Author: Zahratul Wahdati Editor: Illustrator: Gilang Permadi Translator: Proofreader: Origin: Pemalang, Jawa Tengah

Pagi itu, seorang tumenggung datang menemui Adipati Pangeran Benowo. Tumenggung adalah sebutan kepala daerah pada zaman dahulu. Sedangkan adipati artinya adalah raja muda.
“Adipati, penduduk Dusun Kebondalem sedang dalam masalah,” kata Tumenggung dengan wajah panik.
“Ceritakanlah, apa masalahnya?” tanya Adipati Pangeran Benowo khawatir. Soalnya, dia baru dua hari lalu menjadi raja Kadipaten Pemalang menggantikan ayahnya. Dia belum sempat mengunjungi dusun-dusun di Kadipaten Pemalang, Jawa Tengah.
“Hujan lebat terus turun minggu-minggu ini. Membuat Sungai Srengseng di Dusun Kebondalem meluap. Karena itulah, para pedagang dan pembeli dari daerah seberang tidak berani menyeberang. Mereka takut terbawa arus sungai, Adipati.” cerita Tumenggung.
“Kegiatan jual-beli pasti tidak lancar karena penduduk dusun seberang tidak berani menyebrang?”
“Iya, Adipati.”
Adipati Pangeran Benowo berpikir sejenak. Kemudian meminta pengawalnya untuk memanggil Patih Dwinegoro. Patih Dwinegoro adalah patih yang sangat sakti.
Patih Dwinegoro datang dan membungkuk memberi hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Adipati?”
“Aku memerintahkanmu untuk membuat jembatan di Sungai Srengseng di Dusun Kebondalem. Apa kamu sanggup, Patih Dwinegoro.”
“Sanggup, Adipati.” Patih Dwinegoro lalu pamit pergi untuk mengerjakan perintah Adipati Pangeran Benowo untuk membuat jembatan.
Tak lama kemudian, Patih Dwinegoro datang kembali. Dia melapor, “Jembatannya, sampun jadi, Adipati.” Sampun berasal dari bahasa jawa, maknanya sudah.
Adipati Pangeran Benowo dan Tumenggung tidak percaya. Tidak mungkin membuat jembatan secepat itu. Adipati merasa Patih Dwinegoro berbohong. Patih Dwinegoro pasti tidak mengerjakan tugasnya.
“Apa ada jembatan lagi yang perlu dibuat, Tumenggung? Di dusun lain, mungkin?” tanya Adipati Pangeran Benowo.
“Di Dusun Petarukan juga membutuhkan jembatan untuk menyeberangi Sungai Banger, Adipati.”
“Bagus, bagaimana Patih Dwinegoro, apa kau sanggup membuatnya?” tanya Adipati Pangeran Benowo.
Patih Dwinegoro menyanggupi. Tak lama setelah dia pergi, Patih Dwinegoro menghadap Adipati Pangeran Benowo kembali. Dia kembali melapor, “Jembatan di atas Sungai Banger sampun jadi, Adipati.”
Adipati Pangeran Benowo tersinggung oleh sikap Patih Dwinegoro. “Aku tidak percaya. Kau pasti berbohong, Patih. Tidak mungkin secepat itu kau membuat jembatan. Apa kau tidak mau bertanggung jawab dengan tugasmu?”
“Saya tidak berbohong, Adipati. Kedua jembatan sampun jadi. Jika Adipati tidak percaya, Adipati bisa melihatnya sendiri,” kata Patih Dwinegoro dengan sopan.
Adipati Pangeran Benowo akhirnya pergi ke Dusun Kebondalem ditemani Tumenggung. Dia ingin membuktikan perkataan Patih Dwinegoro. Ternyata, perkataan Patih Dwinegoro benar. Jembatan di atas Sungai Srengseng sudah jadi. Para penjual dan pembeli dari dusun seberang berlalu-lalang melewati jembatan itu.
Adipati Pangeran Benowo kemudian pergi ke Dusun Petarukan. Lagi-lagi, perkataan Patih Dwinegoro benar. Jembatan di atas Sungai Banger sudah selesai dibangun dengan kokoh.
Adipati Pangeran Benowo menepuk-nepuk punggung Patih Dwinegoro. Dia mengakui kesaktian patihnya itu.
“Patih, sungai di Kadipaten Pemalang masih banyak yang belum memiliki jembatan. Apa kau mau kutugaskan membangunnya?”
Patih Dwinegoro mengangguk. “Sungai mana yang harus saya buatkan jembatan?”
“Sungai Plawan di Bojongkelor.”
Seperti tebakan Adipati Pangeran Benowo, tidak lama setelah patih pergi, patih datang kembali dan melapor, “Sampun jadi jembatannya, Adipati.”
Adipati Pangeran Benowo terus memberikan perintah. Agar Patih Dwinegoro membangun jembatan di sungai-sungai di Kadipaten Pemalang. Setiap kali selesai membangun jembatan, Patih Dwinegoro selalu melapor, “Sampun jadi jembatannya, Adipati.”
Adipati Pangeran Benowo tersenyum. Dia sangat mempercayai perkataan patihnya itu.
***
Suatu malam, Adipati Pangeran Benowo mengadakan pesta meriah. Dia merayakan keberhasilan Patih Dwinegoro membangun jembatan di sungai-sungai di Kadipaten Pemalang. Semua tumenggung, pengawal, dan rakyatnya diundang.
Di tengah acara, dia memanggil Patih Dwinegoro. Semua hadirin diam, memerhatikan.
“Aku, Adipati Pangeran Benowo mewakili rakyat, mengucapkan terima kasih kepada Patih Dwinegoro. Dia telah bertanggung jawab menyelesaikan tugas membangun jembatan di Kadipaten Pemalang,” kata Adipati Pangeran Benowo. “Karena kamu selalu berkata sampun, aku memberikanmu gelar Patih Sampun. Patih yang sangat bertangung jawab.”
Tepuk tangan terdengar bersaut-sautan. Begitulah, Patih Dwinegoro memiliki gelar istimewa, yaitu Patih Sampun. Patih yang sangat bertanggung jawab dengan tugasnya.
-selesai-

Share this on...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply