya, masa Cuma minta air, nggak dikasih,” timpal warga yang lainnya.

“Sudah, sudahlah.Tak ada untungnya mengeluh. Orang pelit pasti akan dapat akibatnya’” ujar warga yang lainnya.

Kebanyakan warga masih menggerutu dengan sikap Nyai Endit. Kekayaan Nyai Endit yang sangat banyak tidak pernah dipergunakan untuk membantu orang yang kesulitan. Tidak hanya itu, ucapan Nyai Endit sering kali membuat warga sakit hati.

“Aku mau kembali ke rumah Nyai Endit,” ujar Pak Tua sambil berbalik arah.

“Sudahlah, Pak, lebih baik kita mengambil air di sungai saja. Aku yakin wanita itu tidak akan mengizinkan kita mengambil air di sumurnya,” seorang lelaki lain yang lebih tua darinya mencoba melarang Pak Tua.

“Aku akan coba sekali lagi,” ucap Pak Tua sambil berbalik arah.

Tanpa menghiraukan perkataan warga yang lain, Pak Tua segera menuju rumah Nyai Endit. Ia kasihan kepada semua warga yang harus bersusah payah ke sungai.

“Nyai!” panggil Pak Tua.

Nyai Endit yang sedang asyik menghitung emas miliknya, terperanjat mendengar suara yang sudah ia kenal. Nyai Endit segera menyimpan peti perhiasannya, lalu keluar rumah.

“Hei, mau apa lagi kau, Pak Tua?” tanya Nyai Endit sambil mengipas-ngipaskan kipas bulu angsa.

“Nyai Endit, apa Nyai tidak kasihan kepada warga kampung ini?” tanya pak Tua.

“Pak Tua, kasih tahu semua warga, ini kekayaan milikku, hasil kerja kerasku,” jelas Nyai Endit. “Jadi, terserah aku, kalau aku mau beri air atau tidak,” lanjutnya.

Nyai Endit masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia membiarkan Pak Tua berdiri mematung di dekat rumahnya.

Pak Tua menarik napas panjang. Melihat kekukuhan Nyai Endit, ia pun tak bisa berbuat banyak lagi. Pak Tua pergi dari rumah Nyai Endit, meninggalkan tongkatnya yang tertancap di halaman rumah Nyai Endit.

Selepas Pak Tua pergi, Nyai Endit melangkah ke halaman rumahnya untuk membuang tongkat Pak Tua yang masih tertancap.  Tiba-tiba, air keluar dari lubang tongkat Pak Tua. Air itu lama-kelamaan bertambah dan terus bertambah. Sedikit demi sedikit rumah Nyai Endit terendam.

Nyai Endit berteriak minta tolong. Namun, tidak ada satupun warga yang datang menolong. Akhirnya Nyai Endit dan kekayaannya terendam dalam air yang semakin tinggi. Kini, daerah itu dikenal dengan sebutan ‘Situ Bangendit’.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

One Response so far.

  1. Alex Hasan mengatakan:

    Salah satu objek wisata yang mutah di kota Garut. Indah, jika saja dikelola dengan lebih baik lagi.

Leave a Reply