Author: Dian Sukma Kuswardhani Editor: Triani Retno Illustrator: Paulus Hutabarat Translator: Sari Nursita Proofreader: Ratih Soe Origin: Sulawesi Utara

“Sungguh kau siap?” tanya Tonaas Utara pada putri semata wayangnya.

“Demi rakyat kita, aku siap,” jawab Marimbouw mantap.

Mata sang ibu berkaca-kaca menatap putrinya.

Opo Empung, tetua adat To Un Rano Utara, memimpin upacara pengambilan sumpah Marimbouw. Seluruh rakyat To Un Rano Utara ikut datang menyaksikannya.

“Aku bersumpah tidak akan menikah sebelum siap diangkat menjadi Tonaas To Un Rano Utara,” begitu bunyi sumpah Marimbouw.

Bagi masyarakat To Un Rano, sumpah adat adalah sumpah tertinggi. Bila orang yang bersumpah melanggar sumpahnya sendiri, yang menjadi hakim bukan rakyat ataupun tetua adat, melainkan alam semesta.

Tonaas Utara terpaksa meminta Marimbouw melakukan sumpah adat. Semua itu dilakukan untuk menjaga agar To Un Rano Utara memiliki penerus takhta. Apalagi Tonaas Utara hanya memiliki seorang anak, perempuan pula.

Sejak hari itu, Marimbouw menanggalkan pakaian wanitanya. Ia berpakaian layaknya laki-laki. Ia juga berlatih bela diri dan menggunakan senjata. Marimbouw sangat mahir memanah.

Suatu hari, Marimbouw pergi ke hutan sendirian. Ia sudah lama berburu tapi belum juga mendapatkan buruan seekor pun.

Kresssk!

Marimbouw mendengar langkah kaki rusa. Ia segera menarik busurnya. Anak panahnya tepat mengenai kaki rusa. Saat Marimbouw mendekat dan menghampiri rusa yang terjatuh, sebuah tombak melesat ke arahnya. Untungnya ia berhasil menghindar.

“Berhenti! Siapa kau?” seorang pemuda muncul, lalu mencabut tombak yang tertancap di batang pohon. “Kau bukan orang To Un Rano Selatan, kan? Kau pasti mata-mata!” tuduhnya.

Marimbouw terkejut. Ia tak menyadari telah melewati sungai kecil yang menjadi batas wilayahnya.

To Un Rano terletak di lereng sebuah gunung yang tinggi. Wilayah itu dibagi menjadi dua. To Un Rano Utara dipimpin oleh Tonaas Utara dan To Un Rano Selatan dipimpin oleh Tonaas Selatan. Sudah sejak lama mereka terikat aturan adat untuk tidak melewati batas, baik untuk berburu ataupun bermukim. Kini, Marimbouw sudah melanggarnya.

“Maaf, aku tak sengaja. Aku tadi sedang mengejar rusa buruanku ini,” balas Marimbouw.

Si pemuda tak percaya ucapan Marimbouw. Ia menghunus tombaknya. Keduanya berkelahi. Marimbouw kalah gesit. Tombak pemuda itu mengenai pelipisnya dan membuat penutup kepalanya terlepas. Rambut panjang Marimbouw tergerai. Pemuda itu menghentikan serangannya.

“Kau perempuan?” tanyanya agak terkejut. “Aku tak bertarung dengan perempuan!”

Marimbouw ingin segera pergi tapi ia kelelahan. Ia duduk di bawah pohon sambil mengatur napas.

“Sebenarnya kau siapa?” tanya si pemuda. Nada bicaranya sedikit melunak.

“Aku Marimbouw. Kau?”

“Aku Maharimbouw.” Pemuda itu ternyata anak lelaki Tonaas Selatan. Dialah putra mahkota To Un Rano Selatan.

Alih-alih bermusuhan, keduanya justru menjadi sahabat. Maharimbouw mengizinkan Marimbouw berburu hingga ke wilayah Selatan. Begitu juga sebaliknya.

Marimbouw mengajari Maharimbouw memanah. Sebaliknya, Maharimbouw mengajari Marimbouw menggunakan tombak. Mereka bahkan sering pergi berburu bersama.

Sebenarnya, saat mengetahui Marimbouw seorang perempuan, Maharimbouw tertarik padanya. Kini, setelah mereka bersahabat, Maharimbouw semakin yakin kalau Marimbouw adalah gadis yang baik. Ia ingin meminang Marimbouw.

“Tidak bisa, Maharimbouw. Aku terikat sumpah pada rakyat dan tetuaku,” Marimbouw menolak pinangan Maharimbouw, padahal sebenarnya ia juga jatuh hati pada pemuda itu.

Maharimbouw bersabar. Ia menanti datangnya kesempatan lain. Ia juga tak menyerah membujuk Marimbouw agar mau menikah dengannya.

“Marimbouw, kita bisa menikah diam-diam. Jika kita menikah, kelak kita bisa menyatukan To Un Rano. Rakyat kita akan lebih sejahtera,” bujuk Maharimbouw.

Marimbouw terus memikirkan tawaran Maharimbouw. Akhirnya, ia bersedia menerima pinangan Maharimbouw. Ia juga setuju untuk menikah tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

Upacara pernikahan pun digelar. Namun, tak lama setelah keduanya mengucapkan ikrar pernikahan, tanah yang mereka pijak berguncang. Sumpah tetaplah sumpah. Meskipun menikah secara diam-diam, Marimbouw telah melanggar sumpahnya.

Gunung tinggi yang mereka diami meletus. Letusannya memuntahkan lahar panas dan batu-batu besar. Puncak gunung tersebut amblas membentuk cekungan. Air bah datang menyapu wilayah itu, termasuk kampung Marimbouw. Cekungan besar dari letusan gunung terisi air dan menjadi danau yang sangat luas.

Danau yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara tersebut kini dikenal dengan nama Danau Tondano yang berasal dari To Un Rano.

***

This post is also available in English.

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply